Aktivitas bongkar muat di pelabuhan masih menjadi denyut utama arus logistik nasional. Di tengah meningkatnya kebutuhan distribusi barang antarpulau dan ekspor komoditas, PT Pelabuhan Tanjung Priok (PTP Nonpetikemas) terus memperkuat perannya sebagai salah satu operator terminal nonpetikemas terbesar di Indonesia.
Perusahaan yang berada di bawah subholding PT Pelindo Multi Terminal tersebut kini mengoperasikan layanan di 11 cabang pelabuhan strategis yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Jaringan operasional itu mencakup Cabang Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta, Banten, Cirebon, Panjang, Bengkulu, Palembang, Jambi, Teluk Bayur, Tanjung Pandan, Pangkal Balam, hingga Pontianak.
Melalui jaringan tersebut, PTP Nonpetikemas melayani berbagai aktivitas logistik nonpetikemas, mulai dari bongkar muat curah kering, curah cair, general cargo, alat berat, hingga komoditas industri dan perkebunan.
PTP Nonpetikemas sendiri didirikan berdasarkan Akta Pendirian Perusahaan Nomor 27 tanggal 10 Juli 2013 dan mulai beroperasi pada 1 Agustus 2013. Sejak integrasi Pelindo pada 2022, perusahaan menjadi bagian dari transformasi besar ekosistem kepelabuhanan nasional melalui skema subholding Pelindo Multi Terminal.
Dalam restrukturisasi terbaru Pelindo Group pada 2025, komposisi saham perusahaan berubah menjadi 99 persen dimiliki PT Pelindo Multi Terminal dan 1 persen oleh PT Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS).

Sebagai operator terminal nonpetikemas, lini bisnis PTP Nonpetikemas tidak hanya mencakup layanan bongkar muat barang di pelabuhan. Perusahaan juga mengembangkan layanan logistik terintegrasi yang meliputi warehousing, stevedoring, cargodoring, receiving-delivery, hingga pengelolaan terminal multipurpose.
Berbagai komoditas strategis nasional dilayani perusahaan ini, mulai dari baja, semen, pupuk, hasil perkebunan, kayu, batu bara, hingga alat berat dan proyek-proyek industri.
Keberadaan terminal nonpetikemas juga dinilai memiliki peran penting dalam menopang distribusi logistik domestik karena sebagian besar komoditas industri Indonesia masih bergantung pada layanan pelabuhan multipurpose.
Selain mendukung distribusi nasional, aktivitas operasional perusahaan juga memberikan kontribusi terhadap penerimaan negara melalui sektor kepelabuhanan, jasa logistik, dan peningkatan efisiensi rantai pasok industri.

Dalam beberapa tahun terakhir, PTP Nonpetikemas juga aktif memperkuat kolaborasi dengan berbagai mitra strategis, baik BUMN, operator logistik, pelaku industri, maupun pemerintah daerah. Langkah tersebut dilakukan untuk memperluas konektivitas logistik serta meningkatkan efisiensi pelayanan pelabuhan.
Transformasi digital dan modernisasi alat bongkar muat menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam mempercepat arus barang di pelabuhan. Integrasi layanan logistik dinilai penting untuk menekan dwelling time sekaligus meningkatkan daya saing industri nasional.
Keberadaan cabang-cabang pelabuhan di wilayah Sumatera, Jawa, hingga Kalimantan juga memperkuat konektivitas distribusi barang antarwilayah, terutama untuk komoditas industri dan kebutuhan pokok.
Di tengah tantangan ekonomi global dan biaya logistik yang masih tinggi, sektor kepelabuhanan nasional menjadi salah satu fondasi penting dalam menjaga kelancaran perdagangan domestik maupun ekspor.

Selain menciptakan efisiensi distribusi, aktivitas pelabuhan juga memberikan dampak ekonomi berantai melalui penyerapan tenaga kerja, penguatan industri logistik, hingga peningkatan aktivitas perdagangan daerah.
Modernisasi pelabuhan juga dilakukan untuk mendukung program pemerintah dalam memperkuat konektivitas maritim nasional. Dengan jaringan operasional di sejumlah pelabuhan strategis Indonesia, PTP Nonpetikemas dinilai memiliki posisi penting dalam mendukung kelancaran arus logistik antarpulau, distribusi bahan baku industri, hingga ekspor komoditas nasional.
Transformasi yang dijalankan perusahaan tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan bisnis, tetapi juga diarahkan untuk menciptakan ekosistem kepelabuhanan yang lebih efisien, terintegrasi, dan berkelanjutan di masa depan.
Dengan posisi Indonesia sebagai negara kepulauan, penguatan sektor pelabuhan dinilai menjadi salah satu kunci menjaga stabilitas distribusi nasional sekaligus memperkuat daya saing ekonomi Indonesia di kawasan regional.





