Industri kriya dunia menunjukkan pertumbuhan positif dalam lima tahun terakhir, didorong meningkatnya minat masyarakat global terhadap produk handmade, material ramah lingkungan, dan karya yang memiliki nilai budaya. Laporan researchandmarkets.com menyebutkan bahwa nilai pasar kriya internasional diproyeksikan menembus US$62,61 miliar pada 2029, dengan segmen home décor, fashion accessories, dan eco-friendly craft menjadi tiga kategori yang mencatat pertumbuhan tertinggi.
Seiring meningkatnya permintaan, tren kriya global juga bergerak ke arah keberlanjutan, penggunaan bahan alami, serta desain yang merepresentasikan identitas lokal. Produk dengan sentuhan etnik modern, teknik handmade tradisional, serta narasi budaya yang kuat diprediksi akan tetap mendominasi pasar. Hal ini membuka ruang besar bagi pelaku kriya dari negara-negara dengan kekayaan budaya tinggi, termasuk Indonesia.
Di sisi regulasi, sejumlah negara tujuan ekspor menerapkan standar ketat terkait keamanan bahan, sustainability, dan traceability. Uni Eropa, misalnya, memperketat aturan Eco-Design for Sustainable Products Regulation (ESPR) serta Green Claims Directive, yang mewajibkan produk kriya berbahan kayu, pewarna, atau tekstil untuk memenuhi standar keberlanjutan dan transparansi rantai pasok. Sementara itu, Amerika Serikat memberlakukan regulasi keselamatan produk melalui Consumer Product Safety Commission (CPSC), termasuk batasan penggunaan bahan kimia dan pewarna berbahaya.
Meski regulasi semakin ketat, pasar kriya Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk memperluas ekspansi global. Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Ekraf) Irene Umar mengemukakan bahwa industri kriya Indonesia sudah naik kelas, sudah bergerak ke level internasional. “Kita tidak sekadar menjual kursi atau meja, tetapi menjual desain, fungsionalitas, dan storytelling yang memberi nilai tambah,” katanya
Produk kriya berbasis wastra seperti batik, tenun, dan eco-print, serta kerajinan kayu, rotan, bambu, dan perhiasan handmade mendapat permintaan tinggi di negara-negara seperti Jepang, Amerika Serikat, Jerman, Australia, dan negara-negara Timur Tengah. Karakter desain yang orisinal, ragam teknik tradisi, serta semakin kuatnya narasi craftsmanship membuat Indonesia memiliki daya saing yang unik dibandingkan negara produsen massal.
Pelaku industri menilai bahwa peluang ekspor akan semakin besar jika produk kriya Indonesia mampu menyesuaikan diri dengan standar internasional, memperkuat branding, serta meningkatkan kapasitas produksi. Pemerintah melalui berbagai kementerian juga mulai mendorong standarisasi, promosi luar negeri, dan kolaborasi dengan pasar global untuk memperkuat posisi kriya Indonesia di rantai industri craft dunia.





