Kenaikan harga bahan pokok, material bangunan, serta berbagai bahan baku industri sepanjang awal 2026 mulai menekan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), termasuk perajin dan industri kerajinan nasional. Di tengah daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih, banyak pelaku usaha memilih melakukan efisiensi produksi agar tetap bertahan dan menjaga harga jual produk.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi tahunan (year-on-year) pada Mei 2026 mencapai 3,08 persen. Kenaikan harga terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau, dengan komoditas seperti cabai merah, minyak goreng, bawang merah, tomat, dan beras menjadi penyumbang utama inflasi.
Selain kebutuhan pokok, tekanan juga datang dari sisi bahan baku dan material. BPS mencatat Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Nasional pada April 2026 naik 3,81 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kenaikan terjadi pada sejumlah komoditas seperti beras, solar industri, serta berbagai material konstruksi seperti aspal, pasir, kerikil, batu pecah, hingga kusen aluminium. Kondisi tersebut berdampak langsung pada pelaku UMKM dan perajin yang bergantung pada bahan baku kayu, logam, tekstil, rotan, bambu, maupun produk turunan petrokimia. Sejumlah pelaku industri mengaku harus menekan biaya operasional, mengurangi limbah produksi, memperbaiki manajemen persediaan, hingga menunda ekspansi usaha untuk menjaga arus kas tetap sehat. Di berbagai forum pelaku usaha, kenaikan harga bahan baku tekstil, plastik, benang, dan bahan kimia bahkan disebut mencapai dua digit dalam beberapa bulan terakhir sehingga banyak kontrak produksi ditunda.
Bagi sektor kerajinan dan furnitur, efisiensi kini menjadi strategi utama. Perajin mulai mengoptimalkan penggunaan bahan baku, memanfaatkan limbah produksi menjadi produk bernilai tambah, serta mengembangkan desain yang lebih sederhana namun tetap memiliki nilai estetika tinggi. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga daya saing produk Indonesia di pasar domestik maupun ekspor.
Pelaku industri kreatif juga melihat tren pasar global yang semakin menghargai produk berkelanjutan (sustainable products) sebagai peluang baru. Produk furnitur dan kerajinan berbahan kayu bersertifikat, rotan, bambu, serta material daur ulang dinilai memiliki prospek yang baik karena menawarkan efisiensi sekaligus memenuhi tuntutan konsumen terhadap produk ramah lingkungan.
Di tengah tekanan biaya produksi, berbagai pameran kerajinan dan kriya seperti INACRAFT menjadi momentum penting bagi perajin untuk memperluas pasar, mencari mitra baru, sekaligus memperkenalkan inovasi produk yang lebih efisien dan berorientasi ekspor. Bagi banyak pelaku UMKM, kemampuan beradaptasi terhadap kenaikan biaya produksi kini menjadi kunci untuk mempertahankan keberlanjutan usaha di tengah dinamika ekonomi 2026.





