Gelaran pameran yang memberi kenangan atas nama sahabat senimana belum lama ini ditampilkan dalam pameran berdua bertempat di Galeri Darmin Kopi, Jl Duren Tiga Raya No 47 Jakarta. Pameran ini menampilkan karya dua perupa, Chrysnanda Dwi Laksana dan almarhum Puguh Warudju, sebagai bentuk penghormatan atas kontribusi mereka dalam dunia seni rupa Indonesia.
Pameran berjudul “Sopo Siro Sopo Ingsun”: Renungan tentang Eksistensi dan Karya dalam Bingkai Kemerdekaan, tema pameran, “Sopo Siro Sopo Ingsun” (dalam bahasa Jawa berarti “Kamu Siapa, Aku Siapa”), mengajak pengunjung merenungkan identitas, makna hidup, dan warisan yang ditinggalkan melalui karya. Chrysnanda Dwi Laksana, salah satu seniman yang karyanya dipamerkan, menjelaskan bahwa tema ini merupakan kontemplasi tentang singkatnya kehidupan dan bagaimana manusia dikenang melalui karya mereka.
Kalimat ini menjadi tantangan batin, semacam pertanyaan eksistensial yang menyentuh inti identitas, kedudukan, dan kebenaran moral. Filosofinya mengajak kita mengenali siapa diri kita sebenarnya, bukan hanya nama atau gelar, tapi sejatinya jati diri itu, termasuk niat, moralitas, dan dharma kita. Dalam perwayangan, tokoh-tokoh besar seperti Arjuna, Bima, dan bahkan tokoh antagonis pun harus menghadapi pertanyaan ini, tentang siapakah mereka sebenarnya di hadapan tugas hidup mereka. Perupa Puguh Tjahjono (Drs.Msn.,Dosen Disain, Dalang) yang saya kenal, adalah seorang Muslim yang saleh. Ia kerap memasukkan simbol-simbol perwayangan, memainkan dalam lakon-lakon nya, termasuk memasukkan kedalam proses kreatif seni rupa nya. Puguh suka memainkan ornamen-ornamen hayalnya secara teramat detail, dengan warna yang pekat, bahkan tekstur, baik itu terjadi secara langsung, maupun yang direkayasa olehnya sebagai tuntutan estetikanya.
“Hidup itu singkat, tetapi karya bisa abadi. Melalui pameran ini, kami ingin mengajak semua orang merenung: apa yang sudah kita berikan untuk dunia?” ujar Chrysnanda.
Pameran ini merupakan tribute ini digelar mulai 16 Agustus hingga 31 Agustus 2025. Pameran ini juga menjadi momen penghormatan untuk Puguh Warudju seorang seniman, dosen, dan kurator yang meninggal dunia sebelum rencana pameran tunggalnya terwujud. Subandi Sarjoko, adik almarhum, menyampaikan bahwa Puguh tidak hanya meninggalkan karya, tetapi juga jejak persahabatan yang dalam.
“Sebelum meninggal, Mas Puguh sempat rasanan (bercerita) ingin mengadakan pameran tunggal. Hari ini, meski beliau sudah tiada, karyanya tetap hidup dan menginspirasi,” kata Subandi Sarjoko. (Agung Frigidanto)





