Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif Irene Umar menilai perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam membangun ekosistem kewirausahaan kreatif di Indonesia. Ia menyebut kampus sebagai ruang penting untuk menumbuhkan kreativitas yang menjadi sumber daya ekonomi masa depan.
Hal itu disampaikan Irene dalam forum The Role of Higher Education Institutions on Creative Entrepreneurship Promotion and Strategies and Creative Arts Exhibition di Deakin University Lancaster University Indonesia, Senin (27/4/2026).
Menurut Irene, dunia tengah mengalami perubahan cepat, sehingga diperlukan adaptasi, termasuk dalam cara memandang ekonomi kreatif sebagai mesin pertumbuhan baru. Dalam konteks itu, perguruan tinggi berperan sebagai ruang aman bagi mahasiswa untuk bereksperimen.
“Universitas adalah ruang untuk mencoba, bahkan gagal, sebelum menghadapi dunia nyata. Di sinilah kita belajar dan berkembang,” ujarnya.
Ia juga menyoroti perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence, yang dinilai tidak dapat menggantikan nilai-nilai kemanusiaan. Menurut dia, kekuatan utama manusia terletak pada kreativitas yang berakar pada integritas, empati, dan rasa ingin tahu.
Irene menekankan pentingnya kolaborasi lintas disiplin dalam mengembangkan ekonomi kreatif. Ia menyebut kekayaan budaya Indonesia sebagai fondasi utama atau “source code” yang dapat mendorong lahirnya inovasi.
“Semua bidang harus bekerja bersama. Budaya adalah kekuatan kita, dan pemerintah siap membuka ruang, bahkan fasilitas publik, sebagai laboratorium untuk menguji ide-ide kreatif,” katanya.
Forum tersebut membahas peran perguruan tinggi dalam mempromosikan kewirausahaan kreatif serta strategi pengembangannya. Kegiatan ini juga menjadi ruang dialog antara akademisi, mahasiswa, dan pemangku kepentingan untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor.
Sementara itu, Rektor dan Presiden DULUI Greg Barton menekankan pentingnya kolaborasi internasional dalam pengembangan sumber daya manusia. Ia juga menyoroti perlunya upaya menarik kembali talenta Indonesia di luar negeri melalui konsep reverse brain drain.
“Kami ingin berkontribusi dalam proses perubahan ini melalui kolaborasi dan penguatan kapasitas sumber daya manusia di Indonesia,” ujar Greg.





