Penguatan visual produk dan strategi branding digital menjadi sorotan utama pada penutupan rangkaian IDE.IND Fesyen 2025 yang digelar Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif. Di era ekonomi kreatif berbasis digital, visual dinilai sebagai alat komunikasi utama yang menentukan daya tarik serta daya saing UMKM fesyen di pasar online.
“Melalui IDE.IND Fesyen 2025, kami mendorong pelaku UMKM fesyen untuk memahami pentingnya visual sebagai bagian dari strategi branding dan pemasaran. Visual yang kuat membuat produk lebih mudah dikenali, dipercaya, dan diterima pasar,” ujar Deputi Bidang Kreativitas, Budaya, dan Desain Kemenparekraf, Yuke Sri Rahayu, pada Minggu, 7 Desember 2025.
IDE.IND Fesyen 2025 berlangsung pada 5–7 Desember 2025 di Summarecon Mall Bandung, Jawa Barat. Pada hari terakhir, talkshow bertajuk “Light, Style, Action” membahas peran pencahayaan, gaya visual, dan teknik pengambilan gambar sebagai fondasi dalam membangun citra brand di platform digital.
Program ini menjadi ruang pembekalan bagi pelaku UMKM untuk menghasilkan visual produk yang lebih profesional, komunikatif, dan menarik bagi konsumen. CEO Visualisasi sekaligus narasumber talkshow, Aldy Irfan, menekankan bahwa visual adalah titik awal interaksi antara brand dan konsumen.
“Keputusan membeli sering kali terjadi dalam hitungan detik. Konsumen menilai produk pertama kali dari visualnya. Karena itu, foto produk bukan lagi pelengkap, tetapi bagian dari strategi branding dan pemasaran yang menentukan daya saing,” jelas Aldy.
Sementara itu, Manager Operasional Waiki, Hani, yang menjadi salah satu peserta terkurasi IDE.IND Fesyen 2025, menilai program ini memberikan pengalaman baru dalam menampilkan brand secara lebih matang.
“Bagi Waiki, IDE.IND menjadi pengalaman penting untuk tampil di Bandung dan memperluas jangkauan brand. Kami belajar banyak tentang bagaimana menampilkan produk secara lebih siap, baik dari sisi visual maupun kesiapan brand,” ujar Hani.
Ia menambahkan bahwa pengalaman tersebut membuka peluang bagi Waiki untuk mengikuti program lanjutan seperti ASIK yang berfokus pada pengembangan pasar ekspor. Waiki sendiri merupakan brand fesyen lokal yang berkembang dari produk merchandise, kemudian memperkuat fokus di subsektor fesyen dengan pendekatan ramah lingkungan melalui penggunaan pewarna alami dan sintetis yang lebih aman, serta pengerjaan motif manual.
Menutup rangkaian IDE.IND Fesyen 2025, Kemenparekraf menegaskan bahwa penguatan visual produk, branding digital, dan strategi komunikasi pasar merupakan fondasi penting dalam pengembangan brand fesyen di era ekonomi digital. Upaya ini diharapkan memperkuat kontribusi subsektor fesyen terhadap pertumbuhan ekonomi kreatif nasional.





