Keharuman teh khas keraton menyambut setiap langkah pengunjung yang memasuki area Indonesia Fashion Week (IFW) 2026 di Jakarta Convention Center, Kamis, 30 Juli 2026. Aroma lembut yang dihadirkan melalui kolaborasi jenama wewangian Dahlia menjadi bagian dari pengalaman baru dalam menikmati pertunjukan mode bertajuk Pesona Dahlia.
Berbeda dengan peragaan busana yang hanya mengandalkan kekuatan visual, gelaran ini menghadirkan pengalaman multisensori. Sejak memasuki area pertunjukan hingga duduk di depan panggung, pengunjung diajak menikmati keharuman Dahlia Teh Keraton yang dirancang sebagai identitas atmosfer peragaan.
Perwakilan penyelenggara dan kolaborator Dahlia mengatakan konsep tersebut merupakan sebuah fragrance journey. “Kami ingin memberikan pengalaman perjalanan pancaindra. Sejak pintu masuk hingga panggung fashion show, pengunjung diajak mencium keharuman yang nantinya menjadi kenangan tersendiri,” ujarnya.
Aroma teh dipilih karena dianggap dekat dengan keseharian masyarakat Indonesia sekaligus memiliki nilai budaya yang kuat. Wewangian itu diracik untuk menghadirkan kesan hangat, menenangkan, sekaligus elegan, menjadi pelengkap tema peragaan yang memadukan mode, budaya, dan emosi.
Salah satu desainer yang tampil, Adith, mengaku keharuman tersebut membantunya menjaga ketenangan di tengah proses persiapan koleksi bertajuk The Chronicle. Menurut dia, koleksi itu menjadi penanda perjalanan kreatif sekaligus pendewasaan dalam memandang dunia mode.
“Dulu saya berpikir desain harus memuaskan hati saya sendiri. Namun seiring waktu saya sadar busana harus memberi manfaat bagi sekeliling. Fashion harus beriringan dengan kepedulian sosial dan budaya,” kata Adith.
Gagasan itu diwujudkan melalui penggunaan material daur ulang, termasuk mengubah manekin bekas menjadi karya korset artistik. Ia juga memanfaatkan limbah kain serta merangkai detail kristal secara manual. Dalam proses produksinya, Adith melibatkan penjahit rumahan dan perajin payet sebagai bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat.
Selaras dengan tema utama IFW 2026 yang mengangkat wastra ulos, Adith memadukan kain tradisional Batak ke dalam siluet modern. Menurut dia, identitas budaya lokal menjadi kekuatan utama desainer Indonesia di tengah derasnya arus tren mode global.
Adith juga mengaku aroma Dahlia Teh Keraton membangkitkan kenangan masa kecilnya di Bali. “Aroma ini membawa memori saya kembali ke masa kecil. Rasanya seperti pulang ke rumah, tenang dan damai. Ketenangan itu yang saya tuangkan sepenuhnya ke dalam karya,” ujarnya.

Nuansa serupa juga hadir dalam koleksi Allure karya Susan Zhuang. Dengan waktu persiapan sekitar tiga pekan, Susan mengaku sempat menghadapi tekanan untuk menyelesaikan seluruh koleksinya. Namun, menurut dia, proses perenungan yang ditemani aroma teh dan bunga Dahlia justru membantu menemukan arah kreatif.
Melalui Allure, Susan mengeksplorasi kelembutan dan keanggunan perempuan modern. Ia menghadirkan gaun-gaun bernuansa musim panas dengan palet warna seperti powder yellow, hijau matcha, dan pistachio. Untuk menghasilkan tekstur yang kaya, Susan menggunakan teknik airbrush dan lukis tangan di atas kain, dipadukan dengan ornamen bunga tiga dimensi serta lipatan yang terinspirasi bentuk daun teh.
“Saya ingin menampilkan kemewahan di dalam kesederhanaan, serta kepercayaan diri yang lahir dari ketenangan,” kata Susan.
Kolaborasi antara dunia mode dan wewangian dalam Pesona Dahlia memperlihatkan bahwa sebuah peragaan busana dapat menghadirkan pengalaman yang lebih utuh. Di atas panggung IFW 2026, kain tradisional, praktik berkelanjutan, dan aroma yang membangkitkan memori berpadu menjadi narasi tentang identitas budaya yang disampaikan melalui bahasa fesyen





