• Inacraft News
  • Editor’s Note
  • Redaksi
  • Info Iklan
Inacraft News
Inacraft on October 2026
  • Home
  • Cover Story
  • Focus ASEPHI
  • Product
  • SMEs
  • Design
  • Art
  • Inspiration
  • e-Magazine
  • Warta Inacraft
  • More …
    • Figure
    • Celebrity
    • Travel
    • Fashion
    • Regional Report
    • Tech Craft
    • Finance & Banking
    • Business
    • Vacation
    • CSR
    • Review
    • Event
    • Agenda Asephi
    • How to Do
    • QUIZ
No Result
View All Result
  • Home
  • Cover Story
  • Focus ASEPHI
  • Product
  • SMEs
  • Design
  • Art
  • Inspiration
  • e-Magazine
  • Warta Inacraft
  • More …
    • Figure
    • Celebrity
    • Travel
    • Fashion
    • Regional Report
    • Tech Craft
    • Finance & Banking
    • Business
    • Vacation
    • CSR
    • Review
    • Event
    • Agenda Asephi
    • How to Do
    • QUIZ
No Result
View All Result
Inacraft News
No Result
View All Result
Home Cover Story

ASEPHI Gandeng BRIN, Dorong Riset Masuk ke Industri Kriya

Eddy Purwanto by Eddy Purwanto
September 2, 2026
in Cover Story
0
ASEPHI Gandeng BRIN, Dorong Riset Masuk ke Industri Kriya
0
SHARES
3
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Badan Pengurus Pusat Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (BPP ASEPHI) membuka peluang kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mempertemukan kebutuhan industri kriya dengan hasil riset dan inovasi.

Rencana kolaborasi itu dibahas dalam audiensi pengurus BPP ASEPHI dengan Sekretaris Deputi Bidang Pemanfaatan Riset dan Inovasi BRIN, Dadan Nugraha, S.Si., M.T. Selasa, 1 September 2026 di kantor pusat BRIN, Jakarta Pusat. Dalam pertemuan tersebut, ASEPHI diwakili Sekretaris Jenderal Azis Bakhtiar, Wakil Ketua Umum II Bidang Kerja Sama Regional dan Internasional Baby Jurmawati, serta Bendahara Umum Syamsul Huda.

Salah satu agenda yang mengemuka adalah rencana keterlibatan BRIN dalam INACRAFT on October 2026 yang akan berlangsung pada 7–11 Oktober 2026 di Jakarta Convention Center. Pameran tersebut mengusung tema Youthpreneurs: Technocraft, dengan fokus pada generasi muda dan perjumpaan antara teknologi, riset, serta industri kerajinan.

ASEPHI berharap kehadiran BRIN tidak berhenti pada partisipasi selama pameran. Organisasi pelaku industri kriya itu menginginkan kerja sama yang dapat berlangsung sebelum dan sesudah kegiatan, terutama untuk menjawab persoalan nyata yang dihadapi pelaku usaha.

ASEPHI tidak melihat kemitraan ini sekadar dalam konteks event. Yang kami harapkan adalah bagaimana riset dan teknologi bisa terus menyentuh industri kreatif dan membantu pelaku usaha meningkatkan daya saingnya, demikian salah satu pokok pembahasan dalam audiensi tersebut.

Azis Bakhtiar menyoroti persaingan industri kerajinan Indonesia di pasar internasional. Menurut dia, persoalan yang dihadapi pelaku usaha tidak hanya berkaitan dengan pemasaran, tetapi juga proses produksi, efisiensi, teknologi, dan kemampuan menghasilkan produk yang kompetitif.

ASEPHI sebagaimana diketahui menaungi pelaku usaha dari beragam subsektor kerajinan. Karena itu, kebutuhan teknologi yang muncul pun beragam, mulai dari pengolahan bahan baku, peningkatan kapasitas produksi, pengembangan material, hingga persoalan limbah.

Dalam diskusi tersebut, teknologi dipandang bukan sebagai pengganti unsur kerajinan tangan. Teknologi justru diharapkan memperkuat proses produksi tanpa menghilangkan identitas dan nilai budaya yang menjadi karakter utama produk kriya Indonesia.

Contoh kebutuhan inovasi muncul dalam berbagai bidang, seperti pengembangan material kulit, tekstil, pewarna alam, keramik, pengolahan limbah, hingga pemanfaatan bahan-bahan alternatif. ASEPHI juga membuka kemungkinan pengembangan teknologi yang dapat membantu perajin meningkatkan produktivitas dan kualitas produk.

Baby Jurmawati menjelaskan bahwa tema Youthpreneurs: Technocraft dipilih untuk membuka ruang yang lebih luas bagi generasi muda dalam industri kriya. Menurut dia, generasi baru perajin dan wirausahawan membutuhkan pendekatan berbeda agar mampu mengembangkan warisan budaya dengan memanfaatkan perkembangan teknologi.

“Harapannya, anak-anak muda tidak melihat kriya sebagai sektor lama. Dengan teknologi dan inovasi, mereka bisa mengembangkan produk lebih cepat, lebih kuat, dan lebih sesuai dengan kebutuhan pasar internasional,” kata Baby dalam pembahasan audiensi tersebut.

INACRAFT sendiri dirancang bukan semata-mata sebagai arena transaksi. Pameran itu juga menjadi ruang pertemuan antara pelaku usaha, perancang, pembeli, akademisi, lembaga pemerintah, dan berbagai pihak yang terlibat dalam pengembangan industri kreatif.

Dalam rencana kerja sama dengan BRIN, ASEPHI mengusulkan sejumlah bentuk kegiatan selama pameran. Di antaranya, penyediaan ruang konsultasi atau klinik teknologi, pemaparan hasil riset, diskusi dalam forum bisnis, serta kegiatan interaktif yang memungkinkan pengunjung dan pelaku industri melihat langsung penerapan inovasi.

BRIN, dalam audiensi itu, menyatakan keterbukaannya terhadap kerja sama pemanfaatan hasil riset yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha. Hasil-hasil riset yang telah tersedia dapat dikembangkan melalui mekanisme kerja sama dan pemanfaatan teknologi, termasuk kemungkinan lisensi serta kerja sama dengan pengguna.

Salah satu gagasan yang mengemuka adalah membangun mekanisme pertukaran informasi antara BRIN dan ASEPHI. BRIN dapat menawarkan hasil riset dan teknologi yang telah dimiliki, sementara ASEPHI menyampaikan persoalan konkret yang dihadapi pelaku usaha di lapangan.

Dari proses itu, kebutuhan industri diharapkan dapat dipertemukan dengan kompetensi riset yang tersedia. Kerja sama tersebut kemudian dapat dikembangkan melalui perjanjian yang lebih teknis dan langsung menyentuh sektor atau anggota ASEPHI yang membutuhkan.

ASEPHI berharap kolaborasi itu menjadi jalan untuk memperpendek jarak antara laboratorium riset dan ruang produksi. Sebab, inovasi tidak cukup berhenti pada tahap prototipe jika ingin memberikan dampak terhadap pertumbuhan industri.

Melalui INACRAFT on October 2026, ASEPHI dan BRIN berupaya membuka pertemuan antara dua dunia yang selama ini kerap berjalan sendiri-sendiri: riset dan industri kriya. Bagi ASEPHI, teknologi akan menemukan arti ketika mampu menjawab kebutuhan perajin. Sebaliknya, industri kerajinan membutuhkan dukungan riset agar tetap berakar pada budaya, tetapi tidak tertinggal dalam persaingan global.

Tags: asephibrintechnocraft
Previous Post

Buka Akses Pasar Global, Mendag Budi Santoso Pacu UMKM Banyuwangi Tembus Ekspor

Please login to join discussion

E-Magazine Inacraft News

Warta Inacraft

INACRAFT NEWS

INACRAFT NEWS diterbitkan oleh Badan Pengurus Pusat Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (BPP ASEPHI)

Jl. Wijaya I No.3A, – Kebayoran Baru Jakarta Selatan 12170
Phone: (62 21) 725 2032, 725 2033, 725 2063
Fax.: (62 21) 725 2062
Email: redaksi@inacraftnews.com

Redaksi

  • Inacraft News
  • Editor’s Note
  • Redaksi
  • Info Iklan

Network

  • ASEPHI
  • Inacraft Award
  • Inacraft
  • Emerging Award
  • Inacraft News
  • Editor’s Note
  • Redaksi
  • Info Iklan

Inacraft News © 2023 ASEPHI - by Kolabo

No Result
View All Result
  • Home
  • Cover Story
  • Focus ASEPHI
  • Product
  • SMEs
  • Design
  • Art
  • Inspiration
  • e-Magazine
  • Warta Inacraft
  • More …
    • Figure
    • Celebrity
    • Travel
    • Fashion
    • Regional Report
    • Tech Craft
    • Finance & Banking
    • Business
    • Vacation
    • CSR
    • Review
    • Event
    • Agenda Asephi
    • How to Do
    • QUIZ

Inacraft News © 2023 ASEPHI - by Kolabo