Kementerian Perdagangan menggelar coaching clinic pengembangan usaha dan sesi pitching ekspor bagi pelaku usaha muda dalam rangkaian peluncuran Program Campuspreneur di Surakarta, Jawa Tengah, pada 1–2 April 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah mempercepat daya saing wirausaha nasional, terutama dari kalangan mahasiswa dan pelaku usaha pemula.
Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan Isy Karim mengatakan program tersebut dirancang untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional melalui pendampingan usaha yang lebih terarah.
“Kementerian Perdagangan Republik Indonesia berkomitmen penuh untuk terus memperkuat fondasi ekonomi nasional melalui pemberdayaan pelaku usaha di berbagai skala. Hari ini, kami kembali memfasilitasi para pelaku usaha melalui program coaching clinic dan sesi pitching di sela-sela peluncuran program Campuspreneur yang ditujukan kepada para wirausahawan muda,” kata Isy.
Selama dua hari pelaksanaan, kegiatan ini diikuti sekitar 150 peserta, baik secara luring maupun daring. Peserta terdiri atas pelaku usaha, mahasiswa, dan masyarakat umum yang berminat mengembangkan bisnis.
Dalam sesi coaching clinic, peserta mendapat konsultasi langsung terkait pengembangan usaha, mulai dari penguatan merek, desain kemasan, hingga aspek legalitas dan perizinan. Kemendag membuka dua jalur konsultasi, yakni perdagangan dalam negeri dan perdagangan luar negeri, dengan menghadirkan konsultan dari unit-unit teknis kementerian.
Menurut Isy, model konsultasi dibuat secara personal agar setiap usaha bisa dibedah sesuai kebutuhan.
“Di sini, kami memberikan konsultasi empat mata guna membedah kesiapan operasional setiap unit usaha. Fokus utama dari klinik ini di antaranya penguatan branding dan kemasan hingga perizinan berusaha,” ujarnya.
Salah satu peserta, Danang Priananto, pemilik usaha Deepcleane, mengaku memperoleh banyak masukan baru terkait kualitas produknya. Ia menyebut pembahasan teknis seperti penetapan produk dan pemilihan warna stiker menjadi hal yang sangat membantu.
Meski harus mengantre karena tingginya jumlah peserta, Danang menilai materi yang diberikan sangat relevan untuk pengembangan bisnisnya.
Selain klinik bisnis, Kemendag juga menggelar sesi pitching yang mempertemukan peserta dengan perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri. Dua narasumber yang hadir secara daring adalah Atase Perdagangan RI Canberra Agung Haris Setiawan dan Kepala Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Osaka Didit Akhdiyat Suryo.
Lewat sesi ini, peserta mendapat kesempatan mempresentasikan produk sekaligus berdiskusi langsung mengenai preferensi pasar global, standar kualitas ekspor, serta strategi harga yang kompetitif.
Isy mengatakan pendampingan tersebut diharapkan menjadi pintu masuk bagi produk inovatif anak muda untuk menembus pasar internasional.
“Dengan adanya pendampingan intensif ini, diharapkan produk-produk inovatif karya wirausahawan muda Indonesia tidak hanya mampu menembus pasar internasional, tetapi juga memiliki daya tahan dan keberlanjutan dalam menghadapi persaingan global yang makin ketat,” katanya.
Peserta lain, Mufti Muammarul Haq, Chief Financial Officer Tescopave, menilai sesi pitching sangat penting bagi pelaku usaha pemula yang ingin memperluas jaringan bisnis hingga ke pasar ekspor.
Menurut dia, forum ini membuka peluang kolaborasi baru, terutama untuk produk ramah lingkungan yang saat ini tengah berkembang.
“Semoga kegiatan serupa dapat dilaksanakan kembali di tahun-tahun mendatang agar kami dapat mengenalkan lebih luas lagi produk ini,” ujar Mufti.
Kepala ITPC Osaka Didit Akhdiyat Suryo mengapresiasi langkah Kemendag dalam memperkuat koneksi antara wirausaha kampus dan lembaga promosi dagang Indonesia di luar negeri.
Menurut Didit, antusiasme peserta menunjukkan semakin besarnya minat wirausaha muda untuk menjajaki pasar ekspor, khususnya Jepang.
“Pada kegiatan pitching ini, kami melihat antusiasme yang tinggi dari para peserta untuk memasuki pasar ekspor, khususnya Jepang, melalui produk-produk inovatif yang merepresentasikan karakter, kreativitas, dan potensi kewirausahaan kampus,” katanya.
Melalui program ini, pemerintah berharap kampus tidak hanya menjadi ruang pendidikan, tetapi juga menjadi inkubator lahirnya pelaku usaha baru yang siap bersaing di pasar global.





