Pemerintah menyiapkan restorasi besar kompleks Candi Prambanan dan Candi Sewu untuk mengembalikan warisan budaya abad ke-9 itu secara lebih utuh. Kementerian Kebudayaan menilai pemugaran tidak cukup berhenti pada pemulihan bangunan utama, tetapi juga perlu menghidupkan kembali kawasan tersebut sebagai pusat kebudayaan dan living heritage yang memberi manfaat bagi masyarakat.
Agenda besar itu salah satunya menyangkut candi perwara yang mengelilingi tiga candi utama Prambanan, yakni Candi Siwa, Brahma, dan Wisnu. Berdasarkan catatan arkeologis, kompleks Prambanan memiliki 224 candi perwara. Namun sejak era kemerdekaan hingga kini, baru enam candi perwara yang berhasil dipugar. Sebanyak 218 lainnya masih dalam kondisi runtuh atau belum direkonstruksi.
Enam candi perwara yang telah dipugar dengan ketinggian hingga 14 meter itu kini menjadi prototipe teknis sekaligus tolok ukur untuk melanjutkan rekonstruksi candi lainnya. Pekerjaan tersebut bukan perkara sederhana. Ketersediaan batu asli menjadi salah satu kendala utama karena sebagian material candi diperkirakan telah tersebar atau digunakan untuk berbagai keperluan pada masa lalu.
Material asli yang masih ditemukan di sejumlah titik diperkirakan hanya berkisar 10 hingga 30 persen. Kondisinya pun beragam, mulai dari batu yang masih utuh, pecah, hingga mengalami degradasi dan pelapukan akibat penggaraman serta kondisi lingkungan mikro.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan pemerintah tengah membahas rencana restorasi besar Candi Prambanan dengan melibatkan para ahli dari berbagai bidang. Kajian tersebut akan mencakup aspek konservasi, arkeologi hingga teknik struktur untuk menentukan metode pemugaran yang sesuai dengan karakter bangunan dan prinsip pelestarian warisan budaya.
“ Kami sedang membahas bagaimana melakukan satu restorasi besar terhadap Candi Prambanan ini, tentu saja nanti akan melibatkan banyak ahli sehingga Candi Prambanan bisa kita restorasi secara utuh,” ujar Fadli.
Kementerian Kebudayaan juga membuka peluang kerja sama internasional dalam proses tersebut. Pemerintah India telah menyatakan dukungan untuk membantu pemugaran satu kuadran atau seperempat area candi perwara. Bagian tersebut masih berada dalam tahap kajian mendalam. Adapun tiga perempat area lainnya direncanakan direstorasi oleh tim ahli nasional dengan tetap mengacu pada kaidah pemugaran UNESCO.
Upaya tersebut mendapat konteks baru setelah kawasan Candi Prambanan dikunjungi Presiden Prabowo Subianto bersama Perdana Menteri India Narendra Modi pada Juli lalu. Kunjungan dua pemimpin negara itu menempatkan Prambanan bukan hanya sebagai peninggalan sejarah, tetapi juga ruang yang memiliki dimensi diplomasi dan hubungan budaya Indonesia dan India.
Bagi Kementerian Kebudayaan, pemugaran Prambanan juga berkaitan dengan masa depan kawasan. Restorasi diharapkan tidak hanya mengembalikan bentuk fisik bangunan, tetapi membangun ekosistem pariwisata berbasis budaya, sejarah, dan religi yang dapat menarik wisatawan nusantara maupun mancanegara.
Fadli berharap pemulihan kawasan tersebut dapat meningkatkan kunjungan wisatawan sekaligus memberikan dampak ekonomi dan sosial yang berkelanjutan bagi masyarakat di sekitar kawasan cagar budaya.
“Harapannya semoga bisa mendatangkan semakin banyak wisatawan budaya, wisata sejarah, wisatawan religi dari berbagai negara, wisatawan asing dan juga dari domestik,” kata dia.
Dalam peninjauan Candi Prambanan dan Candi Sewu, Fadli didampingi Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Restu Gunawan, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan D.I. Yogyakarta Nahar Cahyandaru, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Tengah Riris Purbasari, serta maestro perupa I Nyoman Nuarta.
Restorasi itu pada akhirnya diarahkan melampaui proyek rekonstruksi fisik. Kementerian Kebudayaan ingin Candi Prambanan dan candi-candi perwaranya kembali menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Dengan pendekatan tersebut, warisan budaya tidak hanya dirawat sebagai peninggalan masa lalu, tetapi terus memiliki fungsi, makna, dan relevansi bagi generasi yang hidup hari ini dan yang akan datang.





