Deretan lukisan bertema bunga, panen, figur manusia, hingga pemandangan alam memenuhi ruang pamer 75 Gallery, Jakarta Selatan. Karya-karya tersebut hadir dalam pameran bertajuk Holopis yang menampilkan sejumlah seniman yang tetap aktif berkarya di usia senja, menegaskan bahwa kreativitas tidak dibatasi oleh umur.
Pameran dibuka pada Minggu, 14 Juni 2026, di 75 Gallery, Jalan Mampang Prapatan Raya No. 75A, Jakarta Selatan. Acara pembukaan dihadiri dan dibuka oleh Fair Director Art Jakarta Tom Tandio, bersama penulis Efix Mulyadi serta para host pameran Christiana Gouw, Kioen Moe, dan Luly J. Iskandar.
Sebelas perupa turut ambil bagian dalam pameran ini, yakni Agus Salim, Inda Citraninda Noerhadi, Iryanto Hadi, Neneng Sia Ferier, Lanny Andriani, Siont Teja, Tommy F. Awuy, Arifin Neif, Dede Eri Supria, Gunawan Hanjaya, dan JB Iwan Sulistyo. Mereka merupakan seniman yang telah lama berkecimpung di dunia seni rupa dan terus mempertahankan produktivitas berkarya.
Berbagai karya yang dipamerkan menampilkan ragam pendekatan artistik dan pengalaman estetik yang berbeda. Keberagaman tersebut menjadi benang merah yang menghubungkan para seniman dalam satu ruang pamer, sekaligus memperlihatkan dinamika seni lukis Indonesia yang terus berkembang.
Kurator dan penulis Efix Mulyadi mengatakan tema Holopis dipilih sebagai simbol kebersamaan, tenaga kolektif, dan semangat bergerak bersama. Menurut dia, pameran ini mempertemukan berbagai karakter, pengalaman, dan bahasa visual yang berbeda dalam satu kesatuan.
“Gagasan tentang Holopis adalah tentang istilah yang dipakai Bung Karno terhadap persatuan bangsa ketika awal perjuangan menyatukan negeri ini,” kata Efix Mulyadi saat pembukaan pameran, Minggu, 14 Juni 2026.
Melalui tema tersebut, pameran Holopis ingin menghadirkan sebuah “barisan” visual yang saling terhubung, menyatukan beragam perspektif dalam satu ruang yang sama. Setiap karya berdiri dengan identitasnya masing-masing, namun sekaligus menjadi bagian dari narasi kolektif mengenai kebersamaan dan keberlanjutan kreativitas.
Pameran Holopis berlangsung hingga 25 Juni 2026. Selain menjadi ruang apresiasi seni rupa, pameran ini juga menjadi penanda bahwa semangat berkarya para seniman tetap menyala, bahkan ketika usia telah memasuki masa senja. Kreativitas, sebagaimana tergambar dalam karya-karya yang dipajang, terus hidup dan menemukan bentuk-bentuk baru tanpa mengenal batas usia




