Program beasiswa dan kursus singkat Australia Awards in Indonesia kembali membuka peluang bagi pelaku industri kreatif Indonesia untuk memperluas pengetahuan, jejaring internasional, hingga penguatan kapasitas usaha. Program yang dijalankan Pemerintah Australia itu dinilai menjadi salah satu jalur penting bagi pengembangan sumber daya manusia Indonesia, termasuk di sektor kriya, fesyen, dan usaha kreatif berbasis budaya.
Australia Awards in Indonesia merupakan program beasiswa internasional tertua di Indonesia yang telah berlangsung sejak era Colombo Plan pada 1950-an. Program tersebut menjadi bagian dari kerja sama bilateral antara Pemerintah Australia dan Indonesia dalam pengembangan sumber daya manusia, pendidikan, serta penguatan hubungan antarkedua negara.
Melalui Australia Awards in Indonesia, peserta dapat mengikuti program jenjang magister, doktor, split-site master, hingga short course atau kursus singkat profesional. Seluruh pembiayaan ditanggung Pemerintah Australia, mulai dari biaya pendidikan, tiket perjalanan, akomodasi, hingga uang saku selama program berlangsung.
Wakil Ketua Umum II ASEPHI Bidang Kerja Sama Regional dan Internasional, Baby Jurmawati, mengatakan ASEPHI mulai terlibat dalam program tersebut sejak 2017 setelah dihubungi langsung oleh pihak Australia Awards in Indonesia untuk merekomendasikan pelaku kriya yang potensial mengikuti program kursus singkat.
“Waktu itu kami diminta merekomendasikan artisan dan pelaku usaha dari berbagai daerah seperti Jakarta, Solo, Surabaya, Bali, dan Yogyakarta untuk mengikuti short course bidang jewellery,” kata Baby saat diwawancarai.
Menurut dia, program tersebut tidak hanya diikuti pelaku usaha, tetapi juga peserta dari kementerian dan lembaga pemerintah yang relevan dengan bidang program. Peserta diwajibkan menyusun proposal mengenai kontribusi yang akan dilakukan setelah kembali ke Indonesia.

Baby mengaku dirinya juga lolos sebagai peserta pada program 2017. Seluruh proses, mulai dari seleksi administrasi, pengurusan visa, hingga keberangkatan, difasilitasi sepenuhnya oleh Australia Awards in Indonesia.
“Semua ditanggung pemerintah Australia. Kami bahkan mendapatkan uang saku dan fasilitas tempat tinggal selama di sana,” ujarnya.
Tahapan program dimulai dengan pre-course di Indonesia. Saat itu, peserta mendapat pembekalan melalui kelas, diskusi, hingga kunjungan ke galeri dan workshop. Setelah itu peserta mengikuti program utama di Griffith University, Australia.
Selama sekitar dua hingga tiga pekan, peserta mengikuti perkuliahan, kunjungan industri, workshop, hingga membangun jejaring dengan pelaku kreatif dan institusi terkait. Peserta juga diwajibkan menyusun dan mempresentasikan paper sesuai bidang masing-masing.
Baby mengatakan pengalaman tersebut memberikan banyak masukan bagi pengembangan industri kriya Indonesia. Salah satu hasil evaluasi yang ia peroleh saat itu adalah pentingnya pembaruan visual dan penguatan identitas digital promosi produk kriya Indonesia.
Setelah program di Australia selesai, peserta kembali mengikuti post-course di Indonesia untuk mempresentasikan hasil pembelajaran dan rencana implementasi. Menurut Baby, program Australia Awards in Indonesia tidak berhenti setelah peserta pulang, tetapi berlanjut melalui jaringan alumni dan evaluasi berkala.
“Peserta dianggap sebagai alumni resmi dan tetap terhubung dalam jaringan Australia Awards maupun alumni universitas di Australia,” ujarnya.
Ia mencontohkan jurnalis senior Najwa Shihab juga tercatat sebagai bagian dari alumni Australia Awards yang dianggap sukses mengembangkan dampak program tersebut.
Saat ini, Australia Awards in Indonesia tercatat memiliki lebih dari 13 ribu alumni dari Indonesia. Secara keseluruhan, lebih dari 200 ribu warga Indonesia pernah menempuh pendidikan tinggi di Australia.
Baby menilai program itu penting bagi pelaku industri kreatif karena memberikan akses pengetahuan, jejaring global, dan peluang kolaborasi internasional tanpa dibatasi usia peserta.

“Untuk short course ini tidak ada batasan umur. Jadi kesempatan terbuka luas bagi pelaku usaha kreatif yang ingin berkembang,” ujarnya.
ASEPHI, kata dia, kembali mendorong anggotanya mengikuti program Australia Awards in Indonesia tahun ini, khususnya untuk tema pemberdayaan perempuan dan UMKM. Beberapa peserta dari DKI Jakarta dan Aceh disebut telah bersiap mengajukan aplikasi.
Menurut Baby, program tersebut bukan semata pengalaman belajar di luar negeri, melainkan bagian dari investasi jangka panjang untuk memperkuat kapasitas industri kreatif nasional.
“Knowledge bertambah, networking bertambah, dan yang paling penting peserta punya kesempatan membawa dampak nyata setelah kembali ke Indonesia,” tutup Baby.




