• Inacraft News
  • Editor’s Note
  • Redaksi
  • Info Iklan
Inacraft News
Inacraft on October 2026
  • Home
  • Cover Story
  • Focus ASEPHI
  • Product
  • SMEs
  • Design
  • Art
  • Inspiration
  • e-Magazine
  • Warta Inacraft
  • More …
    • Figure
    • Celebrity
    • Travel
    • Fashion
    • Regional Report
    • Tech Craft
    • Finance & Banking
    • Business
    • Vacation
    • CSR
    • Review
    • Event
    • Agenda Asephi
    • How to Do
    • QUIZ
No Result
View All Result
  • Home
  • Cover Story
  • Focus ASEPHI
  • Product
  • SMEs
  • Design
  • Art
  • Inspiration
  • e-Magazine
  • Warta Inacraft
  • More …
    • Figure
    • Celebrity
    • Travel
    • Fashion
    • Regional Report
    • Tech Craft
    • Finance & Banking
    • Business
    • Vacation
    • CSR
    • Review
    • Event
    • Agenda Asephi
    • How to Do
    • QUIZ
No Result
View All Result
Inacraft News
No Result
View All Result
Home Cover Story

Peluang Kreator Indonesia: Dari Karya Kreatif Menjadi Sumber Penghasilan

Eddy Purwanto by Eddy Purwanto
August 19, 2026
in Cover Story
0
Peluang Kreator Indonesia: Dari Karya Kreatif Menjadi Sumber Penghasilan

Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif

0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Bagi kreator, membuat karya bukan lagi sekadar perkara ekspresi. Di tengah berkembangnya ekonomi digital, karya dapat menjadi aset yang menghasilkan pendapatan melalui lisensi, kolaborasi, hingga berbagai model komersialisasi.

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) Irene Umar mendorong para kreator Indonesia melihat peluang tersebut saat menghadiri IdeaFriends After Hours: Creator Economy di Taman Arca, Museum Nasional Indonesia, Jakarta, Sabtu, 15 Agustus 2026.

Kegiatan yang digelar melalui kolaborasi Kementerian Ekraf, Indosat Ooredoo Hutchison, Adobe, Museum Nasional Indonesia, dan IdeaFest itu mempertemukan sekitar 100 kreator. Mereka mendapat kesempatan belajar, membangun jejaring, mencoba teknologi kreatif, sekaligus mengenali peluang monetisasi karya.

Menurut Irene, ekosistem kreatif tidak cukup hanya menyediakan ruang bagi seseorang untuk menciptakan karya. Kreator juga membutuhkan akses teknologi, pengetahuan bisnis, komunitas, dan jalur untuk mengubah kreativitas menjadi sumber penghidupan.

“Para kreator membutuhkan akses terhadap teknologi, kesempatan untuk belajar, komunitas untuk berkolaborasi, dan kesempatan untuk menjadikan kreativitas mereka sebagai sumber penghidupan dan karier,” kata Irene.

Acara tersebut memadukan ruang budaya dengan teknologi kreatif. Sejumlah agenda digelar, antara lain Tur Malam di Museum, Adobe Express Template Challenge, Lightning Talks, pengenalan komunitas, dan sesi jejaring.

Adobe juga memperkenalkan program Create and Earn. Melalui program ini, kreator dapat membuat template di Adobe Express dan memperoleh imbalan berdasarkan karya serta tingkat penggunaan template yang mereka hasilkan.

Bagi pemerintah, skema semacam itu memperlihatkan perubahan dalam cara karya kreatif menghasilkan nilai ekonomi. Kreator tidak lagi hanya bergantung pada penjualan produk akhir, tetapi dapat memperoleh pendapatan dari pemanfaatan berulang atas karya dan kekayaan intelektual yang dimilikinya.

Irene mengatakan penguatan ekosistem tersebut perlu menjangkau kreator di luar Jakarta. Talenta di daerah, kata dia, harus memperoleh kesempatan yang sama untuk belajar, berkolaborasi, memperkenalkan karya, dan menjangkau pasar yang lebih luas.

“Semangat yang kami bangun adalah create, connect, and earn,” ujar Irene.

Menurut dia, create berarti membuka akses dan kesempatan bagi kreator untuk berkarya. Connect menghubungkan mereka dengan teknologi, pemerintah, industri, dan komunitas. Adapun earn memastikan karya kreatif dapat menghasilkan nilai ekonomi dan menjadi sumber pendapatan.

Irene juga menyoroti pentingnya membangun pemahaman mengenai kekayaan intelektual sejak dini. Kreator, terutama generasi muda, perlu mengenali bahwa karya yang mereka hasilkan memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi aset.

Pengembangan itu dapat dilakukan melalui berbagai model, mulai dari lisensi, kolaborasi dengan merek, hingga komersialisasi dalam bentuk produk dan layanan. Perlindungan kekayaan intelektual menjadi salah satu fondasi agar nilai ekonomi tersebut dapat terus berkembang.

Dengan 21 subsektor ekonomi kreatif, Irene melihat ruang pengembangan karya dan kekayaan intelektual Indonesia masih terbuka lebar. Tantangannya adalah menghubungkan kreativitas dengan teknologi, model bisnis, dan akses pasar.

Director & Chief Legal and Regulatory Officer Indosat Ooredoo Hutchison Reski Damayanti mengatakan kekayaan budaya dan alam Indonesia merupakan modal penting dalam pengembangan ekonomi kreatif.

“Budaya kita adalah salah satu keunikan terbesar Indonesia. Karena itu, kita membutuhkan teman-teman dari ekosistem kreator untuk mengembangkan budaya kita menjadi sesuatu yang bernilai dan dapat dikenal dunia,” kata Reski.

Kolaborasi pemerintah, perusahaan teknologi, operator telekomunikasi, komunitas, dan institusi budaya menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem tersebut.

IdeaFriends After Hours: Creator Economy juga menunjukkan perubahan fungsi ruang budaya. Museum tidak hanya menjadi tempat untuk melihat koleksi, tetapi dapat menjadi ruang pertemuan kreator, pertukaran gagasan, eksperimen teknologi, dan pengembangan jejaring ekonomi kreatif.

Bagi para kreator, ruang semacam ini membuka kemungkinan untuk mempertemukan gagasan dengan teknologi dan pasar. Sementara bagi pemerintah dan industri, kolaborasi tersebut menjadi sarana untuk memperluas basis talenta serta memperkuat rantai nilai ekonomi kreatif.

Pada akhirnya, tantangan ekonomi kreatif bukan lagi semata bagaimana menghasilkan karya yang menarik. Persoalan berikutnya adalah bagaimana karya tersebut memiliki identitas, terlindungi sebagai kekayaan intelektual, memiliki model bisnis, dan mampu menghasilkan pendapatan secara berkelanjutan.

Melalui kolaborasi lintas sektor itu, Kementerian Ekraf berharap semakin banyak kreator Indonesia yang mampu bergerak dari sekadar pencipta karya menjadi pemilik aset kreatif yang memiliki nilai ekonomi dan dapat bersaing di pasar yang lebih luas.

Tags: ekrafIdeaFestIrene UmarMuseum Nasional Indonesia
Previous Post

Pinisi Nusantara: Merawat Identitas Maritim dengan Seni dan Material Daur Ulang

Please login to join discussion

E-Magazine Inacraft News

Warta Inacraft

INACRAFT NEWS

INACRAFT NEWS diterbitkan oleh Badan Pengurus Pusat Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (BPP ASEPHI)

Jl. Wijaya I No.3A, – Kebayoran Baru Jakarta Selatan 12170
Phone: (62 21) 725 2032, 725 2033, 725 2063
Fax.: (62 21) 725 2062
Email: redaksi@inacraftnews.com

Redaksi

  • Inacraft News
  • Editor’s Note
  • Redaksi
  • Info Iklan

Network

  • ASEPHI
  • Inacraft Award
  • Inacraft
  • Emerging Award
  • Inacraft News
  • Editor’s Note
  • Redaksi
  • Info Iklan

Inacraft News © 2023 ASEPHI - by Kolabo

No Result
View All Result
  • Home
  • Cover Story
  • Focus ASEPHI
  • Product
  • SMEs
  • Design
  • Art
  • Inspiration
  • e-Magazine
  • Warta Inacraft
  • More …
    • Figure
    • Celebrity
    • Travel
    • Fashion
    • Regional Report
    • Tech Craft
    • Finance & Banking
    • Business
    • Vacation
    • CSR
    • Review
    • Event
    • Agenda Asephi
    • How to Do
    • QUIZ

Inacraft News © 2023 ASEPHI - by Kolabo