Asosiasi Eksportir dan Produsen Kerajinan Tangan Indonesia (ASEPHI) membawa sejumlah pelaku usaha kerajinan Indonesia untuk memperluas pasar di Tiongkok melalui China-ASEAN Expo (CAEXPO) ke-23 di Nanning International Exhibition and Convention Center, Guangxi, Tiongkok, 17–21 September 2026.
Kehadiran pelaku usaha kerajinan tersebut menjadi bagian dari upaya ASEPHI memperkenalkan produk kriya Indonesia sekaligus membuka peluang transaksi dengan pasar Tiongkok yang memiliki basis konsumen besar. Produk yang dibawa antara lain perhiasan perak, kerajinan kayu, serta produk berbasis batik dan fesyen.
Pada kesempatan itu BPP ASEPHI mengutus Pieter Sumbung dari Bidang Organisasi, Pelatihan & Anggaran. Pieter mengatakan keikutsertaan sejumlah anggota ASEPHI dalam CAEXPO dilakukan untuk memperkuat penetrasi produk kerajinan Indonesia ke pasar internasional, khususnya Tiongkok.
“Tahun ini kami membawa beberapa anggota yang secara mandiri ikut di pameran ini untuk memasarkan produk-produk kerajinan mereka,” ujar Pieter.

CAEXPO merupakan pameran perdagangan tahunan negara-negara ASEAN dan Tiongkok yang telah berlangsung sejak 2004. Ajang tersebut mempertemukan pelaku usaha dalam skema business-to-business (B2B) sekaligus membuka akses langsung kepada konsumen melalui skema business-to-consumer (B2C).
Pada penyelenggaraan tahun ini, Paviliun Indonesia berada di Hall D5, tepat di depan pintu masuk utama arena pameran. Sekitar 60 peserta mengisi paviliun tersebut dengan berbagai produk, mulai dari kerajinan tangan, kopi, rempah-rempah, furnitur, hingga produk industri.
Sejumlah BUMN, seperti Pertamina dan Danantara, juga membawa pelaku usaha binaannya ke ajang tersebut. Paviliun Indonesia dibuka oleh Konsul Jenderal Republik Indonesia di Guangzhou dan dihadiri perwakilan Kementerian Perdagangan serta Kementerian BUMN.
Bagi ASEPHI, kehadiran di CAEXPO menjadi bagian dari strategi mempertemukan produk kerajinan Indonesia dengan karakter pasar yang berbeda. Nanning yang berada di Guangxi dan memiliki kedekatan geografis dengan kawasan Asia Tenggara menjadi salah satu pintu masuk perdagangan antara Tiongkok dan negara-negara ASEAN.
Pieter mengatakan produk kerajinan Indonesia memiliki peluang untuk bersaing di pasar tersebut. Salah satu yang menarik perhatian pengunjung adalah perhiasan perak. Produk ini dinilai memiliki keunikan desain dibandingkan produk sejenis dari sejumlah negara ASEAN seperti Laos, Kamboja, Filipina, dan Vietnam.
Selain perhiasan, ukiran kayu khas Bali dan produk garmen berbasis batik juga mendapat perhatian pengunjung. Produk-produk tersebut menawarkan kekhasan desain dan identitas budaya yang menjadi salah satu modal bagi pelaku usaha Indonesia dalam memasuki pasar luar negeri.
Namun, peluang pasar tersebut menuntut pelaku usaha untuk terus membaca perubahan selera konsumen. Pieter melihat belum terjadi perubahan besar pada tren produk kerajinan Indonesia yang dibawa ke CAEXPO dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Menurut Pieter, inovasi menjadi penting agar produk Indonesia tidak hanya mengandalkan kekuatan tradisi, tetapi juga mampu menyesuaikan desain, fungsi, dan nilai tambah dengan kebutuhan konsumen.
Kehadiran ASEPHI di CAEXPO sekaligus memperlihatkan peran asosiasi dalam membawa pelaku industri kriya Indonesia ke forum perdagangan internasional. Pameran tidak hanya menjadi ruang untuk memajang produk, tetapi juga menjadi kesempatan bagi pelaku usaha untuk membaca tren, membangun jejaring bisnis, dan menguji daya saing produk di pasar global.
Dengan karakter CAEXPO yang mempertemukan negara-negara ASEAN dan Tiongkok, ajang tersebut menjadi salah satu ruang bagi pelaku kerajinan Indonesia untuk membangun hubungan dagang di kawasan Asia. Bagi ASEPHI, perluasan pasar semacam ini menjadi bagian dari upaya mendorong produk kriya Indonesia tidak berhenti sebagai produk budaya, tetapi berkembang sebagai komoditas bernilai ekonomi di pasar internasional.




