Indonesia akan menjadi tuan rumah World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 pada 21–23 Oktober di Jakarta. Konferensi ekonomi kreatif internasional yang memasuki penyelenggaraan kelima ini menargetkan penyusunan agenda bersama untuk memperkuat peran ekonomi kreatif dalam pembangunan global setelah periode Sustainable Development Goals (SDGs) berakhir pada 2030.
Menteri Ekonomi Kreatif sekaligus Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, mengatakan Indonesia memiliki rekam jejak dalam membangun WCCE sejak pertama kali digelar di Bali pada 2018. Konferensi itu berlanjut di Dubai pada 2021, kembali ke Bali pada 2022, dan berlangsung di Tashkent pada 2024.
“Indonesia kembali menjadi tuan rumah WCCE karena memiliki rekam jejak dalam menginisiasi dan mengembangkan forum internasional ini menjadi platform diplomasi ekonomi kreatif dunia,” kata Teuku Riefky. Menurut dia, konferensi ini akan mempertemukan pemerintah, pelaku industri, investor, akademisi, komunitas, media, dan mitra internasional.
Salah satu agenda utama WCCE 2026 adalah penyusunan Jakarta Vision on Creative Economy. Dokumen ini diharapkan menjadi landasan pengembangan ekonomi kreatif dunia setelah berakhirnya SDGs. Pembahasannya mencakup empat pilar: teknologi, kecerdasan artifisial dan transformasi digital; keberlanjutan, ekonomi sirkular dan desain regeneratif; kekayaan intelektual dan hak pekerja kreatif; serta inklusivitas, ekosistem kreatif dan pemberdayaan komunitas.
Teuku Riefky mengatakan dokumen tersebut perlu menghasilkan tindak lanjut yang nyata, bukan berhenti sebagai kesepakatan dalam konferensi. Agenda yang dituju meliputi penguatan jejaring internasional, peluang investasi, perluasan akses pasar, dan komersialisasi kekayaan intelektual milik pelaku ekonomi kreatif Indonesia.
Indonesia juga memiliki kepentingan diplomatik dalam penyelenggaraan WCCE. Selain menjadi penggagas forum tersebut, Indonesia berkontribusi dalam proses internasional yang melahirkan dua resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai ekonomi kreatif pada 2019 dan 2023.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyambut penyelenggaraan konferensi itu sebagai kesempatan memperkuat posisi Jakarta dalam jejaring kota kreatif dunia. Ia berharap kehadiran kepala daerah dari berbagai negara dapat membuka pertukaran pengalaman tentang pengembangan ekonomi kreatif di perkotaan.
“Ekonomi kreatif sudah menjadi engine of growth bagi sebuah kota,” ujar Pramono.
Jakarta dipilih sebagai lokasi konferensi karena dinilai memiliki ekosistem bisnis, budaya, komunitas, dan industri kreatif yang beragam. Konektivitas transportasi publik, termasuk MRT, LRT, TransJakarta, dan KRL, juga menjadi penunjang mobilitas peserta. Fasilitas pertemuan dan pameran berstandar internasional menjadi modal lain untuk penyelenggaraan forum tersebut.
Agenda utama WCCE berlangsung pada 21–23 Oktober, sementara rangkaian Creativillage dijadwalkan pada 21–25 Oktober. Kegiatan ini akan membuka ruang bagi masyarakat dan pelaku industri untuk mengenal serta mempromosikan produk dan karya kreatif Indonesia.
Lima hari menjelang konferensi, sebanyak 2.044 peserta dari 58 negara dan tujuh organisasi internasional telah mengonfirmasi kehadiran. Jumlah tersebut diperkirakan bertambah. WCCE 2026 mengusung tema “Inclusively Creative: Collective Continuity”, yang menekankan inklusivitas, kolaborasi, dan keberlanjutan.
Pemerintah menyatakan keberhasilan konferensi tidak cukup diukur dari kelancaran acara dan jumlah peserta. Kemitraan, peluang usaha, pertukaran pengetahuan, serta tindak lanjut kebijakan menjadi tolok ukur penting untuk menilai manfaat WCCE bagi perkembangan ekonomi kreatif Indonesia dan kerja sama internasional.





