Perayaan Hari Kartini tak lagi sekadar seremoni mengenang tokoh emansipasi. Di layar lebar, semangat Raden Ajeng Kartini justru menemukan bentuk baru melalui kisah perempuan yang berjuang menghadapi tekanan sosial, ketidakadilan, hingga pencarian jati diri.
Dalam beberapa tahun terakhir, film Indonesia menghadirkan karakter perempuan yang tak lagi menjadi pelengkap cerita. Mereka tampil sebagai pusat narasi, dengan konflik yang berlapis dan dekat dengan realitas. Dari isu pendidikan hingga kekerasan berbasis gender, film-film ini merekam perubahan cara pandang terhadap perempuan.
Berikut ini beberapa film layar lebar yang mengangkat tentang perjuangan perempuan:
1. Kartini (2017)
Salah satu yang paling langsung merujuk pada sejarah adalah Kartini (2017). Film ini menampilkan pergulatan Kartini muda dalam memperjuangkan hak perempuan melalui pendidikan dan tulisan. Sosok yang diperankan Dian Sastrowardoyo itu digambarkan tidak hanya teguh, tetapi juga rapuh dalam menghadapi batasan tradisi dan keluarga.

2. Gadis Kretek (2023)
Narasi perjuangan juga hadir dalam Gadis Kretek, adaptasi novel karya Ratih Kumala. Tokoh Dasiyah atau Jeng Yah menjadi simbol perempuan yang menembus dominasi laki-laki di industri kretek. Disutradarai Kamila Andini bersama Ifa Isfansyah, kisah ini juga menyingkap relasi kuasa, cinta, dan ambisi di tengah kultur patriarki yang kuat.
3. Women From Rote Island (2023)
Isu yang lebih keras diangkat dalam Women from Rote Island. Film ini mengisahkan perempuan korban kekerasan seksual yang harus menghadapi stigma sosial ketika kembali ke kampung halaman. Alih-alih mendapat dukungan, tokohnya justru berhadapan dengan budaya menyalahkan korban, sebuah realitas yang masih terjadi hingga kini.

4. Penyalin Cahaya (2021)
Sementara itu, Penyalin Cahaya menyoroti dunia kampus sebagai ruang yang tak sepenuhnya aman. Tokoh Sur berupaya mengungkap kebenaran setelah dirinya menjadi korban perundungan dan kehilangan hak pendidikan. Film ini memperlihatkan bagaimana relasi kuasa dapat membungkam korban, sekaligus menunjukkan upaya mencari keadilan melalui bukti dan jejak digital.

5. A Normal Woman (2025)
Potret perempuan kontemporer muncul dalam A Normal Woman. Tokoh Milla digambarkan hidup dalam kemewahan, namun diam-diam mempertanyakan identitas dan pilihan hidupnya. Film ini menyinggung tekanan standar sosial terhadap perempuan modern, isu yang kerap tak kasatmata, tetapi nyata dirasakan.

Deretan film tersebut menunjukkan bahwa perjuangan perempuan tidak pernah benar-benar usai. Ia berubah bentuk, dari perlawanan terhadap tradisi hingga pergulatan melawan ekspektasi sosial masa kini. Melalui layar lebar, semangat Kartini hidup kembali bukan sebagai nostalgia, melainkan refleksi atas realitas yang terus bergerak.





