Kinerja sektor pariwisata Indonesia terus menunjukkan tren positif pada empat bulan pertama 2026. Di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman), perolehan devisa pariwisata, hingga pergerakan wisatawan nusantara (wisnus) tercatat mengalami pertumbuhan.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan capaian tersebut menjadi indikasi bahwa Indonesia tetap memiliki daya tarik dan daya saing yang kuat sebagai destinasi wisata internasional.
“Pariwisata Indonesia saat ini berada pada jalur pertumbuhan yang sangat positif. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan kunjungan wisman serta meningkatnya rata-rata pengeluaran wisatawan per kunjungan,” kata Widiyanti dalam Laporan Bulanan Kinerja Kementerian Pariwisata, Jumat, 5 Juni 2026.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah kunjungan wisman pada April 2026 mencapai 1,25 juta kunjungan, naik 7,22 persen dibandingkan April 2025 yang tercatat sebanyak 1,16 juta kunjungan.
Secara kumulatif, selama periode Januari hingga April 2026, jumlah kunjungan wisman mencapai 4,68 juta kunjungan atau tumbuh 8,24 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 4,33 juta kunjungan.
Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, masih menjadi pintu masuk utama wisatawan asing dengan total 552.961 kunjungan pada April 2026. Posisi berikutnya ditempati Bandara Soekarno-Hatta dengan 227.830 kunjungan dan Batam melalui jalur laut sebanyak 110.535 kunjungan.
Dari sisi negara asal, wisatawan asal Malaysia menjadi penyumbang kunjungan terbesar dengan 207.957 kunjungan. Disusul Australia sebanyak 157.960 kunjungan, Tiongkok 133.986 kunjungan, Singapura 111.439 kunjungan, serta Timor-Leste 75.477 kunjungan.
Peningkatan kunjungan tersebut turut mendongkrak penerimaan devisa sektor pariwisata. Berdasarkan data Bank Indonesia, devisa pariwisata pada triwulan I 2026 mencapai US$4,05 miliar atau setara Rp68,28 triliun. Angka itu meningkat 6,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai US$3,81 miliar atau sekitar Rp62,29 triliun.
Sementara itu, aktivitas perjalanan wisatawan nusantara juga terus tumbuh. Hingga April 2026, jumlah perjalanan wisnus mencapai 417,06 juta perjalanan atau naik 1,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Widiyanti menilai capaian tersebut harus diikuti dengan pembangunan pariwisata yang lebih berkualitas dan berkelanjutan. Karena itu, Kementerian Pariwisata terus memperkuat sinergi dengan berbagai kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah melalui sejumlah program strategis.
Salah satunya melalui penyelenggaraan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pariwisata 2026 yang digelar pada 20–21 Mei lalu. Forum tersebut difokuskan pada penyelarasan kebijakan pusat dan daerah untuk mencapai target pembangunan pariwisata nasional hingga 2029.
“Pembangunan pariwisata tidak hanya berorientasi pada jumlah kunjungan, tetapi juga pada kualitas destinasi, dampak ekonomi, serta keberlanjutan lingkungan dan sosial,” ujarnya.
Komitmen terhadap pariwisata berkelanjutan juga diwujudkan melalui penguatan desa wisata dan ekosistem pariwisata ramah Muslim. Hingga akhir Mei 2026, Kementerian Pariwisata bersama Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) telah memfasilitasi penerbitan 31.548 sertifikat halal bagi pelaku usaha di 1.116 desa wisata yang tersebar di 34 provinsi.
Selain itu, pemerintah juga terus mendorong pemerataan manfaat ekonomi melalui program Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 yang mencakup 125 event unggulan di berbagai daerah.
Menurut Widiyanti, berbagai program tersebut dirancang agar sektor pariwisata tidak hanya meningkatkan devisa negara, tetapi juga mampu menggerakkan ekonomi lokal, memperkuat UMKM, membuka lapangan kerja, dan menciptakan manfaat yang lebih merata bagi masyarakat.
“Pariwisata Indonesia terus didorong agar semakin inklusif, berkelanjutan, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” kata Widiyanti.





