Pameran waralaba dan kemitraan The 25th International Franchise, License and Business Concept Expo & Conference atau IFRA 2026 resmi dibuka di Hall 7 Indonesia Convention Exhibition (ICE), BSD City, Tangerang, Jumat, 28 Agustus 2026. Pameran yang digelar Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) bersama Dyandra Promosindo itu berlangsung hingga 30 Agustus 2026.
Sebanyak 250 merek dari 175 perusahaan mengikuti pameran yang mempertemukan pemilik merek, pelaku usaha, calon mitra, dan investor tersebut. Berbagai sektor hadir dalam ajang ini, mulai dari makanan dan minuman, pendidikan, kesehatan, ritel, hingga layanan dan konsep bisnis lainnya.
IFRA tahun ini mengusung tema Empowering the Growth of Ethical Franchising. Tema tersebut menekankan pentingnya pertumbuhan bisnis waralaba dan kemitraan yang berlandaskan tata kelola, standar usaha, dan tanggung jawab bisnis.
Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan, Iqbal Shoffan Shofwan, mengatakan waralaba menjadi salah satu instrumen untuk mendorong pertumbuhan kewirausahaan nasional sekaligus memperkuat merek lokal.
Menurut Iqbal, tingkat kewirausahaan di Indonesia masih sekitar 3,29 persen dan perlu terus ditingkatkan. Skema waralaba, kata dia, memberi peluang bagi pelaku usaha untuk menjalankan bisnis dengan sistem yang telah dibangun, meski tetap memiliki risiko seperti bentuk usaha lainnya.
Ia juga menyoroti perubahan komposisi merek dalam perkembangan industri waralaba nasional. Jika sekitar sepuluh tahun lalu sebagian besar Surat Tanda Pendaftaran Waralaba atau STPW didominasi merek asing, kini jumlah pendaftaran merek lokal disebut telah melampaui merek dari luar negeri.
“Kalau sepuluh tahun lalu 70 persen STPW didominasi merek asing, sekarang merek lokal sudah unggul dengan 169 pendaftaran dibanding 163 dari luar negeri,” ujar Iqbal.
Ia mengatakan pemerintah akan tetap mengambil peran sebagai fasilitator dalam pengembangan ekosistem waralaba. Salah satunya melalui penyelenggaraan pameran dan pertemuan bisnis yang mempertemukan pemilik merek dengan calon pelaku usaha.
Ketua Umum Asosiasi Franchise Indonesia Anang Sukandar mengingatkan bahwa waralaba dan kemitraan merupakan dua konsep bisnis yang berbeda. Menurut dia, masih terdapat anggapan yang menyamakan keduanya hanya karena sama-sama melibatkan kerja sama bisnis.
Anang menjelaskan, kemitraan dapat berbentuk kerja sama operasi, perusahaan inti rakyat, maupun subkontrak. Sementara waralaba merupakan konsep pemasaran sekaligus strategi perusahaan yang dibangun melalui sistem dan standar tertentu.
“Banyak pengusaha menganggap waralaba itu kemitraan. Secara tata bahasa memang ada benarnya karena sama-sama soal kerja sama, tapi konsepnya berbeda,” kata Anang.
Menurut dia, Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan bisnis waralaba, terutama dengan kekayaan produk dan kuliner dari berbagai daerah. Namun, potensi tersebut memerlukan sistem bisnis yang kuat agar dapat dikembangkan secara lebih luas dan berkelanjutan.
Pembukaan IFRA 2026 turut dihadiri Ketua Umum AFI Anang Sukandar, Presiden Direktur Dyandra Promosindo Daswar Marpaung, serta Deputy Director of the Thai Trade Center Nassaree Pathan.
Selama tiga hari penyelenggaraan, panitia menyiapkan sejumlah program untuk memberikan wawasan bagi pengunjung yang ingin memulai maupun mengembangkan usaha. Program tersebut antara lain Business Talkshow, IFRA Women’s Talk, Celebpreneur Talkshow, Retirees Seminar, dan The 10th IFBCC atau IFRApreneur Business Concept Competition.
Pada hari pertama, sejumlah sesi membahas pengembangan merek, strategi bisnis, hingga aspek hukum waralaba. Di antaranya sesi tentang strategi membangun merek agar menonjol di tengah persaingan, pembahasan kontrak waralaba, serta peluang pengembangan kopi lokal menuju pasar kemitraan yang lebih luas.
Presiden Direktur Dyandra Promosindo Daswar Marpaung mengatakan IFRA diharapkan tidak sekadar menjadi tempat terjadinya transaksi bisnis. Menurut dia, pameran ini juga menjadi ruang pertemuan untuk membangun kolaborasi antara pemilik merek dan calon mitra usaha.
“Kami berharap pertemuan yang terjadi selama tiga hari penyelenggaraan tidak hanya menghasilkan transaksi, tetapi juga membuka kolaborasi dan kemitraan yang memiliki fondasi bisnis yang sehat dan transparan,” ujar Daswar.
IFRA 2026 dibuka setiap hari pukul 10.00 hingga 20.00 WIB. Pameran ini menjadi salah satu ruang pertemuan bagi industri waralaba di tengah peluang pertumbuhan konsumsi domestik dan munculnya berbagai model bisnis baru.
Data Badan Pusat Statistik yang dikutip dalam materi penyelenggara menunjukkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen secara tahunan pada triwulan II 2026. Pertumbuhan tersebut dinilai membuka ruang ekspansi bagi berbagai sektor usaha, termasuk waralaba dan kemitraan yang mengandalkan pengembangan jaringan bisnis.
Di tengah persaingan merek lokal dan asing, penyelenggaraan IFRA tahun ini juga memperlihatkan pergeseran perhatian industri. Pertumbuhan jumlah usaha tidak lagi semata diukur dari banyaknya gerai atau nilai transaksi, tetapi juga dari kemampuan pelaku bisnis membangun sistem, tata kelola, dan hubungan kemitraan yang dapat bertahan dalam jangka panjang.




