Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyiapkan lima strategi untuk menjaga pertumbuhan sektor pariwisata di tengah dinamika geopolitik global yang mulai memengaruhi konektivitas dan mobilitas wisatawan internasional. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi potensi penurunan kunjungan wisatawan mancanegara dan devisa.
Dalam webinar nasional bertajuk Tourism Under Fire yang diselenggarakan Ikatan Alumni NHI Bandung, Senin (16/3), Widiyanti mengatakan situasi geopolitik global telah berdampak pada operasional maskapai, termasuk penyesuaian rute penerbangan jarak jauh serta kenaikan biaya perjalanan akibat lonjakan harga bahan bakar.
Menurut dia, kawasan Timur Tengah selama ini menjadi hub penting bagi perjalanan wisatawan dari Eropa dan Amerika menuju Indonesia. Ketegangan yang terjadi di kawasan tersebut berpotensi mengganggu arus perjalanan internasional.
Kementerian Pariwisata memperkirakan potensi dampak langsung terhadap kunjungan wisatawan mancanegara bisa mencapai 4.700 hingga 5.500 orang per hari. Jika berlanjut, potensi kehilangan devisa diperkirakan berkisar Rp157,9 miliar hingga Rp184,8 miliar per hari.
“Pariwisata Indonesia sebenarnya sedang berada pada momentum yang sangat baik,” kata Widiyanti. Ia mencatat pada 2025 jumlah kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 15,39 juta dengan devisa sebesar 18,27 miliar dolar AS. Meski kontribusi pasar Eropa, Timur Tengah, dan Amerika hanya 21,7 persen dari total kunjungan, kontribusi devisanya mencapai 34,7 persen.
Untuk merespons kondisi tersebut, Kemenpar menyiapkan lima langkah mitigasi. Pertama, diversifikasi pasar wisatawan dengan memperkuat promosi di kawasan Asia Tenggara, Asia Timur, Australia, dan India yang memiliki konektivitas lebih stabil.
Kedua, optimalisasi penerbangan langsung, termasuk rute Amsterdam–Jakarta dan Amsterdam–Denpasar yang dioperasikan Garuda Indonesia, guna menjaga arus wisatawan dari Eropa.
Ketiga, penguatan promosi digital berbasis data untuk menjangkau pasar potensial secara lebih tepat sasaran. Keempat, mendorong peningkatan wisatawan nusantara melalui kampanye berwisata di dalam negeri, terutama menjelang momentum libur Lebaran.
Kelima, penyelenggaraan berbagai event pariwisata di wilayah perbatasan untuk menjaga pergerakan ekonomi, termasuk memanfaatkan potensi kunjungan wisatawan dari negara tetangga seperti Singapura.
Widiyanti juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas kementerian dan lembaga, termasuk dengan Kementerian Perhubungan, Imigrasi, dan Kementerian Keuangan. Sejumlah opsi kebijakan tengah didorong, seperti peningkatan kapasitas penerbangan, keterjangkauan harga tiket, hingga kebijakan bebas visa bagi pasar potensial.
Di tengah tantangan tersebut, ia menyebut pasar Asia Timur menunjukkan tren positif. Sejumlah maskapai seperti China Airlines, Spring Airlines, dan China Southern berencana menambah frekuensi penerbangan serta membuka rute baru ke Jakarta dan Bali mulai Mei 2026.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan sektor pariwisata mencatat kinerja positif sepanjang 2025 dengan kontribusi terhadap produk domestik bruto mencapai Rp945,7 triliun atau 3,97 persen. Sektor ini juga menyerap sekitar 25,91 juta tenaga kerja.
Namun, menurut Airlangga, ketegangan geopolitik global menjadi tantangan serius yang perlu diantisipasi. Ia menilai Indonesia perlu segera melakukan langkah mitigasi untuk menjaga daya saing pariwisata.
“Indonesia perlu segera melakukan reformasi untuk mitigasi kerugian akibat krisis global dan membangun fondasi pariwisata yang tangguh,” ujar Airlangga.
Ia menambahkan, penguatan pasar domestik melalui micro tourism, pengembangan destinasi bagi digital nomad, serta promosi Indonesia sebagai destinasi berkualitas dengan harga kompetitif menjadi bagian dari strategi ke depan.
Pemerintah berharap melalui langkah-langkah tersebut, sektor pariwisata nasional tetap tumbuh berkelanjutan dan mampu menghadapi tekanan global.





