Menteri Kebudayaan Fadli Zon meresmikan Perpustakaan Danantara di Museum Nasional Indonesia. Perpustakaan tersebut dikembangkan melalui kolaborasi Kementerian Kebudayaan dengan Danantara Indonesia Trust sebagai fasilitas penunjang riset, pembelajaran, dan literasi kebudayaan.
Fadli mengatakan perpustakaan itu merupakan bentuk konkret dari nota kesepahaman antara Kementerian Kebudayaan dan Danantara Indonesia Trust yang ditandatangani pada Mei 2026. Kerja sama tersebut mencakup pengembangan fasilitas perpustakaan Museum Nasional sebagai pusat pengetahuan dan riset kebudayaan serta dukungan terhadap revitalisasi bagian museum yang terdampak kebakaran.
“Perpustakaan ini tidak mungkin hadir kalau tidak ada kolaborasi kerja sama,” kata Fadli yang didampingi Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha Djumaryo dalam peresmian Perpustakaan Danantara di Museum Nasional Indonesia, Jumat (25/9).
Menurut Fadli, Museum Nasional mewarisi sekitar 30 ribu buku dan berbagai bahan pustaka yang memiliki nilai sejarah. Koleksi tersebut antara lain buku-buku lama, notulen, typescript, serta dagh-register, catatan harian yang merekam kehidupan di Batavia sejak era VOC hingga masa Hindia Belanda. Sebagian koleksi juga berasal dari penerbitan Bataviaasch Genootschap, nama lembaga yang sebelumnya menaungi Museum Nasional.
Kehadiran perpustakaan, kata Fadli, membuat koleksi tersebut dapat dimanfaatkan secara lebih teratur, terutama untuk kebutuhan penelitian. Fasilitas itu ditujukan bagi kurator, edukator, peneliti, maupun masyarakat yang ingin menelusuri pengetahuan mengenai sejarah dan kebudayaan Indonesia.

Fadli mengatakan perpustakaan museum merupakan fasilitas yang lazim dimiliki museum besar di dunia. Ia mencontohkan Thomas J. Watson Library di Metropolitan Museum of Art, New York, serta perpustakaan di Victoria and Albert Museum di London yang memiliki koleksi jauh lebih besar. “Kita masih 30.000 lah. Kemarin kita tambah 1.000, jadi sudah kurang lebih 31.000,” ujarnya.
Dalam agenda peresmian, Kepala Museum dan Cagar Budaya Kementerian Kebudayaan Indira Esti Nurjadin mengatakan museum tidak hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan dan memamerkan koleksi, tetapi juga sebagai ruang belajar dan pusat pengetahuan. Layanan baru tersebut menempati ruang seluas sekitar 330 meter persegi di lantai 2 Gedung B, menggantikan perpustakaan yang sebelumnya berada di lantai 6 dan kurang terlihat oleh pengunjung.
“Pengembangan perpustakaan Museum Nasional Indonesia merupakan bagian dari upaya kami untuk memperluas akses publik terhadap sumber-sumber pengetahuan mengenai sejarah, budaya, dan koleksi Museum Nasional Indonesia,” kata Esti.
Perpustakaan baru tersebut merupakan hasil hibah Danantara Indonesia Trust. Ketua Yayasan Danantara Indonesia Trust Nuraini Razak mengatakan pengembangan perpustakaan merupakan salah satu bentuk kontribusi lembaganya di bidang yang berkaitan dengan kualitas manusia Indonesia, bersama program di sektor pendidikan, kesehatan, serta air dan sanitasi.
Danantara memilih pendekatan kolaboratif dengan pemerintah, lembaga pendidikan, organisasi filantropi, dunia usaha, dan masyarakat. “Perpustakaan baru benar-benar memiliki arti jika orang-orang datang dan benar-benar menggunakannya untuk belajar dan mengetahui hal lebih banyak,” kata Nuraini.
Museum sebagai Investasi Budaya
Fadli juga menempatkan pengembangan museum dalam perspektif yang lebih luas. Menurut dia, museum tidak semata-mata menjadi tempat menyimpan dan merawat koleksi, tetapi dapat menjadi bagian dari ekosistem ekonomi budaya.
Ia merujuk pada sejumlah museum besar di dunia yang mampu menarik jutaan pengunjung dan mengembangkan sumber pendapatan dari tiket, merchandise, hingga makanan dan minuman. Bagi Fadli, pola tersebut menunjukkan bahwa investasi terhadap museum dapat menghasilkan nilai ekonomi sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap kebudayaan.
Gagasan tersebut sejalan dengan pandangan Fadli dalam kunjungannya ke Mesir pada September 2026. Ia menyebut museum sebagai investasi budaya yang dapat menjadi bagian dari ekonomi budaya dan industri budaya. Dalam kunjungan itu, ia melihat pengembangan museum di Mesir sebagai salah satu rujukan bagi Indonesia.
Museum Nasional sendiri memiliki sekitar 190 ribu koleksi yang masih terus ditata, termasuk dari sisi pengamanan. Fadli mengatakan peningkatan jumlah pengunjung menunjukkan minat masyarakat terhadap museum mulai tumbuh. Pengunjung Museum Nasional bahkan pernah mencapai sekitar 12.500 orang dalam satu hari.
Di sisi lain, pemerintah juga mulai mendorong revitalisasi museum dan situs budaya. Fadli mengatakan Kementerian Kebudayaan mendapat mandat untuk merevitalisasi sekitar 200 objek pada 2026, termasuk cagar budaya, keraton, istana, dan museum. Ia berharap pembenahan tersebut dapat menghidupkan ekosistem museum di berbagai daerah.

Fadli juga mendorong keterlibatan sektor swasta, filantropi, dan korporasi dalam pengembangan kebudayaan. Kementerian Kebudayaan telah membentuk Dewan Penyantun Museum dan Cagar Budaya untuk membuka ruang partisipasi masyarakat dan dunia usaha dalam bentuk dukungan pendanaan maupun sumbangan koleksi.
“Fungsi dari perpustakaan ini adalah penunjang riset terutama untuk para kurator, untuk para edukator, sehingga mereka bisa menjadi kurator-kurator yang handal, edukator-edukator yang handal, para peneliti yang handal,” kata Fadli.
Ia berharap Perpustakaan Danantara berkembang menjadi bagian dari Museum Nasional sebagai institusi publik yang terbuka dan produktif menghasilkan pengetahuan. Peresmian perpustakaan itu sekaligus menandai upaya memperluas fungsi museum, dari ruang penyimpanan koleksi menjadi pusat pembelajaran, penelitian, literasi, dan pengembangan ekonomi budaya.





