Ribuan orang menyaksikan kisah perempuan dari berbagai penjuru Nusantara di panggung Indonesia Arena, Senayan, Jakarta, Ahad, 23 Agustus 2026. Lewat Pagelaran Sabang Merauke: Hanya Indonesia yang Punya 2026, legenda, musik, tari, dan busana tradisional dirangkai menjadi pertunjukan kolosal bertajuk Hikayat Srikandi Nusantara.
Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif mengapresiasi penyelenggaraan pagelaran yang konsisten digelar sejak 2022 tersebut. Menteri Ekraf Teuku Riefky Harsya menilai pertunjukan tahun ini mampu mengemas kekayaan budaya dalam bentuk yang lebih dekat dengan selera penonton masa kini.
“Saya sangat mengapresiasi dan juga sangat bangga karena dalam Pagelaran Sabang Merauke saya melihat bagaimana budaya, legenda ditampilkan dengan sangat kreatif,” kata Teuku Riefky seusai pertunjukan.
Menurut dia, kekuatan pagelaran bukan hanya pada cerita dan tarian. Penggunaan teknologi serta perpaduan musik dan pakaian adat membuat pertunjukan tradisional tampil dalam format yang lebih modern.
Pagelaran Sabang Merauke Indonesian Broadway merupakan pertunjukan kolosal yang digagas iForte. Teater, tari, musik dan parade busana etnik Nusantara dipadukan dalam satu panggung besar. Pertunjukan berlangsung selama tiga hari, 21 hingga 23 Agustus 2026.
Tema Hikayat Srikandi Nusantara menyoroti kisah perempuan dari berbagai cerita rakyat Indonesia. Tokoh-tokoh tersebut tidak sekadar hadir sebagai karakter dalam pertunjukan, tetapi menjadi pintu untuk memperkenalkan nilai keteladanan dan peran perempuan dalam narasi budaya Nusantara.
Skala produksinya pun besar. Sebanyak 1.700 orang terlibat dalam pertunjukan, termasuk 700 seniman dan 387 penari. Lebih dari 1.500 kostum digunakan untuk membangun visual panggung yang menggambarkan keragaman tradisi Indonesia.
Wakil Menteri Ekraf Irene Umar yang menyaksikan pertunjukan pada Sabtu, 22 Agustus 2026, melihat pagelaran tersebut sebagai salah satu cara mempertemukan generasi muda dengan warisan budaya melalui bahasa pertunjukan kontemporer.
Ia menilai perpaduan teater, tari dan musik memperlihatkan bagaimana industri kreatif dapat bekerja secara menyeluruh, dari penciptaan karya hingga produksi pertunjukan.
“Melihat pagelaran tadi, pertama, yang dirasakan yaitu bangga jadi orang Indonesia,” ujar Irene.
Menurut Irene, kekuatan pertunjukan terletak pada kemampuannya menghadirkan keragaman budaya Indonesia tanpa kehilangan benang merah persatuan.
Sutradara Pagelaran Sabang Merauke: Hanya Indonesia yang Punya 2026, Rusmedie Agus, berharap pertunjukan tersebut tidak berhenti sebagai tontonan tahunan. Ia ingin pagelaran menjadi ruang yang terus mempertemukan masyarakat, terutama generasi muda, dengan tradisi dan kebudayaan Indonesia.
“Harapan kami ini akan menjadi satu agenda yang terus-menerus dapat dinikmati, mengapresiasi gelar tradisi dan kebudayaan,” kata Rusmedie.
Empat tahun sejak pertama digelar, Pagelaran Sabang Merauke menunjukkan bahwa tradisi dapat berpindah medium tanpa harus kehilangan identitasnya. Di tangan produksi panggung, cerita rakyat, tarian dan busana adat tidak hanya menjadi arsip masa lalu, tetapi kembali hidup di hadapan penonton generasi baru.




