Kementerian Perdagangan kembali menurunkan Harga Patokan Ekspor (HPE) untuk komoditas pertambangan pada periode kedua April 2026. Koreksi terjadi pada konsentrat tembaga dan emas, seiring tekanan harga logam di pasar global akibat penguatan dolar Amerika Serikat dan masih tingginya suku bunga internasional.
Berdasarkan Keputusan Menteri Perdagangan Nomor 624 Tahun 2026, HPE konsentrat tembaga dengan kadar Cu ≥ 15 persen ditetapkan sebesar US$ 6.174,75 per Wet Metric Ton (WMT) untuk periode 15–30 April 2026. Angka ini turun 4,97 persen dibanding periode pertama April yang berada di level US$ 6.497,50 per WMT.
Penurunan juga terjadi pada komoditas emas. HPE emas terkoreksi menjadi US$ 147.550,12 per kilogram, dari sebelumnya US$ 157.267,62 per kilogram. Sementara Harga Referensi (HR) emas turun ke US$ 4.589,33 per troy ounce, dari US$ 4.891,57 per troy ounce pada periode sebelumnya.
Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag Tommy Andana mengatakan tekanan harga terutama dipicu penguatan dolar AS yang membuat komoditas logam menjadi kurang menarik bagi pasar internasional.
“Penurunan HPE konsentrat tembaga dipengaruhi penguatan dolar AS dan masih tingginya suku bunga global yang menekan permintaan komoditas,” kata Tommy.
Menurut dia, pasar tembaga juga tertekan oleh meningkatnya persediaan serta menurunnya impor dari Tiongkok, yang selama ini menjadi salah satu konsumen terbesar dunia. Kondisi tersebut mencerminkan tertahannya permintaan fisik di pasar global.
Selama periode pengumpulan data, harga tembaga tercatat turun 2,93 persen, emas 6,18 persen, dan perak 9,65 persen. Untuk logam mulia, pelemahan harga dinilai berkaitan erat dengan naiknya imbal hasil aset keuangan global.
“Penurunan harga emas dan perak terutama dipengaruhi penguatan dolar AS dan tingginya imbal hasil yang menekan daya tarik logam mulia sebagai aset tanpa imbal hasil,” ujar Tommy.
Penurunan harga perak yang terjadi pada awal April 2026 ini memberi sedikit ruang napas bagi industri kerajinan nasional, terutama subsektor perhiasan, home décor, dan kerajinan berbasis logam yang selama ini sangat sensitif terhadap fluktuasi bahan baku.
Penurunan harga perak ini relevan dengan usulan Ketua Umum ASEPHI Muchsin Ridjan yang pernah disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VII DPR beberapa waktu lalu, yakni perlunya intervensi kebijakan untuk menekan biaya produksi industri kriya dan kerajinan ekspor yang tengah tertekan kenaikan harga bahan baku serta serbuan produk impor.
Dalam konteks ini, turunnya harga perak berpotensi memperbaiki margin pelaku usaha, khususnya UMKM kerajinan perak di sentra seperti Kotagede, Celuk, dan sejumlah wilayah penghasil kriya logam.
Secara global, tren harga tembaga memang menunjukkan koreksi setelah sempat bergerak tinggi dalam beberapa bulan terakhir. Data pasar London Metal Exchange (LME) memperlihatkan volatilitas harga yang cukup tajam akibat perubahan stok dan sentimen permintaan industri dunia.
Penetapan HPE dan HR dilakukan berdasarkan masukan teknis dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, yang mengacu pada data London Metal Exchange (LME) untuk tembaga serta London Bullion Market Association (LBMA) untuk emas dan perak.
Kementerian menegaskan keputusan ini diambil melalui koordinasi lintas kementerian, melibatkan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Keuangan, Kementerian Perindustrian, dan Kementerian ESDM.





