Cermin tak hanya berfungsi untuk berkaca. Di tangan Sri Margo Waluyo, pemilik Margo Glass Gallery, material tersebut menjelma menjadi beragam elemen interior, mulai dari dekorasi dinding, furnitur, panel dinding (wall panel), plafon, hingga tempat tidur.
Konsep itu dibawa Margo dalam pameran INACRAFT October 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, pada 7–11 Oktober 2026. Ia menawarkan produk interior berbahan cermin yang menggabungkan desain, pengerjaan manual, dan eksplorasi efek dekoratif.
Berbeda dari produk kaca yang dijual dalam bentuk lembaran atau potongan, Margo Glass Gallery mengolah material tersebut menjadi produk bernilai tambah. Motifnya dirancang sendiri, kemudian dibentuk melalui sejumlah tahapan, termasuk pemotongan dan pengukiran menggunakan batu gerinda.
“Yang spesial dari produk kami salah satunya kacanya diukir,” kata Sri Margo saat ditemui di INACRAFT October 2026.
Pengerjaan produk tersebut membutuhkan ketelitian dan pembagian kerja. Prosesnya tidak dapat ditangani satu orang dari awal hingga akhir. Setiap pekerja memiliki tahapan masing-masing agar produk bisa diselesaikan secara berkesinambungan. Dalam sepekan, timnya dapat menghasilkan sekitar 10 produk, bergantung pada tingkat kerumitan pengerjaan.
Selain ukiran, Margo Glass Gallery mengembangkan teknik pewarnaan untuk menghasilkan efek menyerupai batu alam dengan pilihan warna hijau, merah, biru, dan warna lainnya. Efek tersebut dibuat melalui proses finishing yang menghasilkan tampilan natural, bukan dengan teknik penyemprotan.
Hampir semua kebutuhan interior dapat dikembangkan menggunakan kaca. Produknya mencakup meja, kabinet, kursi, stool, hingga tempat tidur. Desain bisa berasal dari timnya maupun permintaan pelanggan. Jika desain yang diajukan tidak memungkinkan untuk dibuat menggunakan kaca, ia akan menawarkan alternatif teknis kepada pelanggan.
“Intinya, saya hanya memakai prinsip apa yang menjadi kebutuhan pelanggan yang berhubungan dengan kaca, itu harus kita kerjakan,” ujarnya.

Pendekatan tersebut turut membentuk pasar Margo Glass Gallery. Sekitar 80 persen pasarnya berasal dari ekspor, terutama Eropa dan Amerika Serikat. Menurut Sri Margo, konsumen domestik cenderung menyukai tampilan cermin yang bening, sedangkan pembeli di pasar ekspor lebih banyak mencari produk bergaya klasik dengan karakter natural.
Perusahaan juga melayani pesanan khusus untuk kebutuhan proyek interior. Sri Margo tidak menetapkan jumlah pesanan minimum. Besar-kecilnya pesanan tetap dilayani, sementara harga disesuaikan dengan kebutuhan desain, jenis pengerjaan, dan anggaran pelanggan.
“Konsep kami bagaimana memberikan solusi kepada pelanggan untuk menggunakan kaca sebagai elemen dekorasi rumah dengan anggaran yang menyesuaikan kemampuan mereka,” kata Sri Margo.
Sri Margo merintis usahanya sendiri pada 2010, setelah mulai berkecimpung di bidang kaca ketika masuk ke Solo pada 1998. Sejak awal, ia membangun pasar melalui situs web, bahkan sebelum media sosial berkembang luas sebagai sarana pemasaran. Kini, perusahaan mengelola dua situs dengan sasaran berbeda, yakni margovenetianmirror.com untuk pasar ekspor dan margoglassgallery.com untuk pasar domestik.
Situs ekspor tersebut ditujukan terutama bagi desainer interior dan pelanggan proyek, sehingga tidak mencantumkan harga produk secara langsung. Sementara itu, situs Margo Glass Gallery lebih berorientasi pada pasar lokal.
Strategi pemasaran digital membantu perusahaan menjangkau pembeli lintas negara. Namun, bisnis ekspor juga menghadapi tantangan berupa kenaikan biaya logistik dan waktu pengiriman yang lebih lama.
Menurutnya, biaya pengiriman yang ideal semestinya berada di bawah 10 persen dari harga produksi. Dalam praktiknya, Sri Margo umumnya menangani pengiriman hingga pelabuhan, sedangkan pelanggan mengurus dan menanggung biaya pengiriman lanjutan.
Di sisi lain, Sri Margo menyiapkan regenerasi melalui pengembangan karyawan yang telah menguasai keterampilan produksi. Sejumlah karyawan senior bahkan telah mengelola usaha sendiri.
Melalui produknya, Margo Glass Gallery berupaya memperluas cara pandang terhadap kaca. Material yang lazim digunakan sebagai pelengkap interior itu ia tempatkan sebagai bahan utama untuk menciptakan furnitur dan dekorasi, dengan desain yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan.





