Pameran terbaru yang digelar oleh Kotak Art Collective kali ini merekam proses artistik para seniman yang berangkat dari negasi material. Dalam ruang pamer yang terletak di Jl. Gunung Sahari II No. 12A, Lantai 4, Jakarta Pusat, wujud karya tidak lagi berdiri sendiri, melainkan membentuk formasi material yang saling terhubung. Melalui media patung dan instalasi, pameran ini menawarkan peluang pembacaan jangka panjang, di mana setiap karya menjadi jembatan bagi konektivitas pemikiran seni yang berkelanjutan.
Eksplorasi ini dapat dinikmati oleh publik selama dua bulan penuh, mulai dari 4 April hingga 6 Juni 2026. Tajuk “Volume Void” yang diusung merangkum keragaman material yang sangat kontras, mulai dari patung-patung berukuran mini hingga instalasi berskala raksasa (gigantic). Pameran ini menjadi titik temu bagi dua belas seniman lintas kota yang berasal dari Yogyakarta, Jakarta, dan Surabaya, yang masing-masing membawa karakter materialitas untuk menantang dominasi bentuk realistik yang konvensional.
Salah satu narasi kuat dalam pameran ini hadir dari pemikiran Lenny Ratnasari Weichert. Bagi Lenny, “membaca” gerak dan energi hewan melalui garis adalah bentuk pengetahuan visual tentang kehidupan. Melalui pesan pendeknya, ia menjelaskan bahwa karyanya berawal dari sketsa yang terinspirasi lukisan gua purba, mengubah jejak garis menjadi wujud patung. Figur Anoa dan babi kutil pun muncul sebagai memori yang melintasi waktu, bermigrasi dari dinding batu purba menuju ruang galeri modern.
Pada akhirnya, “Volume Void” bukan sekadar pameran benda mati. Ia adalah ruang di mana gambar menjadi alat berpikir, menangkap energi awal manusia dalam membaca alam. Interaksi subjek dengan ruang hidupnya disajikan melalui pola material yang kompleks, mengundang pengunjung untuk menyelami kembali hubungan antara manusia, memori, dan materi di tengah hiruk pikuk Jakarta Pusat. (FA)




