Kementerian Perindustrian terus memacu transformasi industri kerajinan nasional menuju standar ramah lingkungan dan berkelanjutan. Langkah ini dinilai strategis untuk mendongkrak nilai tambah produk lokal sekaligus memperluas jangkauan pasar internasional.
Pernyataan tersebut diungkapkan oleh Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian, Reni Yanita, saat penganugerahan ASEPHI Emerging Youthpreneur Award 2026 pada 9 Oktober 2026, yang menjadi bagian dari insight program INACRAFT October 2026.
Dalam kesempatan tersebut, Reni menegaskan pentingnya penerapan konsep circular economy dan peningkatan efisiensi sumber daya bagi para pelaku usaha kerajinan.
”Industri kerajinan yang berkelanjutan harus menerapkan konsep zero waste, efisiensi sumber daya, kepatuhan terhadap regulasi lingkungan, serta menghasilkan produk berumur pakai panjang,” ujar Reni.
Untuk mendukung arah kebijakan tersebut, Direktorat Jenderal IKMA kini tengah menggalakkan program Transformasi IKMA Hijau. Program ini dirancang khusus guna merangsang para pengrajin, terutama generasi muda, agar lebih berfokus pada efisiensi material dan pengelolaan limbah produksi.
Perluasan Sentra dan Tren Positif Ekspor
Upaya penguatan basis produksi kerajinan juga diimbangi dengan pembangunan infrastruktur di daerah. Hingga kini, pemerintah telah membangun 35 sentra IKM kerajinan yang didanai melalui Dana Alokasi Khusus (DAK). Sentra-sentra tersebut tersebar di 30 kabupaten/kota pada 17 provinsi.
Provinsi Jawa Timur memimpin akumulasi terbanyak dengan lima sentra, disusul Jawa Tengah dan Kalimantan Selatan masing-masing empat sentra, serta Nusa Tenggara Barat sebanyak tiga sentra.
Penguatan sentra ini berbanding lurus dengan catatan kinerja ekspor kerajinan nasional yang menunjukkan tren positif:
Kenaikan Ekspor: Pada triwulan II, nilai ekspor kerajinan menembus USD 223,10 juta, melesat sekitar 28,59 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pasar Utama: Negara tujuan ekspor didominasi oleh Amerika Serikat (28%), Taiwan (15%), dan Tiongkok (13%). Posisi Global: Di tingkat global, industri kerajinan Indonesia kini bertengger di peringkat ke-17 dunia dengan total nilai ekspor mencapai USD 170,22 juta.
Pemerintah optimistis, lewat kolaborasi dengan asosiasi seperti ASEPHI serta keterlibatan aktif pengrajin muda berbasis inovasi digital dan keberlanjutan lingkungan, daya saing kerajinan Indonesia di panggung dunia akan terus meningkat.





