Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI) memperkuat komitmen transformasi digital sektor kriya melalui peluncuran INACRAFT Digital Excellence Award, sebuah program penghargaan bagi peserta pameran yang berhasil memanfaatkan teknologi digital secara kreatif, relevan, dan berdampak nyata bagi pengembangan usaha.
Wakil Ketua Umum III ASEPHI Bidang Pengembangan Youth Craft dan Digital, Muchamad Ali Jufry, mengatakan bahwa industri kerajinan Indonesia akan selalu memiliki cerita baru, termasuk dalam menghadapi era digital. Menurutnya, INACRAFT harus terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi agar potensi pelaku usaha dapat tergali secara maksimal.
“Di era digital ini, kerajinan Indonesia tetap relevan dan memiliki peluang besar. Kami melihat banyak potensi dari anggota ASEPHI dan peserta INACRAFT yang belum sepenuhnya tergarap, khususnya dalam pemanfaatan digital,” ujar Ali Jufry.
Ia menjelaskan bahwa sejak tahun ini, ASEPHI secara lebih serius mengintegrasikan aspek digital melalui bidang digital dan program, sekaligus meluncurkan INACRAFT Digital Excellence Award sebagai momentum untuk mendorong transformasi digital di kalangan perajin dan brand kriya.
Program ini diikuti oleh lebih dari 30 peserta, yang kemudian diseleksi hingga terpilih sembilan finalis terbaik dalam tiga kategori utama, yakni Best Digital Branding Award, Best Marketing Performance Award, dan Best Digital Innovation.
Ali Jufry menyebut proses penjurian melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk perwakilan ASEPHI, mitra media, mitra teknologi digital, platform e-commerce, serta unsur pemerintah. “Persaingan cukup ketat karena kualitas peserta semakin meningkat, baik dari sisi branding, pemasaran digital, maupun inovasi sistem bisnis,” katanya.
Ia mencontohkan sejumlah peserta dengan model bisnis digital yang inovatif, mulai dari brand yang mengembangkan kolaborasi ilustrator nasional dalam sistem bagi hasil, hingga pelaku usaha yang membangun sistem terintegrasi dari desain, produksi, inventori, hingga pemasaran digital dalam satu dashboard.
Menurutnya, potensi tersebut tidak hanya berhenti pada tahap penghargaan, tetapi akan dikembangkan melalui program inkubasi, kolaborasi lintas sektor, serta peluang pemanfaatan sistem digital oleh anggota ASEPHI lainnya.
“Tujuan kami bukan hanya memberi penghargaan, tetapi memastikan inovasi digital ini bisa dimanfaatkan lebih luas oleh pelaku UMKM dan perajin, baik melalui model berbayar maupun gratis, sehingga tercipta ekosistem digital yang saling menguntungkan,” jelasnya.
Salah satu pemenang utama tahun ini merupakan brand kriya dari Jawa Barat yang dikelola anak muda dengan pendekatan visual kreatif, strategi konten kuat, serta penetrasi pasar internasional. Brand tersebut dinilai unggul dalam membangun citra digital, storytelling produk, dan konsistensi pemasaran.
Selain mendapatkan apresiasi, para pemenang juga memperoleh uang pembinaan, perangkat pendukung produksi konten, serta fasilitas booth gratis pada penyelenggaraan INACRAFT berikutnya sebagai bentuk dukungan keberlanjutan usaha.
Ke depan, Ali Jufry menegaskan ASEPHI akan terus mendorong digitalisasi ekosistem INACRAFT, termasuk penguatan talenta digital, pengembangan marketplace kriya, serta kolaborasi berbasis konsep berbagi pengetahuan dan teknologi di antara anggota.
“Digitalisasi bukan hanya soal teknologi, tetapi tentang kolaborasi, keberlanjutan, dan kesiapan industri kriya Indonesia untuk bersaing di tingkat nasional maupun global,” pungkasnya.





