Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar menilai kreativitas menjadi aset utama generasi muda di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Anak muda, kata dia, tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi harus mampu menciptakan nilai dari teknologi itu sendiri.
“Dunia ini adalah permainan di mana kita harus menjadi penciptanya, bukan sekadar pemainnya,” ujar Irene saat berbicara dalam forum Asia Pacific Young Leaders Convention ke-9 di BINUS School Serpong, Senin, 20 April 2026.
Menurut Irene, pemanfaatan AI perlu ditempatkan sebagai alat untuk memperkuat kapasitas manusia, bukan menggantikannya. Ia mendorong generasi muda untuk berani mengambil kendali, membangun jejaring, serta menghadirkan solusi nyata melalui pendekatan kreatif.
Forum yang mengusung tema “Root for Change: Feeding Minds, Healing Communities, Empowering Futures” itu diikuti pelajar sekolah menengah atas dari Indonesia, Jepang, Tiongkok, dan Singapura. Kegiatan tersebut menjadi ruang pertukaran gagasan, penguatan kepemimpinan, serta kolaborasi lintas budaya.
Irene mengatakan, pemerintah menempatkan sektor teknologi, e-sports, dan pendidikan sebagai pilar penting dalam pengembangan lapangan kerja masa depan. Melalui sinergi dengan industri dan institusi pendidikan, pemerintah berupaya memperkuat talenta lokal agar mampu bersaing di tingkat global.
Ia menekankan pentingnya menyediakan ruang bagi anak muda untuk mengimplementasikan ide. “Anak muda tidak hanya butuh didengar, mereka butuh platform agar solusi kreatif mereka bisa dijalankan,” kata Irene.
Kolaborasi antara Kementerian Ekonomi Kreatif dan BINUS School Serpong, menurut dia, menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem pendidikan yang mendukung lahirnya talenta kreatif. Pendekatan ini dinilai penting agar ide tidak berhenti sebagai wacana, melainkan berkembang menjadi inovasi yang berdampak.
Presiden BINUS School Education, Michael Wijaya Hadipospito, mengatakan kehadiran Irene memberi inspirasi bagi siswa. Ia menilai penguatan kreativitas dan inovasi digital menjadi bekal penting bagi generasi muda menghadapi dinamika ekonomi global.
Ajang APYLC juga melibatkan sejumlah sekolah dari luar negeri, seperti Changshu Lunhua Senior High School (Tiongkok), Kaichi High School (Jepang), dan Nan Chiau High School (Singapura). Interaksi lintas negara ini diharapkan memperluas perspektif sekaligus mendorong kolaborasi regional.
Pemerintah berharap momentum tersebut dapat mempercepat lahirnya generasi muda yang mampu mengintegrasikan teknologi dengan nilai kemanusiaan. Di tengah gelombang AI, kreativitas dinilai tetap menjadi pembeda utama sekaligus motor penggerak ekonomi kreatif nasional.





