Kementerian Perindustrian mengembangkan keterampilan pemasaran digital melalui kerja sama Balai Diklat Industri (BDI) Denpasar dan Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Lombok Timur. Pelatihan optimalisasi pemasaran melalui media sosial ini ditujukan untuk meningkatkan kompetensi tenaga kerja sekaligus membuka peluang usaha mandiri.
Pelaksana Tugas Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri Kementerian Perindustrian, Adie Rochmanto Pandiangan, mengatakan perubahan teknologi dan kebutuhan pasar menuntut tenaga kerja memiliki keterampilan yang adaptif. Kemampuan digital, menurut dia, semakin penting seiring perubahan pola pemasaran dan interaksi antara pelaku usaha dengan konsumen.
“Penguatan SDM industri tidak hanya berorientasi pada peningkatan keterampilan teknis, tetapi juga harus mampu membangun kemampuan adaptasi terhadap perkembangan teknologi dan perubahan kebutuhan pasar,” kata Adie dalam keterangan tertulis, Jumat, 16 Oktober 2026.
Menurut Adie, pendidikan dan pelatihan vokasi perlu menghasilkan keterampilan yang bisa diterapkan secara langsung. Dengan bekal tersebut, peserta diharapkan memiliki peluang lebih besar untuk memasuki dunia kerja, meningkatkan produktivitas, atau mengembangkan usaha sendiri.
Kepala BDI Denpasar Arga Mahendra mengatakan pelatihan optimalisasi pemasaran melalui media sosial membekali peserta dengan kemampuan memanfaatkan platform digital untuk membangun merek, mempromosikan produk atau jasa, dan memperluas jangkauan pasar.
Keterampilan tersebut diharapkan memberikan nilai tambah bagi masyarakat yang ingin mengembangkan usaha dengan memanfaatkan teknologi digital. Media sosial dapat menjadi sarana pemasaran untuk menjangkau konsumen yang lebih luas, sekaligus memperkenalkan produk tanpa sepenuhnya bergantung pada saluran promosi konvensional.
Arga mengatakan kolaborasi dengan BPVP Lombok Timur merupakan bagian dari upaya memperluas akses masyarakat terhadap pelatihan vokasi yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Sinergi antarlembaga juga diharapkan mengoptimalkan pemanfaatan fasilitas, instruktur, dan sumber daya pelatihan.
Keberhasilan program, menurut Arga, tidak semata-mata diukur dari terselenggaranya pelatihan, tetapi juga dari penerapan keterampilan oleh peserta setelah kegiatan berakhir. Ia berharap kemampuan yang diperoleh dapat digunakan untuk meningkatkan daya saing usaha, memasuki dunia kerja, maupun menciptakan peluang ekonomi secara mandiri.
Tantangannya adalah memastikan keterampilan pemasaran digital yang diajarkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan peserta dan dapat diterapkan secara berkelanjutan. Tanpa penerapan nyata, pelatihan berisiko berhenti sebagai kegiatan peningkatan kompetensi tanpa memberikan dampak ekonomi yang signifikan.





