Kementerian Perdagangan mendorong penguatan kerja sama perdagangan dan investasi dengan negara-negara Afrika melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Penguatan itu diperlukan untuk menghadapi perubahan lanskap perdagangan global, mulai dari restrukturisasi rantai pasok, digitalisasi, hingga tuntutan keberlanjutan.
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Perdagangan (BPSDMP) Kementerian Perdagangan Djatmiko Bris Witjaksono mengatakan Indonesia siap berbagi pengalaman dalam promosi perdagangan, pengembangan ekspor, fasilitasi perdagangan, perdagangan digital, internasionalisasi usaha kecil dan menengah, serta pengembangan SDM perdagangan.
“Perubahan lanskap perdagangan global menuntut negara-negara memiliki institusi yang kuat serta SDM yang kompeten dan adaptif,” kata Djatmiko saat membuka South-South and Triangular Cooperation (SSTC) on Trade and Investment Promotion for African Countries 2026 di Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Ekspor dan Jasa Perdagangan (PPEJP), Jakarta, Senin, 28 September 2026.
Program kerja sama Selatan-Selatan dan Triangular (SSTC) tersebut mempertemukan Indonesia, Jepang, dan sejumlah negara Afrika untuk berbagi pengalaman di bidang perdagangan dan investasi. Djatmiko mengatakan kerja sama itu tidak hanya menjadi sarana transfer pengetahuan, tetapi juga pembelajaran dua arah bagi negara peserta.
Menurut Djatmiko, Afrika memiliki potensi besar dari sisi jumlah penduduk, perdagangan, investasi, dan sumber daya. Indonesia ingin mengembangkan hubungan ekonomi dengan kawasan tersebut melalui kerja sama yang lebih luas.
Hubungan perdagangan Indonesia dengan Afrika menunjukkan potensi tersebut. Nilai perdagangan kedua kawasan mencapai US$13,7 miliar pada 2023. Sementara Indonesia-Africa Forum (IAF) II di Bali pada 2024 menghasilkan kesepakatan bisnis senilai US$3,5 miliar, meningkat dari US$568 juta pada IAF 2018.
Indonesia juga memiliki sejumlah perwakilan perdagangan di Afrika, antara lain Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Johannesburg, ITPC Lagos, dan Atase Perdagangan RI di Kairo. Produk Indonesia yang telah memasuki pasar Afrika antara lain makanan, alas kaki, tekstil dan produk tekstil, kertas, serta otomotif.
SSTC on Trade and Investment Promotion for African Countries merupakan program yang kedua setelah penyelenggaraan perdana pada 2025. Tahun ini program berfokus pada negara-negara Afrika Timur.
Djatmiko mengatakan pengalaman Indonesia dalam integrasi ekonomi ASEAN dapat menjadi salah satu referensi bagi negara-negara Afrika yang tengah memperkuat integrasi melalui African Continental Free Trade Area (AfCFTA).
Menurut dia, integrasi ekonomi tidak cukup hanya mengandalkan kesepakatan perdagangan. Proses tersebut membutuhkan institusi yang kuat, fasilitasi perdagangan yang efektif, pelaku usaha yang kompetitif, kebijakan investasi yang mendukung, dan SDM yang memadai.
“Program ini tidak boleh berhenti di ruang pelatihan. Ukuran keberhasilannya yaitu bagaimana pengetahuan yang diperoleh dapat diterjemahkan menjadi penguatan jejaring kelembagaan, pertukaran pengetahuan yang berkelanjutan, kerja sama teknis lanjutan, serta hasil yang nyata dan terukur melalui rencana aksi para peserta,” ujar Djatmiko.
Sekretaris Kementerian Sekretariat Negara Setya Utama mengatakan penyelenggaraan SSTC untuk kedua kalinya menunjukkan upaya membangun kemitraan berkelanjutan dan memperkuat hubungan antarlembaga Indonesia dengan negara-negara Afrika.
Menurut Setya, kerja sama tersebut meneruskan semangat Konferensi Asia-Afrika 1955 yang menekankan solidaritas, kesetaraan, saling menghormati, dan kemakmuran bersama. Indonesia, kata dia, tidak menempatkan pengalamannya sebagai satu-satunya model, melainkan sebagai referensi yang dapat dipertukarkan dengan pengalaman negara peserta.
Kepala Perwakilan JICA Indonesia Takeda Sachiko mengatakan program SSTC 2026 merupakan kelanjutan dari program 2025. Hasil dan pembelajaran program sebelumnya telah dipresentasikan dalam 9th Tokyo International Conference on African Development (TICAD-9) pada Agustus 2025.
Program ini merupakan bagian dari implementasi Memorandum of Cooperation antara Japan International Cooperation Agency (JICA) dan Kementerian Luar Negeri yang ditandatangani dalam Indonesia-Africa Forum pada September 2024. Kerja sama triangular tersebut memadukan pengalaman Indonesia dan Jepang untuk mendukung pembangunan berkelanjutan serta Agenda Afrika 2063.
JICA telah mendukung PPEJP dan lembaga pendahulunya, Indonesia Export Training Center (IETC), sejak 1986 melalui hibah Official Development Assistance dan proyek kerja sama teknis.
Pelatihan SSTC 2026 berlangsung pada 27 September hingga 8 Oktober 2026 di Jakarta. Sebanyak 14 peserta dari enam negara Afrika mengikuti program tersebut, yakni Ethiopia, Mozambik, Tanzania, Sudan Selatan, Somalia, dan Rwanda. Dua pengamat dari East African Community (EAC) dan Sekretariat AfCFTA turut mengikuti kegiatan.
Materi pelatihan mencakup perjanjian dan negosiasi perdagangan internasional, kerja sama ekonomi ASEAN, promosi ekspor, pengembangan UKM, pemasaran digital, kebijakan investasi, dan perizinan berusaha.
Peserta juga dijadwalkan mengunjungi PT Indofood, Permanent Trade Exhibition Kementerian Perdagangan, Sekretariat ASEAN, Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA), serta Kementerian Investasi dan Hilirisasi. Kunjungan tersebut ditujukan untuk memberikan gambaran mengenai praktik promosi perdagangan, kerja sama regional, fasilitasi investasi, dan pengembangan UMKM.
Lulla Kabijukya Ali, Inspector for Market Infrastructure Development pada Ministry of Trade and Industry Sudan Selatan, mengatakan program tersebut memberikan kesempatan bagi peserta mempelajari pengalaman Indonesia dalam perdagangan dan industri.
“Saya antusias mengikuti program ini dan yakin akan memperoleh banyak pembelajaran dari pengalaman Indonesia,” kata Lulla.
Pada akhir pelatihan, setiap peserta akan menyusun dan mempresentasikan rencana aksi untuk menerapkan pengetahuan dan praktik yang diperoleh sesuai dengan kebutuhan masing-masing negara.




