YOGYAKARTA – Keputusan membawa produk perhiasan handmade asal Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT), ke INACRAFT Festival Yogyakarta 2026 membuahkan hasil manis bagi jenama Tarakedu Kayuri. Pameran yang berlangsung pada 15–19 Juli 2026 di Jogja Expo Center (JEC) itu menjadi penyelenggaraan perdana INACRAFT di luar Jakarta dan berhasil mencatatkan penjualan yang melampaui ekspektasi sejumlah peserta.
Owner Tarakedu Kayuri, Wilson mengaku sejak awal optimistis mengikuti penyelenggaraan perdana di Yogyakarta. Pengalaman lima kali mengikuti INACRAFT di Jakarta membuatnya yakin pasar kriya di Kota Gudeg juga memiliki potensi besar.
“Ternyata hasilnya sangat bagus. Di luar yang saya bayangkan,” kata Wilson saat ditemui di stan Tarakedu.
Optimisme itu terbukti dari penjualan selama pameran. Hingga sehari menjelang penutupan, sekitar 70 persen stok perhiasan handmade yang dibawa dari Sumba telah terjual. Nilai transaksi yang dibukukan pun mendekati ratusan juta rupiah, dan Wilson berharap seluruh produk dapat habis terjual pada hari terakhir pameran.
“Saya berharap di hari terakhir semua produk bisa habis terjual,” ujarnya.
Tarakedu menghadirkan koleksi perhiasan dan asesoris buatan tangan dari serat logam yang mengangkat identitas budaya Sumba melalui sentuhan desain kontemporer. Produk-produk tersebut tidak hanya diminati pengunjung domestik, tetapi juga telah memasuki pasar internasional.
Wilson mengatakan perhiasan Tarakedu saat ini telah diekspor ke sejumlah negara, antara lain Australia, Inggris, Turki, Spanyol, hingga Barcelona, Spanyol. Menurut dia, tingginya minat pasar luar negeri menjadi bukti bahwa produk kriya berbasis budaya lokal memiliki daya saing di pasar global.
Keberhasilan di Yogyakarta semakin memperkuat keyakinannya untuk kembali mengikuti INACRAFT apabila festival tersebut digelar pada tahun-tahun berikutnya.
“Saya pasti ikut lagi kalau ada INACRAFT di Jogja,” katanya.
Selain mencatatkan penjualan yang positif, Wilson menilai penyelenggaraan festival berjalan dengan baik. Ia mengapresiasi kesiapan panitia, mulai dari proses persiapan hingga pelayanan selama pameran berlangsung.

Menurut dia, biaya sewa stan di Yogyakarta juga lebih terjangkau dibandingkan penyelenggaraan di Jakarta. Kondisi itu memberikan ruang yang lebih besar bagi pelaku usaha untuk memperoleh keuntungan tanpa harus dibebani biaya operasional yang tinggi.
“Harga stan sangat terjangkau dibandingkan Jakarta, sehingga margin usaha juga lebih baik,” ujarnya.
Bagi Wilson, penyelenggaraan INACRAFT di Yogyakarta bukan hanya membuka peluang bisnis, tetapi juga menjadi media promosi budaya Sumba kepada masyarakat yang lebih luas. Ia berharap semakin banyak masyarakat di daerah asalnya yang terlibat dalam industri kerajinan sehingga mampu menciptakan lapangan kerja baru.
Menurutnya, potensi kerajinan Sumba, mulai dari kain tenun hingga aksesori handmade, masih sangat besar untuk dikembangkan sebagai komoditas ekspor.
“Saya berharap semakin banyak masyarakat Sumba yang terlibat dalam kerajinan tangan. Potensinya besar dan bisa membuka lapangan pekerjaan sekaligus memperkenalkan budaya Sumba ke dunia,” katanya.
Keberhasilan Tarakedu menjadi salah satu gambaran positif penyelenggaraan INACRAFT Festival Yogyakarta 2026. Selain mempertemukan pelaku usaha dengan pembeli dari berbagai daerah, festival ini juga membuka peluang ekspor yang lebih luas bagi produk kriya Indonesia berbasis budaya lokal.




