Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif ingin menghidupkan kembali Keong Emas di Taman Mini Indonesia Indah sebagai ruang pertunjukan dan aktivitas bagi pelaku ekonomi kreatif. Pemerintah membuka peluang pemanfaatan ikon TMII itu untuk berbagai subsektor, dari film dan animasi hingga seni pertunjukan.
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar mengatakan Keong Emas dapat dikembangkan menjadi ruang pertunjukan yang tidak terpaku pada satu jenis kegiatan. Tempat tersebut, kata dia, dapat digunakan untuk teater musikal, pemutaran dan produksi film, pameran karya, festival, lokakarya, hingga kegiatan berbasis komunitas.
“Kami melihat Keong Emas bisa menjadi salah satu tempat pertunjukan teater musikal atau masuk dalam roadmap aktivasi subsektor film, serta lokakarya komunitas yang mengoptimalkan venue bagi mereka yang butuh ruang pertunjukan,” kata Irene dalam audiensi dengan pengelola TMII di Kantor Kementerian Ekraf, Jakarta, Rabu, 30 September 2026.
Irene mengatakan program di Keong Emas perlu dikurasi dan dijalankan secara berkesinambungan. Dengan begitu, ruang tersebut tidak hanya menjadi lokasi penyelenggaraan acara, tetapi bagian dari ekosistem ekonomi kreatif yang mempertemukan komunitas, mahasiswa, sineas, dan publik.
Salah satu gagasan yang ditawarkan adalah pemanfaatan teknologi video mapping. Mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dapat dilibatkan untuk menampilkan karya secara berkala di kawasan TMII. Program semacam itu dinilai dapat membuka ruang eksperimentasi sekaligus memperkenalkan karya kreator muda kepada publik.
“Kami ingin Keong Emas tidak hanya menjadi tempat untuk satu jenis kegiatan, tetapi menjadi ruang yang memberikan panggung kepada komunitas, mahasiswa, dan sineas,” ujar Irene.
Didorong Jadi Lokasi Perfilman
Direktur Film, Animasi, dan Video Kementerian Ekraf Doni Setiawan mengusulkan agar Keong Emas terhubung dengan mitra strategis pemerintah, termasuk Jakarta Film Commission. Menurut dia, lokasi tersebut berpotensi masuk dalam ekosistem produksi dan kalender perfilman Indonesia, terutama untuk kegiatan nonkomersial.
“Keong Emas nantinya bisa dihubungkan dan dikembangkan sebagai salah satu destinasi atau lokasi untuk pembuatan film yang dapat masuk dalam kalender perfilman di Indonesia,” kata Doni.
Keong Emas merupakan salah satu ikon TMII yang dibuka pada 20 April 1984. Bangunan tersebut pada awalnya menjadi sarana rekreasi dan edukasi yang memperkenalkan kekayaan alam dan budaya Indonesia melalui teknologi proyektor IMAX.
Dengan kapasitas sekitar 790 kursi, terdiri atas 750 kursi reguler dan 40 kursi VIP, Keong Emas memiliki kemampuan menjangkau penonton dalam jumlah besar. Kapasitas tersebut menjadi salah satu alasan tempat itu dinilai potensial untuk kembali diaktifkan sebagai ruang pertunjukan.
Plt. Direktur Utama TMII Ratri Paramita mengatakan Keong Emas merupakan salah satu ikon yang paling dikenal dari kawasan TMII. Ia berharap pengembangan kembali tempat tersebut dapat memperluas peran TMII sebagai pusat kegiatan ekonomi kreatif.
“Keong Emas itu very iconic yang menjadi bagian paling dikenal dari Taman Mini Indonesia Indah,” kata Ratri.
Menurut Ratri, TMII ingin berkembang sebagai creative hub bagi ekosistem ekonomi kreatif. Keong Emas diharapkan tidak hanya menjadi tempat pertunjukan musikal, tetapi juga menjadi ruang bagi kegiatan film dan subsektor kreatif lain sehingga keberadaannya kembali mendapatkan eksposur yang lebih luas.
Kolaborasi antara Kementerian Ekraf dan TMII itu menjadi bagian dari upaya mengaktifkan kembali ruang-ruang kreatif yang memiliki nilai sejarah dan daya jangkau publik. Keong Emas kini diarahkan tidak sekadar menjadi bangunan ikonik, tetapi juga panggung bagi karya dan komunitas kreatif lintas generasi.




