Kepadatan bangunan, minimnya ruang hijau, jalanan yang dipenuhi aspal, kemacetan, hingga polusi udara menjadi gambaran yang kerap melekat pada wajah kota-kota besar. Kawasan Jalan Sudirman dan Jalan MH Thamrin di Jakarta bahkan acap dijuluki sebagai “hutan beton”, sebuah ungkapan yang mencerminkan kerinduan masyarakat terhadap ruang alam yang semakin terdesak oleh pembangunan.
Gagasan itulah yang menjadi titik tolak pameran seni rupa bertajuk “Urban Blooms: A Fusion of Reality and Abstractions” yang menghadirkan karya empat seniman, yakni Lanny Andriani, Neneng Sia Ferrier, Iryanto Hadi, dan Ulil Gama. Pameran dibuka pada Kamis malam, 6 Agustus 2026, di Sunrise Art Gallery, Fairmont Jakarta, Level 2.
Pemikiran mengenai kontras antara alam dan kota dituangkan kurator Efix Mulyadi dalam pengantar pameran. Ia menggambarkan lingkungan perkotaan sebagai ruang yang dipenuhi bangunan, pepohonan yang kian langka, serta udara yang tercemar oleh emisi kendaraan. Julukan “hutan beton” untuk kawasan bisnis Jakarta, menurutnya, menjadi refleksi kerinduan manusia terhadap lingkungan alam yang relatif masih utuh.
“Kerinduan itu kemudian diwujudkan dalam bentuk sederhana, seperti menghadirkan taman sekecil apa pun di sisa halaman rumah,” tulis Efix dalam naskah kuratorial pameran.
Direktur Sunrise Art Gallery, Jessica Senjaya, mengatakan pameran ini memperlihatkan hubungan yang saling bertaut antara bunga-bunga yang mekar dengan lanskap perkotaan yang keras dan padat. Melalui pendekatan visual yang berbeda, keempat seniman menghadirkan interpretasi masing-masing mengenai kehadiran alam di tengah kehidupan urban.
Menurut Jessica, pameran tersebut juga menjadi ruang kolaborasi yang berangkat dari sebuah komitmen sederhana antarseniman. “Pameran ini bermula dari sebuah janji yang dengan cepat berkembang menjadi perjalanan indah dalam berkarya dan melampaui batasan artistik, sembari tetap setia pada ekspresi kreatif masing-masing seniman,” ujarnya.
Melalui ragam karya yang dipamerkan, “Urban Blooms: A Fusion of Reality and Abstractions” mengajak pengunjung melihat bunga bukan sekadar objek estetis, melainkan simbol daya hidup yang terus tumbuh di tengah dominasi lanskap urban. Di balik hiruk-pikuk kota dan deretan gedung pencakar langit, pameran ini menghadirkan pengingat bahwa hubungan manusia dengan alam tidak pernah benar-benar hilang, melainkan terus mencari ruang untuk berkembang. (FA)




