Keragaman karya seni rupa kembali mewarnai ruang pameran Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, melalui penyelenggaraan Pameran Paradocs 2025 yang dibuka pada 26 November dan berlangsung hingga 1 Desember 2025 di Galeri Oesman Effendi. Pameran tahunan yang memasuki edisi keduanya ini menampilkan puluhan karya dari seniman lintas angkatan, mulai dari perupa berpengalaman hingga talenta muda yang baru memulai perjalanan seni mereka.
Paradocs 2025 menghadirkan kekuatan visual yang beragam, menampilkan interpretasi para seniman terhadap tema yang telah ditentukan. Pada edisi kali ini, tema kota menjadi salah satu sorotan yang tampak jelas dalam karya-karya yang dipamerkan, memberi gambaran luas tentang dinamika urban melalui berbagai sudut pandang artistik. Keragaman tersebut menghadirkan suasana pameran yang hidup dan memperkaya pengalaman pengunjung.
Selain pameran utama, Paradocs juga menyelenggarakan rangkaian program pendamping berupa workshop cetak grafis dan seni patung kawat yang digelar pada 29 November, serta diskusi seni pada 30 November 2025. Program-program ini diharapkan dapat memperluas wawasan publik sekaligus mempertemukan berbagai generasi dalam ekosistem seni rupa Indonesia.
Kurator pameran, Firman Lie, menjelaskan bahwa tema Paradocs tahun ini adalah Run Wild, yang dimaknai sebagai dorongan untuk membiarkan gagasan tumbuh liar melampaui batas-batas yang mapan. “Tema ini bukan sekadar ajakan melanggar batas, tetapi upaya menemukan kembali denyut hidup dalam proses penciptaan,” ujarnya.
Dalam tulisan kuratorialnya, Firman menegaskan bahwa keluwesan justru dapat membuka ruang ekspresi yang lebih jujur. “Seni kadang harus tumbuh liar agar kita kembali menemukan makna kemanusiaan yang paling jujur,” tulisnya.





