Desainer dan budayawan Anne Avantie menjadi narasumber utama dalam talkshow bertema “Ulos Berdaya, Berkarya Pasca Bencana” yang digelar dalam agenda Pameran INACRAFT 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta.
Dalam talkshow tersebut, Anne Avantie menegaskan pentingnya peran perempuan dalam membangkitkan industri kriya dan budaya, khususnya kain ulos, sebagai simbol ketahanan, kreativitas, dan harapan bagi masyarakat pasca bencana.
“Ulos bukan hanya kain adat, tetapi juga cerita tentang kekuatan, ketahanan, dan semangat untuk bangkit. Perempuan memiliki peran besar dalam menjaga dan menghidupkan nilai tersebut,” ujar Anne Avantie di hadapan para pengunjung pameran.
Ia mendorong agar ulos tidak hanya digunakan dalam acara seremonial adat, tetapi juga dikembangkan sebagai produk busana dan kriya modern yang relevan dengan kebutuhan pasar saat ini. Menurutnya, inovasi menjadi kunci agar ulos tetap berdaya sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi para perajin.
Anne Avantie juga menyampaikan dukungannya terhadap upaya pendaftaran ulos sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO, mengikuti jejak batik, kebaya, dan kolintang yang telah lebih dahulu memperoleh pengakuan dunia.
“Jika batik bisa menjadi busana sehari-hari dan kebanggaan nasional, maka ulos juga harus memiliki ruang yang sama untuk dikenal, dipakai, dan dibanggakan,” katanya.
Talkshow ini juga menjadi ruang apresiasi terhadap perajin ulos, khususnya perempuan di Sumatera Utara, yang dinilai memiliki peran penting dalam menjaga kelangsungan warisan budaya sekaligus menggerakkan pemulihan ekonomi pasca bencana.
Para pembicara dan perwakilan komunitas budaya turut menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat posisi ulos di tingkat nasional maupun internasional.
Acara ditutup dengan harapan agar ulos dapat segera memperoleh pengakuan UNESCO, semakin luas digunakan dalam kehidupan sehari-hari, serta menjadi simbol kebangkitan budaya dan ekonomi kreatif Indonesia. (





