Ketika Tafsir-Tafsir Sapardi Djoko Damono Mewujud dalam Kanvas

Memperingati warisan literasi dan spiritualitas sang maestro sastra, buku terbaru karya Sapardi Djoko Damono bertajuk “Para Utusan Lain Sebelum Dia Telah Lahir: 90 Rangkuman Bagi Ali Audah” resmi diluncurkan hari ini di Semesta Home, Jakarta, Minggu (8/3/2026). Peluncuran ini ditandai dengan pembukaan mini eksibisi unik yang mengalihwahanakan puisi-puisi tafsir Al-Quran di dalam buku tersebut ke dalam karya seni rupa.

Buku ini merupakan kumpulan puisi tafsir yang disusun Sapardi sebagai bentuk penghormatan bagi cendekiawan Ali Audah. Dalam acara ini, teks-teks puitis tersebut tidak hanya dibaca, tetapi “dihidupkan” kembali melalui tangan sembilan seniman lintas generasi: Beng Rahadian, Guntur Wibowo, Agung Lintang Prasetyo, Geibby Sri Ningrum, Muksin MD, Dhika Purnama Putra, Arints Aditya, Fitra Raharjo, dan Mohammad Marzuki.

Proses kreatif dimulai dengan para kurator menyeleksi sejumlah puisi tafsir dari naskah asli. Sembilan perupa tersebut kemudian memilih satu puisi untuk diresapi dan ditransformasikan ke dalam bentuk visual. Sembilan karya lukis yang dipamerkan merupakan wujud dari proses imajinasi mendalam, di mana para seniman harus mengadaptasi kata demi kata ke dalam elemen garis, warna, dan komposisi.

“Melalui teks ke bentuk visual, tentu membutuhkan proses imajinasi yang luar biasa dari para perupa untuk mengadaptasi kata demi kata yang terbaca. Hal ini membutuhkan energi serta konsentrasi yang tajam,” ungkap pihak penyelenggara di sela-sela pembukaan.

Alih wahana ini membawa pemahaman baru terkait makna dan tafsir yang dilakukan oleh para seniman. Pergeseran nilai yang terjadi dalam proses adaptasi ini dianggap sebagai hal yang wajar dan justru menciptakan nilai artistik baru. Hal ini mengakibatkan ‘tatanan’ dalam proses berkarya menjadi lebih kaya secara literatur dan memberikan eksposur yang lebih luas bagi karya seni yang dihasilkan.

Andra Semesta, mewakili penyelenggara, menekankan pentingnya kesinambungan antara teks dan visual. “Pameran ini bertujuan melanjutkan alur artistik dan spiritual dari kata ke visual,” ujarnya.

Bagi publik yang ingin menyaksikan langsung bagaimana puisi-puisi terakhir sang maestro sastra Indonesia ini “berbicara” melalui garis dan warna, pameran ini masih akan berlangsung di Semesta Home mulai 9 hingga 14 Maret 2026.

Next Post

E-Magazine Inacraft News

Warta Inacraft