• Inacraft News
  • Editor’s Note
  • Redaksi
  • Info Iklan
Inacraft News
Inacraft on October 2026
  • Home
  • Cover Story
  • Focus ASEPHI
  • Product
  • SMEs
  • Design
  • Art
  • Inspiration
  • e-Magazine
  • Warta Inacraft
  • More …
    • Figure
    • Celebrity
    • Travel
    • Fashion
    • Regional Report
    • Tech Craft
    • Finance & Banking
    • Business
    • Vacation
    • CSR
    • Review
    • Event
    • Agenda Asephi
    • How to Do
    • QUIZ
No Result
View All Result
  • Home
  • Cover Story
  • Focus ASEPHI
  • Product
  • SMEs
  • Design
  • Art
  • Inspiration
  • e-Magazine
  • Warta Inacraft
  • More …
    • Figure
    • Celebrity
    • Travel
    • Fashion
    • Regional Report
    • Tech Craft
    • Finance & Banking
    • Business
    • Vacation
    • CSR
    • Review
    • Event
    • Agenda Asephi
    • How to Do
    • QUIZ
No Result
View All Result
Inacraft News
No Result
View All Result
Home Art

Ketika Dunia Terlalu Digital, Generasi 2026 Kembali Menemukan Makna lewat Kerajinan Tangan

Eddy Purwanto by Eddy Purwanto
May 12, 2026
in Art, Cover Story, Design, Tips
0
Ketika Dunia Terlalu Digital, Generasi 2026 Kembali Menemukan Makna lewat Kerajinan Tangan
0
SHARES
2
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Di tengah banjir teknologi pintar, notifikasi tanpa henti, dan rutinitas hidup yang semakin digital, tren baru justru bergerak ke arah sebaliknya. Tahun 2026 menjadi momentum kebangkitan aktivitas kerajinan tangan atau craft sebagai ruang jeda dari kelelahan digital.

Orang-orang mulai kembali mencari pengalaman yang lebih relaks, personal, dan nyata, sesuatu yang bisa disentuh, dirasakan, sekaligus dikerjakan bersama. Mulai dari meracik parfum sendiri, membuat aksesori berbahan tanah liat, aktivitas kreatif berbasis keterampilan tangan kini berkembang menjadi gaya hidup baru.

Fenomena ini terlihat dari meningkatnya minat masyarakat terhadap berbagai workshop kreatif dan kelas DIY (do it yourself) di berbagai negara. Kerajinan tangan tak lagi sekadar hobi, melainkan menjadi medium relaksasi, ekspresi diri, hingga ruang sosial baru di era serba digital.

Parfum Racikan Sendiri Jadi Simbol Identitas Personal

Salah satu tren yang paling berkembang pada 2026 adalah bespoke perfume making atau pembuatan parfum personal. Jika sebelumnya parfum identik dengan produk massal dari rumah mode besar, kini banyak orang memilih menciptakan aroma khas mereka sendiri.

Lembaga peramal tren Pinterest mencatat parfum memasuki “main-character era”, ketika orang ingin memiliki aroma yang benar-benar merepresentasikan suasana hati, gaya hidup, hingga identitas personal.

Kelas meracik parfum pun mengalami lonjakan peminat secara signifikan dalam setahun terakhir.

Workshop semacam ini banyak diminati pasangan muda, kelompok pertemanan, hingga pencari pengalaman kreatif premium. Peserta tidak hanya belajar mengenali aroma dasar, tetapi juga mencampur berbagai notes untuk menghasilkan signature scent yang unik.

Polymer Clay dan Kembalinya Kesenangan dalam Skala Kecil

Tren berikutnya datang dari polymer clay atau tanah liat sintetis yang kini menjadi medium favorit generasi muda. Proyek-proyek kecil seperti magnet kulkas, gantungan tas, bookmark, hingga aksesori perhiasan menjadi sangat populer karena dianggap sederhana, menyenangkan, dan mudah diselesaikan.

Pencarian Google untuk kata kunci “clay magnets” bahkan meningkat hingga 300 persen sepanjang tahun terakhir.

Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat mulai menyukai aktivitas kreatif yang tidak rumit, minim tekanan, tetapi tetap memberi kepuasan instan. Selain mudah dipelajari pemula, karya berbahan polymer clay juga memiliki fungsi praktis dan bernilai personal.

Kelas membuat aksesori polymer clay kini ramai dipenuhi peserta yang ingin menghabiskan waktu bersama teman sambil menghasilkan karya unik buatan tangan sendiri.

Junk Journaling Bangkit di Tengah Budaya Serba Cepat

Kerajinan berbasis kertas juga kembali populer pada 2026. Tren junk journaling, scrapbook, seni kolase, hingga surat menyurat manual tumbuh seiring meningkatnya keinginan masyarakat untuk melakukan aktivitas yang lebih tenang dan reflektif.

Budaya pen pal dan snail mail kembali mendapat perhatian, terutama di kalangan generasi muda yang mulai jenuh dengan komunikasi instan berbasis layar.

Workshop penjilidan buku, kaligrafi, hingga journaling kreatif kini banyak bermunculan. Aktivitas ini dianggap memberi ruang bagi orang untuk memperlambat ritme hidup sekaligus mendokumentasikan pengalaman secara lebih personal.

Bagi sebagian orang, membuat jurnal manual menjadi bentuk perlawanan kecil terhadap budaya digital yang serba cepat dan mudah terlupakan.

Perhiasan DIY Tinggalkan Gaya Minimalis

Dunia aksesori juga mengalami pergeseran besar. Jika beberapa tahun terakhir tren minimalis mendominasi, kini perhiasan bergaya playful dan ekspresif justru semakin digemari.

Gelang charm, bag charm, cincin silver clay, dan perhiasan manik-manik menjadi bagian dari tren maksimalisme baru yang berkembang di kalangan anak muda.

Pencarian untuk “DIY bag charms” meningkat 140 persen, sementara “silver clay rings” naik 120 persen dalam setahun terakhir.

Kelas membuat perhiasan kini berkembang menjadi aktivitas sosial populer, terutama untuk pertemuan akhir pekan atau acara komunitas kreatif. Orang ingin mengenakan aksesori yang memiliki cerita personal, bukan sekadar produk massal.

Kerajinan Tangan Jadi Bentuk Perlawanan Sunyi

Di balik berbagai tren tersebut, ada benang merah yang sama: keinginan manusia untuk kembali terhubung dengan pengalaman nyata.

Ketika kecerdasan buatan, otomatisasi, dan algoritma semakin mendominasi kehidupan sehari-hari, aktivitas kreatif berbasis tangan justru hadir sebagai bentuk perlawanan sunyi terhadap kelelahan digital.

Membuat parfum sendiri, membentuk tanah liat, menulis surat, atau meracik matcha perlahan menjadi simbol kehadiran penuh yang mulai langka di era modern.

Pada 2026, kreativitas tidak lagi selalu diukur dari produktivitas atau kesempurnaan hasil. Yang dicari justru pengalaman, koneksi sosial, dan rasa puas karena berhasil menciptakan sesuatu dengan tangan sendiri.

Teknologi mungkin akan terus berkembang. Namun kegembiraan sederhana saat membuat sesuatu secara manual tampaknya tetap tak tergantikan.

Tags: craftdo it yourself
Previous Post

Upcycled Fashion Diharapkan Jadi Kekuatan Ekonomi Kreatif Baru

Next Post

Crafting Menjelma Ruang Kreatif Sekaligus Ritual Menenangkan

Next Post
Crafting Menjelma Ruang Kreatif Sekaligus Ritual Menenangkan

Crafting Menjelma Ruang Kreatif Sekaligus Ritual Menenangkan

Please login to join discussion

E-Magazine Inacraft News

Warta Inacraft

INACRAFT NEWS

INACRAFT NEWS diterbitkan oleh Badan Pengurus Pusat Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (BPP ASEPHI)

Jl. Wijaya I No.3A, – Kebayoran Baru Jakarta Selatan 12170
Phone: (62 21) 725 2032, 725 2033, 725 2063
Fax.: (62 21) 725 2062
Email: redaksi@inacraftnews.com

Redaksi

  • Inacraft News
  • Editor’s Note
  • Redaksi
  • Info Iklan

Network

  • ASEPHI
  • Inacraft Award
  • Inacraft
  • Emerging Award
  • Inacraft News
  • Editor’s Note
  • Redaksi
  • Info Iklan

Inacraft News © 2023 ASEPHI - by Kolabo

No Result
View All Result
  • Home
  • Cover Story
  • Focus ASEPHI
  • Product
  • SMEs
  • Design
  • Art
  • Inspiration
  • e-Magazine
  • Warta Inacraft
  • More …
    • Figure
    • Celebrity
    • Travel
    • Fashion
    • Regional Report
    • Tech Craft
    • Finance & Banking
    • Business
    • Vacation
    • CSR
    • Review
    • Event
    • Agenda Asephi
    • How to Do
    • QUIZ

Inacraft News © 2023 ASEPHI - by Kolabo