Gagasan itulah yang melandasi pelukis Syam Terajana dalam pameran tunggal bertajuk Ibu, Peluru dan Tepian Biru yang digelar pada 18–30 April 2026 di Sal Project, Jalan Timor, Jakarta. Dalam pameran ini, Syam menghadirkan karya-karya yang berangkat dari konstruksi sejarah personal, di mana ingatan menjadi ruang hidup yang terus dibangun dan ditafsirkan ulang.
Syam menuturkan, sumber utama eksplorasinya berasal dari album foto keluarga yang ia pelajari secara saksama. Dari sana, ia menelusuri kembali fragmen-fragmen kejadian yang kemudian diterjemahkan ke dalam bentuk visual. Ia memperhatikan detail bentuk, warna, dan garis, yang kemudian berkembang menjadi komposisi dalam ruang kanvasnya.
Ingatan masa lalu keluarga, menurut Syam, menjadi elemen dominan dalam karya-karyanya. Proses menggali ulang kenangan itu bukan sekadar nostalgia, melainkan upaya memahami ulang pengalaman yang telah berlalu. “Latar menemukan judul pameran hasil dari pengetahuan yang terserap dalam perenungan. Lalu saya kembangkan lebih detail melalui pengamatan terhadap kejadian-kejadian pribadi,” ujarnya saat pembukaan pameran.
Melalui pendekatan ini, Syam tidak hanya menghadirkan karya visual, tetapi juga membuka ruang dialog tentang bagaimana sejarah personal dapat membentuk identitas dan cara seseorang memaknai hidupnya. (FA)




