YOGYAKARTA – Transformasi pembayaran digital semakin terlihat dalam penyelenggaraan INACRAFT Festival Yogyakarta 2026. Pameran kerajinan yang berlangsung pada 15–19 Juli 2026 di Jogja Expo Center (JEC) itu menunjukkan mayoritas transaksi ritel dilakukan secara nontunai melalui berbagai platform pembayaran yang didukung Bank Mandiri sebagai sponsor utama acara.
Sebagai penyelenggaraan perdana INACRAFT di luar Jakarta, festival ini diikuti 250 peserta pameran dari berbagai daerah di Indonesia dengan target transaksi ritel sebesar Rp8 miliar selama lima hari penyelenggaraan. Antusiasme pengunjung tidak hanya tercermin dari tingginya jumlah transaksi digital, tetapi juga dari penjualan sejumlah brand lokal yang mencatatkan performa ritel menggembirakan.
Beberapa peserta pameran seperti Serlium Leather, Shoeka, Batik Nitiswastra, Batik Perada, hingga produsen sepatu kulit Keewa melaporkan penjualan ritel yang sangat baik sepanjang pameran. Produk fesyen, kulit, dan wastra menjadi salah satu kategori yang paling banyak diminati pengunjung, terutama menjelang akhir pekan ketika jumlah pengunjung meningkat signifikan.

Berdasarkan data transaksi Bank Mandiri hingga 18 Juli 2026, Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) menjadi metode pembayaran yang paling banyak digunakan dengan porsi 76 persen dari seluruh transaksi. Dominasi QRIS menunjukkan semakin tingginya preferensi masyarakat terhadap pembayaran menggunakan aplikasi mobile banking maupun dompet digital hanya dengan memindai kode QR di setiap stan peserta.
Kemudahan transaksi tanpa uang tunai, proses yang cepat, serta kompatibilitas dengan berbagai aplikasi pembayaran menjadi faktor utama tingginya penggunaan QRIS selama pameran. Sistem tersebut juga memudahkan pelaku UMKM menerima pembayaran tanpa harus menyediakan uang kembalian maupun perangkat tambahan.
Di posisi berikutnya, kartu kredit menyumbang 12 persen transaksi. Metode ini umumnya digunakan pengunjung yang membeli produk dengan nilai lebih tinggi, seperti furnitur, karya seni, maupun produk kriya premium. Selain menawarkan fleksibilitas pembayaran, kartu kredit juga dimanfaatkan untuk berbagai program promosi dan fasilitas cicilan yang tersedia selama penyelenggaraan pameran.
Sementara itu, kartu debit berkontribusi 11 persen terhadap total transaksi. Penggunaan kartu debit masih menjadi pilihan bagi pengunjung yang ingin bertransaksi langsung menggunakan saldo rekening tanpa harus membawa uang tunai.
Selain melihat jenis instrumen pembayaran, data Bank Mandiri juga memperlihatkan perubahan pola penggunaan perangkat transaksi oleh para tenant. Sebanyak 52 persen transaksi diproses melalui Electronic Data Capture (EDC) Bank Mandiri, yakni mesin pembayaran yang melayani transaksi kartu debit, kartu kredit, maupun QRIS.
Adapun 48 persen transaksi dilakukan melalui Livin’ Merchant, platform digital yang memungkinkan pelaku usaha menerima pembayaran QRIS secara langsung melalui aplikasi tanpa bergantung pada mesin EDC konvensional. Solusi ini dinilai lebih praktis, terutama bagi pelaku UMKM yang mengutamakan mobilitas dan efisiensi operasional.
Hampir seimbangnya penggunaan EDC dan Livin’ Merchant menunjukkan proses digitalisasi pembayaran di sektor UMKM mulai berkembang. Selain mempertahankan infrastruktur pembayaran konvensional, para pelaku usaha juga mulai memanfaatkan aplikasi berbasis digital untuk mempercepat layanan kepada pelanggan.
Tingginya penggunaan pembayaran digital berjalan seiring dengan meningkatnya transaksi ritel di berbagai stan peserta. Kondisi tersebut menjadi sinyal positif bahwa pengunjung tidak hanya datang untuk melihat produk, tetapi juga melakukan pembelian secara langsung. Pola belanja itu turut mendorong optimisme pelaku usaha bahwa penyelenggaraan INACRAFT Festival di Yogyakarta mampu menjadi pasar baru yang potensial bagi industri kriya nasional.
Penerapan ekosistem pembayaran nontunai selama INACRAFT Festival Yogyakarta 2026 menjadi bagian dari upaya memperkuat digitalisasi sektor ekonomi kreatif. Bagi pelaku usaha kriya, kemudahan menerima berbagai metode pembayaran diharapkan mampu meningkatkan kenyamanan bertransaksi sekaligus memperluas peluang penjualan kepada pengunjung domestik maupun mancanegara.
Dominasi QRIS dalam pameran ini sekaligus mencerminkan perubahan perilaku konsumen Indonesia yang semakin terbiasa menggunakan pembayaran digital. Tingginya penjualan yang dirasakan sejumlah brand laris menjadi gambaran bahwa digitalisasi pembayaran kini berjalan beriringan dengan meningkatnya daya beli masyarakat terhadap produk-produk kriya lokal.





