• Inacraft News
  • Editor’s Note
  • Redaksi
  • Info Iklan
Inacraft News
Inacraft on October 2026
  • Home
  • Cover Story
  • Focus ASEPHI
  • Product
  • SMEs
  • Design
  • Art
  • Inspiration
  • e-Magazine
  • Warta Inacraft
  • More …
    • Figure
    • Celebrity
    • Travel
    • Fashion
    • Regional Report
    • Tech Craft
    • Finance & Banking
    • Business
    • Vacation
    • CSR
    • Review
    • Event
    • Agenda Asephi
    • How to Do
    • QUIZ
No Result
View All Result
  • Home
  • Cover Story
  • Focus ASEPHI
  • Product
  • SMEs
  • Design
  • Art
  • Inspiration
  • e-Magazine
  • Warta Inacraft
  • More …
    • Figure
    • Celebrity
    • Travel
    • Fashion
    • Regional Report
    • Tech Craft
    • Finance & Banking
    • Business
    • Vacation
    • CSR
    • Review
    • Event
    • Agenda Asephi
    • How to Do
    • QUIZ
No Result
View All Result
Inacraft News
No Result
View All Result
Home Business

INACRAFT Festival Yogyakarta Bidik Transaksi Rp8 Miliar dan 25 Ribu Pengunjung

Eddy Purwanto by Eddy Purwanto
July 15, 2026
in Business, Agenda Asephi, Event, Focus ASEPHI
0
INACRAFT Festival Yogyakarta Bidik Transaksi Rp8 Miliar dan 25 Ribu Pengunjung
0
SHARES
6
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

YOGYAKARTA – Penyelenggaraan INACRAFT Festival Yogyakarta 2026 pada 15–19 Juli 2026 di Jogja Expo Center (JEC) menjadi tonggak baru bagi pengembangan industri kerajinan Indonesia. Untuk pertama kalinya, pameran kerajinan terbesar di Tanah Air hadir dalam format festival di luar Jakarta dengan mengusung filosofi Jawa Hamemayu Hayuning Bawana dan tema Craft Your Culture. Konsep tersebut tidak hanya memperluas akses promosi bagi pelaku usaha kecil dan menengah (UKM), tetapi juga mengintegrasikan perdagangan, budaya, pariwisata, dan kolaborasi internasional dalam satu ekosistem.

Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyambut positif penyelenggaraan festival tersebut. Kepala Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata DIY Iwan Permana mengatakan INACRAFT Festival menjadi momentum penting untuk memperkuat ekosistem ekonomi kreatif melalui kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, komunitas kreatif, sponsor, dan media.

“Kami mengapresiasi ASEPHI, panitia penyelenggara, para sponsor, dan seluruh mitra yang telah menghadirkan INACRAFT Festival 2026 di Yogyakarta. Kegiatan ini menjadi ruang strategis bagi pelaku industri kriya, ekonomi kreatif, dan berbagai pemangku kepentingan untuk terus berkembang,” ujar Iwan.

Menurut Iwan, penyelenggaraan INACRAFT tidak sekadar menghadirkan pameran produk kerajinan, tetapi juga menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi daerah. Kehadiran ribuan pengunjung, pelaku usaha, dan pembeli dari dalam maupun luar negeri diyakini mampu meningkatkan perputaran ekonomi sekaligus memperkuat daya saing produk kriya Indonesia.

Ia menilai Yogyakarta memiliki modal kuat sebagai kota budaya sekaligus pusat kreativitas nasional. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah daerah dan Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI) diharapkan mampu memperluas peluang promosi bagi para perajin dan UMKM agar mampu menembus pasar global.

“Yang kami harapkan bukan sekadar menghadirkan pameran, tetapi bagaimana kegiatan ini mampu mendorong bisnis dan perekonomian di Yogyakarta sekaligus memperkuat posisinya sebagai salah satu barometer ekonomi kreatif nasional,” katanya.

Filosofi Hamemayu Hayuning Bawana, yang bermakna menjaga dan memperindah harmoni kehidupan serta alam semesta, dinilai sejalan dengan semangat para perajin Indonesia dalam menghasilkan karya yang tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga mengandung nilai budaya, tradisi, dan keberlanjutan. Melalui tema tersebut, INACRAFT Festival ingin menghubungkan karya para artisan Nusantara dengan pasar dunia tanpa meninggalkan akar budaya lokal.

Ketua Umum ASEPHI Muchsin Ridjan mengatakan penyelenggaraan INACRAFT di Yogyakarta merupakan jawaban atas aspirasi anggota yang selama ini menghadapi berbagai kendala untuk mengikuti pameran di Jakarta. Biaya transportasi, akomodasi, hingga logistik menjadi tantangan bagi banyak perajin dan UKM di berbagai daerah.

“Karena itu kami mendekatkan pameran ke daerah agar lebih banyak anggota dapat berpartisipasi. Tujuan kami bukan sekadar menggelar pameran, tetapi meningkatkan harkat dan martabat para perajin serta membuka peluang ekspor yang lebih luas,” ujar Muchsin.

Menurut Muchsin, Yogyakarta dipilih karena memiliki identitas yang kuat sebagai kota budaya sekaligus destinasi wisata bertaraf internasional. Kekayaan tradisi, sentra kerajinan, serta dukungan penuh Pemerintah DIY menjadi modal penting untuk menghadirkan pengalaman yang berbeda dibanding penyelenggaraan INACRAFT di Jakarta.

Muchsin menegaskan, penyelenggaraan festival di Yogyakarta bukan berarti memindahkan pusat kegiatan dari Jakarta. Sebaliknya, langkah ini merupakan bagian dari strategi pemerataan agar manfaat ekonomi pameran dapat dirasakan lebih luas oleh para pelaku usaha di daerah. Muchsin menargetkan transaksi sebesar Rp8 miliar selama lima hari penyelenggaraan. Adapun jumlah pengunjung diproyeksikan mencapai 25 ribu orang.

“Kami ingin membawa INACRAFT lebih dekat kepada para perajin. Setelah Yogyakarta, kami juga merencanakan penyelenggaraan di Makassar, Balikpapan dan Medan agar semakin banyak UKM yang memperoleh kesempatan mengikuti pameran berskala internasional,” katanya.

Konsep baru INACRAFT Festival juga menjadi strategi ASEPHI untuk menjawab perubahan tren pameran global. Wakil Ketua Umum II ASEPHI Bidang Kerja Sama Regional dan Internasional Baby Jurmawati menjelaskan bahwa selama ini INACRAFT di Jakarta lebih dikenal sebagai trade fair yang mempertemukan eksportir dengan pembeli internasional. Di Yogyakarta, konsep tersebut dikembangkan menjadi festival yang menawarkan pengalaman budaya secara lebih utuh.

“Kalau di Jakarta sifatnya lebih sebagai trade fair. Di Yogyakarta kami ingin menghadirkan festival yang memberikan pengalaman baru bagi para visitor maupun buyer internasional,” ujar Baby.

Selain menikmati pameran, para buyer akan diajak mengunjungi workshop perajin, sentra kerajinan, kawasan budaya, hingga Candi Prambanan. Pendekatan berbasis pengalaman itu dinilai menjadi nilai tambah yang tidak dimiliki pameran dagang konvensional.

“Yang dicari buyer sekarang bukan hanya produk, tetapi juga pengalaman. Mereka ingin melihat bagaimana sebuah karya dibuat, mengenal budaya di baliknya, hingga bertemu langsung dengan para perajinnya,” katanya.

Delegasi buyer dan artisan internasional

ASEPHI mendatangkan partisipasi sekitar 10 negara melalui kehadiran paviliun internasional, antara lain Malaysia, Singapura, Thailand, Kamboja, Uzbekistan, Australia, India, Vietnam, Jepang, dan Inggris. Kehadiran mereka diharapkan membuka peluang transaksi sekaligus memperluas jejaring bisnis bagi para pelaku UKM Indonesia.

Baby mengungkapkan, Malaysia masih menjadi penyumbang buyer terbesar dalam penyelenggaraan INACRAFT. Namun, pada festival di Yogyakarta, Thailand menunjukkan antusiasme tinggi dengan membawa sekitar 30 buyer yang tidak hanya menghadiri pameran, tetapi juga mengikuti rangkaian kunjungan budaya dan sentra kerajinan.

Meski beberapa peserta dari Timur Tengah membatalkan kehadiran akibat situasi geopolitik di kawasan mereka, minat buyer dari Asia Pasifik tetap tinggi. Hal itu menunjukkan bahwa konsep festival budaya mampu menjadi daya tarik baru bagi pasar internasional.

Menurut Baby, penyelenggaraan INACRAFT Festival juga menjadi bagian dari strategi internasional ASEPHI melalui jejaring World Crafts Council (WCC), ASEAN Handicraft Promotion and Development Association (AHPADA), serta Asia Pacific Crafts Alliance (APCA). Kemitraan tersebut memungkinkan promosi produk kerajinan Indonesia dilakukan secara lebih luas melalui jaringan organisasi kerajinan dunia.

Ia optimis konsep yang memadukan perdagangan, budaya, dan pariwisata akan menjadi model baru pengembangan INACRAFT pada masa mendatang. Bagi ASEPHI, keberhasilan pameran tidak lagi diukur semata dari nilai transaksi, tetapi juga dari kemampuan membangun hubungan bisnis jangka panjang dan memperkuat citra Indonesia sebagai salah satu pusat industri kriya dunia.

“Yang kami bangun bukan hanya transaksi, tetapi pengalaman. Ketika buyer merasa puas dengan pengalaman yang mereka dapatkan di Indonesia, peluang mereka kembali dan membangun kerja sama jangka panjang akan semakin besar. Pada akhirnya manfaatnya akan dirasakan langsung oleh para perajin dan UKM di berbagai daerah,” ujar Baby.

Previous Post

INACRAFT Festival Yogyakarta Buka Jalan ke Pasar Global

Next Post

INACRAFT Festival Jogja Hadirkan Ekosistem Kriya Digital

Next Post
INACRAFT Festival Jogja Hadirkan Ekosistem Kriya Digital

INACRAFT Festival Jogja Hadirkan Ekosistem Kriya Digital

Please login to join discussion

E-Magazine Inacraft News

Warta Inacraft

INACRAFT NEWS

INACRAFT NEWS diterbitkan oleh Badan Pengurus Pusat Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (BPP ASEPHI)

Jl. Wijaya I No.3A, – Kebayoran Baru Jakarta Selatan 12170
Phone: (62 21) 725 2032, 725 2033, 725 2063
Fax.: (62 21) 725 2062
Email: redaksi@inacraftnews.com

Redaksi

  • Inacraft News
  • Editor’s Note
  • Redaksi
  • Info Iklan

Network

  • ASEPHI
  • Inacraft Award
  • Inacraft
  • Emerging Award
  • Inacraft News
  • Editor’s Note
  • Redaksi
  • Info Iklan

Inacraft News © 2023 ASEPHI - by Kolabo

No Result
View All Result
  • Home
  • Cover Story
  • Focus ASEPHI
  • Product
  • SMEs
  • Design
  • Art
  • Inspiration
  • e-Magazine
  • Warta Inacraft
  • More …
    • Figure
    • Celebrity
    • Travel
    • Fashion
    • Regional Report
    • Tech Craft
    • Finance & Banking
    • Business
    • Vacation
    • CSR
    • Review
    • Event
    • Agenda Asephi
    • How to Do
    • QUIZ

Inacraft News © 2023 ASEPHI - by Kolabo