Kementerian Perindustrian terus mendorong penguatan daya saing industri kecil dan menengah (IKM), khususnya pada subsektor fesyen dan kriya, di tengah persaingan usaha yang semakin ketat. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui penguatan peran desain sebagai bagian dari strategi pengembangan produk.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan industri fesyen dan kriya memiliki rantai nilai yang panjang, mulai dari penyediaan bahan baku hingga distribusi produk. Rantai tersebut dinilai berperan penting dalam menciptakan nilai tambah serta meningkatkan daya saing di pasar global.
“Industri fesyen dan kriya tetap menjadi salah satu andalan dalam ekonomi kreatif Indonesia,” kata Agus dalam keterangannya, Jumat (20/3).
Data menunjukkan nilai ekspor industri kerajinan pada 2025 mencapai US$806,63 juta, sementara industri fesyen yang berkaitan dengan pakaian jadi mencapai US$8,85 miliar. Capaian tersebut menegaskan posisi strategis kedua subsektor tersebut dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif nasional.
Agus menilai pelaku IKM perlu terus mengembangkan keunggulan desain dan nilai tambah produk agar mampu mengikuti perkembangan tren pasar dan perubahan gaya hidup masyarakat. Ia menegaskan desain tidak lagi sekadar pelengkap, melainkan menjadi bagian penting dalam strategi bisnis.
Kementerian Perindustrian, melalui Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK), menggelar forum Design Talk di Badung, Bali, pada 6 Maret 2026. Kegiatan ini mengangkat tema penguatan daya saing industri kreatif melalui desain dan menjadi wadah diskusi antara pelaku usaha, akademisi, serta praktisi desain.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Reni Yanita mengatakan kegiatan tersebut diikuti 75 peserta yang berasal dari berbagai kalangan. BPIFK juga menggandeng Asosiasi Desainer Produk Industri Indonesia sebagai mitra strategis dalam memperkuat integrasi desain dalam pengembangan produk industri.
“Kami ingin mempertemukan perspektif industri, desainer, dan pelaku usaha dalam satu ruang diskusi yang terintegrasi,” ujar Reni.
Sementara itu, Kepala BPIFK Dickie Sulistya menilai peningkatan daya saing IKM tidak hanya bergantung pada kapasitas produksi, tetapi juga pada inovasi desain dan strategi pengembangan produk yang berkelanjutan.
Melalui berbagai program pembinaan tersebut, Kementerian Perindustrian berharap pelaku IKM fesyen dan kriya mampu menghasilkan produk yang inovatif, bernilai tambah tinggi, serta mampu bersaing di pasar global.





