Terpilih dari 570 pelaku usaha pariwisata Indonesia, Litto Jogja mengintegrasikan hospitality, wellness, gastronomi, dan eco-learning dalam satu ekosistem pariwisata berkelanjutan.
Berawal dari sebuah kawasan di perbukitan Dlingo, Kabupaten Bantul, Litto Jogja kini melangkah ke panggung yang lebih luas. Litto Jogja resmi terpilih sebagai salah satu Top 25 Wonderful Indonesia Scale-Up Hub (WISH) 2026, setelah melalui rangkaian seleksi yang diikuti oleh 570 pelaku usaha pariwisata dari berbagai daerah di Indonesia.
Capaian ini menempatkan Litto Jogja dalam kelompok usaha pariwisata terpilih yang akan mengikuti tahapan akhir WISH 2026, termasuk pendampingan intensif secara one-on-one, penguatan model bisnis, dan presentasi pada Demo Day.
WISH merupakan program akselerasi usaha pariwisata yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. Program ini dirancang untuk memperkuat kapasitas bisnis, inovasi produk, akses pasar, keberlanjutan, dan kolaborasi dalam ekosistem pariwisata nasional.
Bagi Litto Jogja, keberhasilan menembus Top 25 bukan hanya sebuah pencapaian. Momentum ini menjadi kesempatan untuk menguji, mempertajam, dan membawa konsep pariwisata berbasis alam yang dikembangkan Litto agar semakin relevan, berdampak, dan siap menjangkau pasar yang lebih luas.
Founder Litto Jogja, Irma Devita, mengatakan bahwa pencapaian tersebut membawa kebanggaan sekaligus tanggung jawab baru.
“Masuk Top 25 WISH 2026 bukanlah garis akhir. Bagi kami, ini merupakan validasi sekaligus tanggung jawab untuk membangun Litto dengan konsep yang semakin matang, pelayanan yang semakin baik, dan dampak yang semakin nyata bagi lingkungan serta masyarakat sekitar,” ujar Irma.

Satoyama dengan Jiwa Lokal Jogja
Litto Jogja mengembangkan pendekatan yang terinspirasi oleh prinsip satoyama, yaitu cara hidup yang menempatkan manusia, alam, pangan, dan komunitas dalam hubungan yang saling menjaga.
Namun, satoyama di Litto bukan sekadar sentuhan visual atau romantisme bernuansa Jepang. Konsep tersebut diterjemahkan melalui kekayaan alam, keramahan, hasil bumi, budaya, dan kehidupan masyarakat perbukitan Dlingo.
Pendekatan itu diwujudkan melalui pengelolaan kawasan hijau, kebun pangan, pengalaman garden-to-table, aktivitas berbasis alam, pembelajaran lingkungan, serta program kebugaran dan refleksi yang membantu pengunjung kembali terhubung dengan dirinya sendiri.
“Satoyama bagi Litto bukan sekadar nuansa Jepang. Nilai utamanya terletak pada bagaimana manusia membangun kembali hubungan yang sehat dengan alam, makanan, komunitas, dan dirinya sendiri. Kerangka tersebut kami hadirkan dengan jiwa lokal Jogja,” jelas Irma.

Lebih dari Tempat Menginap
Litto Jogja tidak dikembangkan hanya sebagai destinasi untuk bermalam atau menikmati pemandangan. Kawasan ini dirancang sebagai ruang untuk beristirahat, belajar, membangun koneksi, dan menemukan kembali kedekatan dengan alam.
Pengembangan Litto bertumpu pada empat bidang utama:
* Hospitality, melalui akomodasi dan penyelenggaraan retreat di tengah suasana perbukitan;
* Wellness, melalui aktivitas seperti mindful walking, forest bathing, refleksi, dan program pemulihan berbasis alam;
* Gastronomi, melalui pengalaman garden-to-table, pengenalan perjalanan pangan, serta pemanfaatan hasil kebun dan bahan pangan lokal;
* Eco-learning, melalui pembelajaran mengenai tanaman, hewan, pangan, lingkungan, tanggung jawab, dan keberlanjutan.
Keempat bidang tersebut dipadukan dalam berbagai program, antara lain corporate retreat, executive wellness retreat, eco-learning day untuk sekolah, garden-to-table experience, program komunitas, dan professional learning escape.
Melalui program-program tersebut, Litto ingin menghadirkan bentuk pariwisata yang tidak berhenti pada keindahan tempat, tetapi memberikan pengalaman yang bermakna serta hasil yang dapat dirasakan oleh setiap peserta.
Bertumbuh Bersama Alam dan Masyarakat
Pertumbuhan Litto Jogja diarahkan agar berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap lingkungan dan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Litto terus berupaya meningkatkan penggunaan sumber daya lokal, memperluas kolaborasi dengan masyarakat dan pelaku usaha setempat, serta mengembangkan pengalaman yang mengajak pengunjung memahami asal pangan dan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem.
Ke depan, Litto akan memperluas kemitraan dengan sekolah, universitas, perusahaan, komunitas, operator perjalanan, destination management company, serta lembaga pemerintah dan swasta yang memiliki perhatian terhadap pariwisata berkelanjutan, wellness, pendidikan lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat.
“Litto lahir dari sebuah perjalanan yang sangat personal. Namun kami ingin manfaatnya tumbuh melampaui para pendirinya. Kami ingin Litto menjadi tempat yang membantu orang beristirahat, kembali terhubung, lalu bangkit dengan kesadaran dan energi yang baru,” tutur Irma.
Dari Validasi Menuju Akselerasi
Sebagai bagian dari Top 25 WISH 2026, Litto Jogja akan melanjutkan proses pengembangan melalui pendampingan one-on-one dan Demo Day. Tahapan tersebut menjadi ruang bagi Litto untuk mempertajam model bisnis, mengembangkan produk unggulan yang siap dipasarkan secara lebih luas, meningkatkan standar operasional, serta merumuskan dampak sosial dan lingkungan yang dapat diukur.
Proses ini juga membuka peluang bagi Litto untuk memperluas jejaring, membangun kemitraan strategis, dan meningkatkan akses pasar di tingkat nasional maupun internasional.
Meski demikian, arah pertumbuhan Litto tidak semata-mata berorientasi pada ekspansi fisik. Fokus utamanya adalah membangun produk pariwisata yang berkualitas, berkelanjutan, memberikan manfaat ekonomi, serta tetap menjaga karakter lokal Dlingo dan Yogyakarta.
Dari perbukitan Dlingo, Litto Jogja membawa sebuah keyakinan sederhana: bahwa masa depan pariwisata tidak hanya ditentukan oleh seberapa jauh sebuah destinasi berkembang, tetapi juga oleh seberapa besar manfaat yang ditinggalkannya bagi manusia, alam, dan masyarakat di sekitarnya.
⸻
Tentang Litto Jogja
Litto Jogja merupakan kawasan hospitality dan regenerative retreat yang berada di perbukitan Dlingo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Dengan semangat “A Place to Rest, Reconnect, and Rise,” Litto mengintegrasikan hospitality, wellness, gastronomi, eco-learning, dan pengalaman berbasis alam.
Litto menggunakan prinsip satoyama sebagai kerangka untuk memperkuat hubungan antara manusia, alam, pangan, dan komunitas, dengan tetap mempertahankan akar lokal Jogja.
Program Litto meliputi corporate retreat, wellness retreat, eco-learning untuk sekolah, garden-to-table experience, community gathering, dan professional learning escape.
Tentang WISH
Wonderful Indonesia Scale-Up Hub (WISH) merupakan program akselerasi usaha pariwisata yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata Republik Indonesia.
Program ini ditujukan untuk membantu pelaku usaha meningkatkan kapasitas bisnis, mengembangkan produk, memperluas akses pasar, membangun kemitraan, serta memperkuat keberlanjutan usaha pariwisata.




