YOGYAKARTA – INACRAFT Festival Yogyakarta 2026 tidak hanya menjadi panggung bagi produk kriya Nusantara, tetapi juga ruang untuk memperkenalkan identitas budaya Yogyakarta kepada publik. Dalam rangkaian INACRAFT Talks yang digelar di Jogja Expo Center (JEC), Jumat, 17 Juli 2026, Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta membedah buku City of Philosophy, sebuah publikasi yang mengulas konsep Sumbu Filosofi Yogyakarta yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO.
Arkeolog independen sekaligus Koordinator Bidang Profesi Perkumpulan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) Komisariat Daerah Istimewa Yogyakarta–Jawa Tengah, Jujun Kurniawan, mengatakan buku tersebut bukan sekadar publikasi sejarah atau promosi pariwisata. Menurut dia, buku itu menjadi pijakan untuk memahami bagaimana Yogyakarta dibangun berdasarkan nilai-nilai filosofis yang menyatu dengan tata ruang kota.
“Kesimpulan saya sebagai pembaca, Yogyakarta bukan sekadar kota yang memiliki filosofi, tetapi sejak awal memang dirancang sebagai ekspresi dari filosofi itu sendiri,” ujar Jujun.
Ia menjelaskan, City of Philosophy pertama kali disusun pada 2015 sebagai bagian dari dokumen pendukung pengajuan Sumbu Filosofi Yogyakarta ke UNESCO. Edisi yang diperkenalkan dalam INACRAFT Festival 2026 merupakan cetakan kelima dengan jumlah terbatas dan diterbitkan menggunakan anggaran pemerintah daerah sehingga tidak diperjualbelikan secara komersial.
Menurut Jujun, buku tersebut juga merepresentasikan arah kebijakan pelestarian budaya Yogyakarta. Melalui publikasi itu, pemerintah berupaya menyampaikan kepada masyarakat bahwa nilai-nilai budaya bukan hanya bagian dari masa lalu, tetapi menjadi landasan pembangunan kota pada masa kini dan mendatang.
Selama hampir delapan tahun mendampingi Tim Ahli Cagar Budaya DIY, Jujun mengaku terlibat dalam penyusunan ratusan naskah rekomendasi cagar budaya tingkat provinsi. Berbagai kajian historis dan hukum itu kemudian menjadi salah satu fondasi dalam penyusunan narasi besar yang mendukung pengakuan UNESCO terhadap Sumbu Filosofi Yogyakarta.
Dalam paparannya, Jujun juga menyoroti ilustrasi Pangeran Mangkubumi atau Sri Sultan Hamengkubuwono I yang menghiasi bagian awal buku. Ilustrasi tersebut merupakan reproduksi lukisan karya seniman Yogyakarta Hariadi Sumodidjojo pada 1947.
Menurut dia, hingga kini tidak ada dokumentasi visual autentik mengenai sosok Sri Sultan Hamengkubuwono I. Karena itu, lukisan tersebut menjadi interpretasi artistik yang telah memperoleh persetujuan dari Keraton Yogyakarta sebagai representasi tokoh pendiri kota.
Visual itu menampilkan Pangeran Mangkubumi menunggang kuda dengan perlengkapan perang lengkap, sebagai simbol kepemimpinan, perjuangan, dan visi dalam membangun Yogyakarta.
Jujun juga mengingatkan masyarakat agar berhati-hati terhadap peredaran buku City of Philosophy yang dijual melalui berbagai marketplace. Sebab, buku tersebut dicetak secara terbatas dan tidak diperuntukkan bagi penjualan umum.
Meski demikian, ia menilai pemerintah dapat mempertimbangkan penerbitan komersial pada masa mendatang agar publik memiliki akses yang lebih luas terhadap informasi mengenai Sumbu Filosofi Yogyakarta.
Bagi pengunjung INACRAFT Festival Yogyakarta 2026 yang tidak memperoleh buku cetak, panitia menyediakan versi digital yang dapat diunduh melalui kode QR. Publikasi dwibahasa Indonesia–Inggris itu diharapkan menjadi sarana edukasi bagi masyarakat sekaligus memperkuat pemahaman mengenai nilai budaya yang menjadi identitas Yogyakarta di tingkat dunia.





