Menteri Kebudayaan Fadli Zon menekankan pentingnya penguatan ekosistem pelestarian keris sebagai bagian dari warisan budaya dunia. Hal itu disampaikan saat meresmikan Solo Arts and Culture Exhibition di Museum Keris Nusantara, dalam rangkaian peringatan Hari Keris Nasional 2026.
Pameran bertema “Jaga Budaya” tersebut menampilkan beragam koleksi keris, karya seni rupa, serta pertunjukan budaya. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pelestarian tradisi sekaligus memperluas apresiasi publik terhadap nilai sejarah dan filosofi keris.
Menurut Fadli, keris bukan sekadar benda pusaka, melainkan representasi identitas budaya Indonesia yang telah diakui dunia. “Di dalam keris terdapat ekspresi budaya yang kaya, mulai dari makna simbolik hingga pencapaian artistik yang tinggi,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi keterlibatan berbagai kalangan dalam pameran tersebut, termasuk kolektor dari latar belakang nonbudaya seperti militer, kepolisian, dan sektor keuangan. Kolaborasi lintas sektor ini dinilai penting untuk memperkuat ekosistem kebudayaan secara berkelanjutan.
Fadli menilai Indonesia sebagai negara dengan kekayaan budaya yang sangat besar atau mega-diversity. Ia menyebut, sejarah panjang peradaban Nusantara harus menjadi fondasi identitas nasional. “Kita bukan sekadar nation state, tetapi juga civilizational state dengan warisan peradaban yang panjang,” kata dia.
Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani mengatakan Museum Keris Nusantara memiliki peran strategis sebagai pusat koleksi keris sekaligus ruang edukasi budaya. Ia menilai pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan penguatan ekonomi kreatif, termasuk melalui kolaborasi dengan sektor jasa keuangan.
“Pengembangan rencana bursa keris diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan perajin sekaligus menarik minat generasi muda,” ujar Astrid.
Dalam rangkaian acara, turut digelar sesi diskusi yang menghadirkan Staf Khusus Menteri Bidang Sejarah dan Pelindungan Warisan Budaya, Basuki Teguh Yuwono. Ia menekankan bahwa budaya keris tidak hanya berkaitan dengan masa lalu, tetapi membutuhkan pola pewarisan yang berkelanjutan.
Pameran ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, komunitas budaya, hingga sektor swasta. Sejumlah institusi seperti Sekretariat Nasional Perkerisan Indonesia dan Infobank Media Group turut berkontribusi dalam penyelenggaraan acara.
Ke depan, pemerintah berencana memperkuat ekosistem perkerisan melalui sejumlah langkah, antara lain pengembangan bursa keris, digitalisasi katalog, serta program edukasi dan sertifikasi. Upaya ini diharapkan dapat memastikan pelestarian budaya berjalan beriringan dengan peningkatan nilai ekonomi dan keterlibatan generasi muda.





