Gagasan itu dihadirkan dalam pameran tunggal perdananya bertajuk Sebuah Rumah Masih Bisa Terbakar, Meskipun Anda Berada di Rumah 24/7, yang berlangsung pada 11–29 April 2026 di Studio 22, Grand Wijaya Centre, Blok G10, Lantai 2, Jakarta Selatan.
Pameran ini mengusung perspektif kehidupan yang bergerak di antara harapan, kecemasan, dan daya tahan manusia menghadapi situasi yang tak terduga. Bentuk-bentuk perabot rumah tangga dihadirkan sebagai citra visual yang merepresentasikan gagasan tentang rumah, terutama bagi perempuan, kerap dimaknai sebagai simbol rasa aman dan perlindungan.
Namun, dalam tafsir Ajeng, rumah itu dapat sewaktu-waktu “terbakar” dan kehilangan fungsi dasarnya sebagai tempat berlindung. Dari situ lahir pertanyaan mendasar: bertahan di dalam atau memilih keluar? Sebuah dilema yang, menurutnya, tidak mudah dijalani maupun dijawab.
Ajeng, lulusan Seni Rupa Institut Teknologi Bandung, dikenal sebagai perupa yang praktik seninya berakar pada pengalaman personal dan kepekaan terhadap peristiwa sehari-hari. Pengalaman tersebut ia terjemahkan ke dalam karya yang mengeksplorasi dimensi terapeutik dan reflektif seni.
Dalam pameran ini, ia menghadirkan karya dua dan tiga dimensi yang menelusuri memori, emosi, serta seluk-beluk kehidupan domestik. Melalui medium tersebut, Ajeng mengajak pengunjung memasuki ruang batin yang intim, tempat rumah tidak lagi sekadar bangunan fisik, melainkan simbol dari kondisi psikologis dan pengalaman hidup.
Ajeng sebelumnya meraih Penghargaan Kompetisi Lukis Terbaik UOB 2018 sebagai Juara Emas untuk kategori seniman mapan. Ia juga pernah meraih juara ketiga dalam Kompetisi Salihara Trimatra pada 2017.
Menurut Ajeng, konsep rumah yang ia bangun dalam pameran ini berangkat dari proses penciptaan yang menyerupai pembangunan sebuah hunian sejak awal.
“Dibangun dari batu bata sampai akhirnya rumah mempunyai bentuk, lalu terbakar oleh sebab yang tidak diketahui. Mau tidak mau, dijaga bagaimanapun, kita tidak pernah tahu kapan hal itu akan terjadi,” ujarnya kepada redaksi di sela pembukaan pameran.
Ia menjelaskan, karya-karya yang ditampilkan banyak menggunakan medium kertas dan cat air. Proses awal dimulai dari permainan warna yang kemudian berkembang menjadi garis-garis dan penggambaran objek realistik.
“Saya menggunakan kertas dengan watercolour. Pengerjaan awal berupa warna, lalu muncul garis, kemudian penggambaran objek realistik seperti gunting, pisau, kunci, dan peniti. Itu merupakan benda-benda yang sering kita temukan di dalam rumah,” kata Ajeng.
Studio 22 membuka pameran ini setiap Senin hingga Sabtu pukul 13.00–19.00 WIB. (FA)




