Seni ukir Jepara bukan sekadar keterampilan mengolah kayu menjadi karya artistik. Di balik setiap pahatan tersimpan perjalanan panjang sebuah kota yang tumbuh bersama tradisi, pengetahuan, dan perubahan zaman. Sejarah itu kini dihadirkan kembali melalui pameran “Tatah: Suluk, Sulur dan Jepara” yang berlangsung di Museum Nasional, Jalan Medan Merdeka Barat No. 21, Jakarta, pada 2 April hingga 2 Agustus 2026.
Pameran ini mengajak publik menelusuri rekonstruksi perjalanan seni ukir Jepara sebagai bagian dari sejarah budaya Indonesia. Beragam karya memperlihatkan bagaimana bentuk, gaya, dan spesifikasi ukiran terus mengalami perkembangan seiring perubahan konteks sosial, ekonomi, hingga selera estetika pada setiap periode. Pola-pola ukiran yang lahir dari berbagai masa menjadi penanda identitas sekaligus merekam dinamika produksi yang berkembang di kota pesisir tersebut.
Bagi Jepara, seni ukir bukan hanya menghasilkan benda bernilai artistik, melainkan juga membentuk karakter masyarakatnya. Tradisi itu telah berkelindan dengan kehidupan warga selama berabad-abad, melahirkan kekhasan yang menjadi identitas kota sekaligus memperkuat posisi Jepara sebagai salah satu pusat seni ukir paling penting di Indonesia.
Judul pameran mengandung makna simbolik. Tatah, alat utama para pengukir, menjadi medium yang melahirkan suluk dan sulur, dua elemen visual yang terus berkembang dalam tradisi ukir Jepara. Dari tangan para perajin, tatah bukan sekadar perkakas kerja, tetapi instrumen yang menghidupkan kota, menjaga kesinambungan tradisi, dan menjadi denyut kehidupan ekonomi masyarakat. Setiap hentakan tatah mencerminkan pengalaman panjang yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Kurator pameran Soewarno Wisetrotomo mengatakan pameran ini berupaya merangkum sejarah panjang seni ukir Jepara melalui berbagai fase perkembangannya. Menurut dia, Jepara memiliki siklus yang khas dalam perjalanan seni ukir sehingga setiap periode menghadirkan karakter dan bahasa visual yang berbeda.
Ia menambahkan, perubahan dalam seni ukir tidak hanya dapat diamati dari bentuk visualnya, tetapi juga dari proses panjang yang membentuknya. “Perubahan tidak hanya dilihat tetapi juga diikuti, sebagaimana pengalaman tentang bagaimana ukiran dibentuk oleh waktu, konteks, dan inovasi,” katanya.Melalui pameran ini, Museum Nasional tidak hanya menghadirkan karya-karya ukir sebagai objek estetik, tetapi juga mengajak pengunjung memahami ukiran sebagai narasi sejarah yang terus bergerak. Setiap motif, detail pahatan, dan komposisi menjadi jejak perjalanan budaya yang memperlihatkan bagaimana tradisi mampu beradaptasi tanpa kehilangan akar. Pameran “Tatah: Suluk, Sulur dan Jepara” menjadi ruang refleksi bahwa seni ukir merupakan warisan hidup yang terus berkembang mengikuti zaman, sekaligus menjaga identitas budaya Jepara di tengah perubahan dunia. (FA)




