Pasar seni dan kriya global mencatat pertumbuhan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Nilai pasar diperkirakan meningkat dari US$44,47 miliar pada 2024 menjadi US$47,35 miliar pada 2025, dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) 6,5%. Pertumbuhan historis ini dipicu meningkatnya permintaan produk ramah lingkungan, perayaan keberagaman budaya, tren pemberian hadiah personal, maraknya lokakarya keterampilan, serta tingginya minat konsumen terhadap produk yang dapat dipersonalisasi.
Dalam rilis researchandmarkets.com, proyeksi hingga lima tahun ke depan menunjukkan pasar akan terus berkembang, mencapai US$62,61 miliar pada 2029 dengan CAGR 7,2%. Pendorong utama fase pertumbuhan baru ini antara lain percepatan transformasi digital, meningkatnya disposable income, berkembangnya budaya DIY (do-it-yourself), serta meluasnya kolaborasi lintas sektor yang memperkaya inovasi produk. Tren utama yang diprediksi mendominasi meliputi craft berbasis teknologi, inovasi alat kerja khusus, hingga integrasi perangkat digital dalam produksi kriya.
Namun, laporan terbaru mencatat adanya sedikit revisi penurunan proyeksi sebesar 0,1 persen dari perkiraan sebelumnya. Hal ini berkaitan dengan meningkatnya tarif impor antara AS dan sejumlah negara yang memengaruhi perdagangan produk handmade serta bahan baku kriya. Tarif timbal balik antarnegeri diperkirakan membatasi alur kolaborasi internasional dan memperlambat pasokan material otentik ke berbagai pusat craft tourism.
Hingga 2024, Amerika Utara menjadi kawasan terbesar dalam pasar seni dan kriya, disusul Eropa Barat dan kawasan Asia-Pasifik. Negara-negara yang menjadi pemain utama dalam laporan pasar ini meliputi AS, Kanada, Inggris, Jerman, Jepang, Tiongkok, Korea Selatan, India, hingga Indonesia.
Pasar seni dan kriya global mencakup penjualan produk seperti craft kits, barang dekoratif, perlengkapan tulis, hingga produk kreatif untuk kebutuhan rumah. Nilai pasar dihitung berdasarkan harga pabrik (factory gate), termasuk layanan terkait yang dijual langsung oleh produsen kepada konsumen, distributor, atau peritel.
Laporan riset pasar ini juga menyoroti cepatnya perubahan kondisi perdagangan internasional, yang menyebabkan proyeksi harus diperbarui secara berkala. Perubahan drastis tarif AS pada 2025, misalnya, telah memukul sektor rekreasi dan juga berimbas pada rantai pasok peralatan kreatif yang bergantung pada impor.
Industri seni dan kriya sendiri mencakup berbagai kategori mulai dari seni lukis dan gambar, tekstil dan jahit-menjahit, paper craft, perlengkapan anak, hingga alat artisan. Pemanfaatan bahan tradisional, daur ulang, dan mixed media terus berkembang sesuai preferensi konsumen lintas usia dan lintas pasar, baik melalui toko fisik maupun platform digital.





