Dekorasi antik diperkirakan semakin diminati dalam desain interior pada 2027. Furnitur lawas, keramik klasik, hingga cermin dengan permukaan yang menua menjadi pilihan untuk menghadirkan karakter dan sentuhan personal di dalam rumah.
Tren ini muncul di tengah meningkatnya minat terhadap ruang yang terasa lebih autentik, tidak seragam, dan memiliki cerita. Kelly Bartley, pendiri Kelly Bartley Interiors, menilai benda-benda antik menawarkan kesan sejarah yang sulit ditiru produk baru.
“Di era kecerdasan buatan ini, kita akan menginginkan lebih banyak benda di sekitar kita yang terasa telah melewati perjalanan waktu. Pada barang antik, itu berarti permukaan yang memudar dan usang,” ujar Bartley.
Sejumlah desainer interior memprediksi tujuh tren dekorasi antik berikut akan menonjol pada 2027.
1. Karya Seni Antik dengan Bingkai Ornamental
Dinding galeri diperkirakan semakin banyak dihiasi karya seni antik dengan bingkai berukir, berlapis emas, atau bercat klasik. Bingkai tidak lagi sekadar pelengkap, tetapi menjadi bagian dari karakter visual sebuah karya.
Shelby Van Daley dari Daley Home menyarankan pemilik rumah memilih karya seni berdasarkan sejarah dan karakter, bukan hanya karena warnanya cocok dengan interior.
Bingkai antik juga dapat digunakan untuk membingkai foto keluarga maupun karya seni kontemporer. Perpaduan tersebut menghadirkan kesan ruang yang terbentuk secara bertahap, bukan dibeli sekaligus dalam satu paket dekorasi.

2. Koleksi Keramik Lawas
Keramik antik menawarkan perpaduan antara nilai estetika dan fungsi. Pot tanah liat dengan glasir tidak merata, misalnya, dapat digunakan sebagai wadah peralatan dapur. Sementara itu, wadah keramik bertutup bisa menyimpan benda-benda kecil di ruang keluarga.
Sarah Fontanez dari Pomme House mengatakan keramik antik Prancis dapat memberikan kesan interior yang dikumpulkan dari berbagai tempat dan periode.
Benda serupa juga bisa ditemukan di toko barang bekas, pasar loak, hingga penjualan barang rumah tangga. Keramik bergaya 1970-an serta desain modern dari dekade 1980-an dan 1990-an menjadi alternatif bagi pencinta dekorasi lawas.

3. Kaca Dekoratif dengan Detail Klasik
Kaca berbingkai timah atau leaded glass diprediksi kembali populer pada 2027. Berbeda dari kaca patri yang identik dengan warna, teknik ini menggunakan bilah logam untuk menyatukan potongan-potongan kaca. Kacanya bisa bening tanpa warna.
John Maloney McNamara dari Coosa memperkirakan kaca jenis ini akan diminati karena mampu menciptakan pola melalui tekstur dan permainan cahaya.
Perpaduan kaca bening dengan kaca buram, misalnya, menghasilkan efek visual yang berubah mengikuti cahaya di dalam ruangan. Permukaan bergelombang atau bertekstur juga menambah dimensi tanpa harus mengandalkan warna mencolok.
Untuk menghadirkan sentuhan kaca dekoratif dalam interior, produk dari Aneka Karya Glass dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari eksplorasi desain berbasis kaca. Pemilihan jenis kaca, tekstur, dan pola dapat disesuaikan dengan konsep ruang untuk menciptakan tampilan yang klasik sekaligus modern.

4. Furnitur Kayu Berwarna Gelap
Meja makan, lemari, dan furnitur kayu antik berwarna gelap diperkirakan kembali mendapat tempat dalam desain interior. Serat kayu dan tanda pemakaian memberikan kesan hangat sekaligus memperkuat karakter ruang.
Jessica Hobson dari Jessica Hobson Design memprediksi meja makan antik berbahan kayu gelap akan menjadi salah satu pilihan pada 2027. Selain berfungsi sebagai tempat berkumpul, meja lama juga dapat menyimpan cerita dari generasi sebelumnya.
Furnitur antik juga bisa dialihfungsikan. Molly Torres Portnof dari DATE Interiors mencontohkan penggunaan lemari berlaci lawas sebagai meja wastafel di kamar mandi. Cara ini menghadirkan karakter klasik tanpa harus mengubah seluruh desain ruangan.

5. Furnitur Antik dengan Warna Permata
Furnitur kayu lawas tidak harus dipertahankan dalam warna aslinya. Pada 2027, desainer memperkirakan penggunaan warna-warna permata atau jewel tones akan semakin menonjol.
Terese Poulos, pendiri Relic Design, menilai furnitur antik yang dicat dengan warna berani dapat menjadi pusat perhatian dalam sebuah ruangan.
Warna seperti hijau zamrud, biru safir, merah delima, dan ungu amethyst dapat memberikan tampilan baru pada lemari atau meja lama. Pendekatan ini memadukan bentuk klasik dengan warna kontemporer, sekaligus memberi kesempatan untuk menggunakan kembali furnitur yang sudah ada.
6. Aksesori Antik Berukuran Kecil
Tidak semua dekorasi antik harus berupa meja besar, lemari, atau peti penyimpanan. Aksesori berukuran kecil justru diperkirakan semakin diminati karena lebih mudah ditemukan dan dapat disesuaikan dengan berbagai anggaran.
Courtney Klinger, pendiri Studio Whitford, mengatakan beberapa benda kecil dari toko barang bekas dapat memberikan karakter pada ruang ketika dipadukan dengan perabot modern.
Pilihan dekorasi ini mencakup tempat lilin, kotak penyimpanan, ornamen meja, hingga benda-benda koleksi dengan bentuk unik. Pemilik rumah dapat memadukannya secara bertahap tanpa harus mengganti seluruh furnitur.

7. Cermin Antik dengan Permukaan Alami
Cermin antik menjadi pilihan untuk menciptakan perpaduan antara interior modern dan klasik. Permukaan logam yang menua, kayu dengan serat alami, serta detail anyaman pada bingkai memberikan tekstur yang sulit direplikasi secara persis oleh produk baru.
Gina Elkins dari Studio Casa Vita menyebut cermin antik dapat menghadirkan karakter pada ruangan yang sebelumnya terasa baru dan seragam. Di kamar mandi, misalnya, cermin lawas dapat dipadukan dengan meja wastafel modern untuk menghasilkan kontras yang menarik.
Untuk melengkapi konsep tersebut, produk cermin dari Margo Glass dapat menjadi pilihan dalam penataan interior. Cermin dapat dimanfaatkan sebagai elemen dekoratif yang memperkuat karakter ruangan, sekaligus membantu memantulkan cahaya dan menciptakan kesan ruang yang lebih luas.
Perpaduan cermin dengan furnitur kayu, aksen logam, atau material bertekstur dapat menghadirkan kontras antara nuansa klasik dan modern.

Perpaduan Lama dan Baru
Ketujuh tren tersebut memperlihatkan kecenderungan desain interior yang mengutamakan karakter, cerita, dan penggunaan kembali benda lama. Barang antik tidak harus mendominasi seluruh ruangan. Satu cermin lawas, koleksi keramik, meja kayu bersejarah, atau elemen kaca dekoratif dapat menjadi aksen yang membedakan sebuah rumah dari interior yang seragam.
Meski diprediksi populer pada 2027, tren tersebut tetap bergantung pada selera dan kebutuhan penghuni. Kuncinya terletak pada pemilihan benda yang memiliki nilai personal serta perpaduan yang seimbang antara unsur klasik dan modern.





