• Inacraft News
  • Editor’s Note
  • Redaksi
  • Info Iklan
Inacraft News
Talam 2026
  • Home
  • Cover Story
  • Focus ASEPHI
  • Product
  • SMEs
  • Design
  • Art
  • Inspiration
  • e-Magazine
  • Warta Inacraft
  • More …
    • Figure
    • Celebrity
    • Travel
    • Fashion
    • Regional Report
    • Tech Craft
    • Finance & Banking
    • Business
    • Vacation
    • CSR
    • Review
    • Event
    • Agenda Asephi
    • How to Do
    • QUIZ
No Result
View All Result
  • Home
  • Cover Story
  • Focus ASEPHI
  • Product
  • SMEs
  • Design
  • Art
  • Inspiration
  • e-Magazine
  • Warta Inacraft
  • More …
    • Figure
    • Celebrity
    • Travel
    • Fashion
    • Regional Report
    • Tech Craft
    • Finance & Banking
    • Business
    • Vacation
    • CSR
    • Review
    • Event
    • Agenda Asephi
    • How to Do
    • QUIZ
No Result
View All Result
Inacraft News
No Result
View All Result
Home Headlines

Makin Cantik Batik Warna Alami

Eddy Purwanto by Eddy Purwanto
September 18, 2019
in Headlines, Product
0
Makin Cantik Batik Warna Alami
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Batik sebagai salah satu warisan budaya Indonesia terus berkembang, baik motifnya yang makin cantik maupun warnanya yang kian beragam. Masyarakat pecinta batik juga makin menyenangi batik yang menggunakan perwarna dari bahan alami.

Penggunaan pewarna alami dari bunga, daun dan akar tumbuhan untuk pewarnaan batik menjadi tren seiring gencarnya kampanye pelestarian lingkungan. Menurut Dheni Nugroho, pemilik galeri Guru Batik di Yogyakarta, pada tahun terakhir ini menjadi puncak popularitas pewarna alami. Produk batik dengan pewarna alami mulai banyak bermunculan dan berkembang di mana-mana.

Pewarna alami seperti daun indigofera, akar mengkudu, teger, tingi, tanjung dan lain-lain banyak digunakan untuk mempercantik tampilan produk kain batik. Menurut Dheni Nugroho, agar proses pengerjaan pewarnaan batik menjadi lebih cepat perlu dipilih penggunaan pasta atau serbuk dari berbagai bahan pewarna alami tersebut.

Penerapan penggunaan pewarna alami pada kain batik tidak mudah dilakukan, untuk mengunci warna supaya tidak mudah luntur perlu dilakukan proses pencelupan sebanyak delapan hingga dua belas kali. Prosesnya yang sedikit rumit dan memerlukan waktu yang lebih lama, membuat harga kain batik warna alami menjadi lebih mahal.

Menurut Nuri Ningsih Hidayati, pemilik Marenggo, popularitas batik warna alami memang meningkat tajam pada tahun terakhir ini. Hal ini menunjukkan perkembangan yang menggembirakan, di mana pasar sudah siap menerima produk batik yang ramah lingkungan.

Ciri khas batik warna alami adalah tampilan warnanya yang kalem dan lembut, warna yang disukai oleh kalangan tertentu. Pada saat ini, tren batik warna alami memang sedang “booming” di Indonesia. Sementara itu, harga pewarna alami lebih murah dibandingkan dengan pewarna kimia yang masih harus impor. Inilah yang menjadi alasan, mengapa sekarang banyak perajin batik yang memilih untuk memproduksi batik dengan pewarna alami.

Pewarna alami untuk bahan-bahan lokal, tidak perlu membeli karena bisa diperoleh dari kebun sekitar. Kalaupun harus membeli harganya relatif murah. Pewarna alam ini dibuat dari tumbuhan-tumbuhan, diantaranya daun mangga, kulit bawang, kulit manggis, serta bahan-bahan alami lain yang bisa diperoleh dari lingkungan sekitar.

Menurut Myra Widiono, Ketua Warlami, nenek moyang bangsa Indonesia sudah mengenal sekurangnya 75 jenis tumbuhan yang dapat dijadikan sebagai sumber pewarna alami yang digunakan untuk pewarna tekstil. Salah satu tanaman penting dalam dunia pewarnaan kain tradisional (wastra) Indonesia adalah Nila (Indigofera tinctoria L.), Tarum (Indigofera arecta L.), Rengat (Indigofera marsdenia L.) yang menghasilkan warna biru.

Selain itu, batik warna alami memiliki keunikan tersendiri karena tidak bisa mengeluarkan warna yang sama persis satu sama lain. Hal itu yang membuat sebuah batik dengan pewarna alami menjadi eksklusif di setiap lembarnya. Selain memberikan nuansa warna yang lebih natural, pembuatan batik warna alam juga membutuhkan proses yang lebih rumit dan waktu lama ketimbang batik dengan pewarna sintetis. (Ahmad Jauhari)

Tags: craftinacraftinacraft newskayukerajinanpengrajinprodukproduk kerajinanukmumkm
Previous Post

Pasar Eropa Tuntut Produk Ramah Lingkungan

Next Post

Batu Mulia Tentukan Nilai Perhiasan

Next Post
Batu Mulia Tentukan Nilai Perhiasan

Batu Mulia Tentukan Nilai Perhiasan

Please login to join discussion

E-Magazine Inacraft News

Warta Inacraft

INACRAFT NEWS

INACRAFT NEWS diterbitkan oleh Badan Pengurus Pusat Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (BPP ASEPHI)

Jl. Wijaya I No.3A, – Kebayoran Baru Jakarta Selatan 12170
Phone: (62 21) 725 2032, 725 2033, 725 2063
Fax.: (62 21) 725 2062
Email: redaksi@inacraftnews.com

Redaksi

  • Inacraft News
  • Editor’s Note
  • Redaksi
  • Info Iklan

Network

  • ASEPHI
  • Inacraft Award
  • Inacraft
  • Emerging Award
  • Inacraft News
  • Editor’s Note
  • Redaksi
  • Info Iklan

Inacraft News © 2023 ASEPHI - by Kolabo

No Result
View All Result
  • Home
  • Cover Story
  • Focus ASEPHI
  • Product
  • SMEs
  • Design
  • Art
  • Inspiration
  • e-Magazine
  • Warta Inacraft
  • More …
    • Figure
    • Celebrity
    • Travel
    • Fashion
    • Regional Report
    • Tech Craft
    • Finance & Banking
    • Business
    • Vacation
    • CSR
    • Review
    • Event
    • Agenda Asephi
    • How to Do
    • QUIZ

Inacraft News © 2023 ASEPHI - by Kolabo