Sejumlah kebijakan terus dipersiapkan Pemerintah untuk memperkuat daya saing industri furnitur nasional agar mampu menembus pasar ekspor melalui diplomasi dan strategi perluasan pasar global. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan industri furnitur sebagai sektor hilir padat karya memberikan nilai tambah penting, dengan kontribusi 0,92 persen terhadap PDB nonmigas pada triwulan III-2025. Nilai ekspor furnitur hingga triwulan II-2025 mencapai USD0,92 miliar, naik dari USD0,91 miliar pada periode sama tahun sebelumnya, dengan Amerika Serikat tetap menjadi pasar terbesar sebesar 54,6 persen.
Industri kerajinan juga menunjukkan kinerja positif dengan nilai ekspor USD173,49 juta pada triwulan II-2025, tumbuh 9,11 persen secara tahunan. Agus menilai sektor furnitur dan kerajinan mampu menonjolkan kreativitas dan keunggulan bahan baku lokal yang menjadi daya tarik pasar global. Untuk itu, Kemenperin terus memperkuat kapasitas IKM agar mampu menembus pasar nontradisional di tengah gejolak ekonomi global.
Direktur Jenderal IKMA Kemenperin, Reni Yanita, menekankan perlunya strategi khusus untuk memperluas ekspor ke kawasan seperti Eropa Timur, Timur Tengah, Amerika Latin, India, dan Jepang. Ia mengingatkan bahwa pasar Eropa menerapkan persyaratan ketat terkait kualitas, keamanan, dan lingkungan. Tantangan juga datang dari kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat yang mulai 26 September 2025 mengenakan tarif 50 persen untuk lemari dapur dan meja rias, serta 30 persen untuk furnitur berlapis kain. Kebijakan ini memicu penundaan pesanan dan kenaikan biaya logistik bagi pelaku IKM.
Sebagai respons, Ditjen IKMA membuka peluang pasar alternatif melalui diplomasi dan penguatan kapasitas serta memberikan edukasi mengenai standar mutu, termasuk penggunaan bahan finishing ramah lingkungan. Negara seperti Jerman, Belanda, Kanada, dan Jepang menerapkan regulasi ketat terkait emisi VOC, standar formaldehida EPA, ECO Mark, dan sertifikasi DCL. Reni menegaskan pentingnya penguasaan teknik finishing berbasis air untuk memenuhi standar tersebut.
Plt. Direktur IKM Pangan, Furnitur, dan Bahan Bangunan, Yedi Sabaryadi, menambahkan bahwa Ditjen IKMA bekerja sama dengan PT Propan Raya untuk memberikan edukasi kualitas cat pada Pameran Mebel dan Kerajinan UMKM se-Jawa Timur di Surabaya, 13 November 2025. Ia menyebut kerja sama ini dapat meningkatkan kualitas produk sekaligus mendorong kemandirian industri. Selain edukasi, pemerintah menyediakan pelatihan SDM, pendampingan, sertifikasi, serta restrukturisasi mesin dengan cashback 25–40 persen bagi IKM.
Pemerintah juga menyediakan layanan teknis permesinan melalui DAK, serta fasilitasi sertifikasi TKDN secara gratis. Dukungan pembiayaan diberikan lewat Kredit Industri Padat Karya (KIPK) bekerja sama dengan Bank Himbara dan BPD, dengan subsidi bunga 5 persen dan plafon pembiayaan Rp500 juta hingga Rp10 miliar untuk industri furnitur dan sektor padat karya lainnya.





