Program Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Berani Inovasi, Siap Adaptasi Ekspor (UMKM BISA Ekspor) yang digagas Kementerian Perdagangan mencatat capaian positif pada awal 2026. Sepanjang triwulan pertama tahun ini, total nilai transaksi program tersebut mencapai 23,60 juta dollar AS, dengan lonjakan signifikan terjadi pada Maret 2026.
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan, capaian itu menunjukkan efektivitas strategi pemerintah dalam memperluas akses pasar ekspor bagi UMKM nasional.
“Capaian UMKM BISA Ekspor pada Triwulan I-2026 ini menunjukkan pelaku UMKM kita memiliki daya saing yang semakin kuat di pasar internasional. Kemendag akan terus memperluas akses pasar, memperkuat promosi, serta memastikan UMKM mendapatkan pendampingan yang tepat agar mampu berkelanjutan di pasar ekspor,” ujar Budi dalam keterangannya.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (Ditjen PEN), nilai transaksi tersebut terdiri atas potensi transaksi melalui nota kesepahaman (MoU) sebesar 19,64 juta dollar AS dan pesanan pembelian (purchase order/PO) sebesar 3,96 juta dollar AS.
Selama periode Januari–Maret 2026, Ditjen PEN telah menyelenggarakan 170 kegiatan business matching yang melibatkan 396 UMKM, dengan total partisipasi mencapai 528 kali.
Program ini juga didukung oleh 25 lembaga pembina UMKM, antara lain Bank Indonesia, Japan External Trade Organization (JETRO), Indonesia Eximbank, serta sejumlah pemerintah daerah dan mitra pengembangan usaha.
Dari sisi pasar, program UMKM BISA Ekspor berhasil menjangkau pembeli dari berbagai negara, seperti Jepang, Jerman, Inggris, Belanda, Arab Saudi, dan Kanada.
Produk yang diminati pasar global cukup beragam, mulai dari olahan boga bahari dan perikanan, dekorasi rumah dan furnitur, produk kesehatan dan perawatan tubuh, rempah-rempah, makanan dan minuman, produk pertanian, fesyen, kosmetik, hingga produk berbahan plastik.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Fajarini Puntodewi mengatakan program ini dirancang sebagai ekosistem terintegrasi yang tidak hanya mempertemukan pelaku usaha dengan pembeli, tetapi juga memastikan kesiapan produk untuk pasar internasional.
“Kami tidak hanya mempertemukan UMKM dengan buyer, tetapi juga memastikan kesiapan produk, kualitas, dan kapasitas produksi agar mampu memenuhi permintaan pasar global secara konsisten,” kata Puntodewi.
Menurut dia, penguatan kurasi produk dan pendampingan produksi menjadi aspek penting agar UMKM tidak berhenti pada tahap penjajakan, tetapi mampu berlanjut hingga transaksi nyata dan ekspor berkelanjutan.
Salah satu pelaku usaha yang merasakan dampak program ini adalah PT Faber Instrument Indonesia. Perusahaan tersebut memproduksi radio dan speaker berbahan kayu yang kini mulai menembus pasar internasional.
Founder dan CEO perusahaan, Helmi Suana Permanahadi, mengatakan fasilitasi dari Kementerian Perdagangan membuka peluang lebih luas bagi produknya untuk dikenal di pasar global.
“Kami bangga dapat menjadi bagian dari program ini. Melalui fasilitasi yang diberikan, kami memperoleh peluang untuk berpartisipasi dalam Trade Expo Indonesia serta terhubung dengan berbagai kantor perwakilan perdagangan di luar negeri,” ujar Helmi.
Pemerintah berharap capaian pada triwulan pertama ini menjadi momentum bagi semakin banyak UMKM Indonesia untuk naik kelas dan memperkuat posisi di pasar ekspor.





